Astrid memandangi penampilannya di depan cermin besar. Halter dress biru tua dengan tambahan kain tulle di batas pinggang ke lutut, membalut rapi tubuhnya. Seorang pria yang menyebut dirinya kepala pelayan di tempat ini, Monroe, yang memberi pakaian itu beberapa menit lalu. Sebagai korban 'penculikan' tentu saja Astrid menolak permintaan pria itu, tapi melihat permohonan yang sangat berarti di kedua matanya membuat Astrid mau tidak mau menerima permohonannya.
Biasa sehari-hari memakai kaus dan celana, sebuah dress yang hari ini mengambil alih peran gaya kasual tersebut menciptakan rasa tidak nyaman. Kalau saja Astrid bisa memakai celana di balik dressnya, dia akan lakukan.
Setelah berdiri di depan cermin dengan ukiran rumit pada bingkainya dalam waktu lama, Astrid meninggalkan ruang ganti, yang langsung menyambung ke kamar mandi di belah depan kemudian ke kamar tidur di balik dinding besarnya. Astrid terperanjat mendapati Monroe berdiri di depan pintu. Ketika pandangannya beralih ke kasur king size, bocah lelaki yang seharusnya menunggu di sana, menghilang. Mata Astrid membulat sempurna, perlahan kedua alisnya bertaut sambil melempar tatapan tajam ke arah Monroe.
"Di mana dia!" Astrid berlari, mengentakkan kaki begitu kuat di atas lantai berkarpet beludru.
Monroe gelagapan, dia bergerak mundur hingga posisinya keluar ruangan. Namun rupanya, itu sebuah trik melindungi diri. Dua penjaga berbadan besar langsung menahan lengan kanan dan kiri Astrid. Orang yang ditahan terus melakukan gerakan liar supaya terlepas.
"Dia aman!" pekik Monroe.
Astrid bergeming, tapi wajahnya masih menunjukkan kemarahan. "Di mana dia! Aku ingin bertemu dengannya! Berani-beraninya kau melepaskan seorang bocah dari ibunya."
Monroe diam, memandang ketiga orang di hadapan bergantian. Tiba dia mengangkat dagu dan dua penjaga berbadan besar itu menggiring Astrid dari depan pintu. Astrid memberontak lagi, semakin panas dan sakit kedua lengannya akibat dicengkeram si penjaga. Mereka mengekori Monroe yang langkahnya ke arah luar bangunan besar ini. Berontakan wanita di genggaman yang tidak kunjung berhenti menjadi tontonan penjaga-penjaga lain ketika mereka berada di luar. Terlebih ada dress yang membalut tubuh si wanita membuat mereka bertanya-tanya di mana sisi femininnya.
Tibalah mereka di tujuan, di halaman belakang yang sangat luas. Terdapat kolam renang besar di tengahnya dengan kursi-kursi panjang beralas--biasa dipakai orang bersantai--di tepi-tepinya, lalu di pojok halaman ada gazebo besar yang di dalamnya terdapat sofa dan meja. Tempat ini terbilang aman dari pengawasan ketat penjaga.
Selepas dari pemandangan benda mati, ada pemandangan benda hidup yang menarik perhatian Astrid--satu dari enam kursi panjang ditempati seseorang. Dia tengah tiduran dengan majalah yang menghalangi wajah. Ada seorang wanita di belakang, terlihat seperti pelayan, menunggu untuk melayani. Tidak lama berselang, sosok yang dicemaskan Astrid menunjukkan batang hidung.
Sammy berjalan beriringan bersama seorang remaja lelaki--yang bahkan Astrid tidak sadar arah datangnya dari mana. Sama seperti dirinya, bocah lelaki itu sudah berganti pakaian. Kedua lelaki itu berjalan ke arah sosok di balik majalah. Langsung saja Astrid melepaskan diri di saat pegangan kedua penjaga melemah.
"Sammy!" panggil Astrid kencang, sampai suaranya hampir melengking.
Bocah yang dipanggil respons menoleh, matanya menangkap sosok wanita yang tengah berlari di tengah tiupan angin. Entah perasaan atau tidak, tapi saat Astrid mengejar Sammy angin tiba-tiba bertiup cukup kencang hingga menerbangkan rambut dan dressnya begitu liar.
Alih-alih mendekati, larinya Astrid malah menjauhkan bocah lelaki itu dari ibunya. Si remaja lelaki yang sengaja menjauhkannya.
"Tunggu!" Sosok di balik majalah bersuara, sebelah tangannya diangkat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Denouement
ActionSuatu pagi, si tetangga bercerita kepada Celsea bahwa dia mempunyai sahabat pena dari Korea. Hal itu membuat Celsea penasaran seperti apa rasanya memiliki sahabat pena sehingga mencobalah dirinya membuat surat untuk seseorang yang didapatkannya dari...
