Bab 30

52 25 29
                                        

Sementara itu ....
"Hati-hati Lanford, empat meter ke depan banyak sekali penjaga berkeliaran. Kusarankan, HRT bergerak lebih dulu."

"Baiklah," sahut Gerry.

Pria pirang itu bersama HRT kini sudah tiba di lantai empat, di mana satu tangga lagi mereka akan tiba di loteng. Seperti yang Miley katakan, di koridor menuju tangga loteng ada banyak penjaga. Ya, tidak aneh. Quirin pasti sungguh-sungguh mengunci wanita itu.

Di ujung jalan, HRT berjalan mendahului Gerry. Dua di paling depan mengambil posisi setengah berlutut, masing-masing mengambil granat asap dari pinggang. Granat itu kemudian dilempar, beberapa detik setelahnya menciptakan ledakan dan asap langsung memenuhi koridor. Terdengar seruan juga umpatan dari mulut penjaga-penjaga di sana, dengan cepat dua anggota HRT di paling depan itu melepaskan tembakan. Barulah setelah itu anggota lain di belakang, maju.

Baku tembak hanya terjadi sebentar karena pandangan yang sudah tertutup asap tebal. HRT disusul Gerry di belakangnya bergegas bergerak melumpuhkan para penjaga di tengah kepulan asap. Lima menit asap menutupi pandangan sebelum benar-benar hilang. Dalam waktu lima menit itu pula Gerry berhasil menaiki tangga menuju loteng.

"Tidak sulit sebenarnya melawan penjaga-penjaga tanpa pelatihan khusus itu, tidak peduli berapa jumlahnya."

"Tetap saja kalau kau sendiri, kau akan kalah," elak Gerry.

"Hm, benarkah? Kurasa kau sudah lupa apa saja yang sudah kau selesaikan terhadap orang-orang itu beberapa hari lalu."

Gerry tidak menjawab, dia menjawabnya dengan senyuman saja. Tanpa dia tahu, Miley di seberang juga tersenyum jahil.

Kembali ke misi. Sebelum melangkah lebih lanjut, Gerry memperhatikan betapa tingginya loteng tersebut; mengarah ke atas dan udaranya sangat dingin. Satu-satunya yang menjadi penerang adalah sorot sinar matahari yang masuk melalui atap loteng yang bolong. Itu pun, cahayanya tidak cukup menyinari sampai bagian terbawah loteng.

Gerry dan HRT bergerak lagi, dengan HRT yang masih memimpin di depan untuk mencegah kemungkinan jebakan. Tangga-tangga yang menciptakan suara reyot ketika dipijak membuat mereka waspada karena takut seakan-akan tangga tersebut roboh. Untung saja, tiga anggota HRT memilih berjaga di bawah, sementara yang ikut Gerry hanya dua orang. Jadi, beban di atas tangga tidak terlalu dikhawatirkan.

"Lanford, waspadalah!"

"Ada apa?" sahutnya.

Belum sempat mendengar jawaban dari seberang, Gerry teralihkan lebih dulu oleh sesuatu di depannya. Seorang wanita tiba-tiba saja muncul di tengahnya dan dua anggota HRT di depan. Wanita itu diketahui mendarat setelah menjatuhkan diri dari atas, ketika kedua kaki berpijak di tangga dia menendang dada Gerry sangat keras, membuat pria pirang itu terjungkal ke belakang. Tangan kanannya yang memegang alat kejut, menyetrum seorang HRT ke arah tengkuk, sementara tangan kirinya yang memegang pisau mencekik anggota HRT satunya dari belakang.

"Tidak ada yang boleh mendekati wanita itu."

Dia menarik tangan kanan, seketika anggota HRT yang disetrumnya ambruk. Sementara itu, tangan kirinya bergerak menggores leher anggota satunya. Dia menarik sudut bibir, didorongnya pria itu melewati railing tangga hingga tubuhnya terjun jatuh ke bawah. Bunyi gedebuk terdengar, setelah itu disusul seruan-seruan dari mulut rekan lainnya. Wanita itu tahu anggota HRT yang lain pasti menyusul, maka dia menarik granat berbentuk silindris dari pinggang lalu dilempar ke bawah. Membentur sesuatu di bawah sana, granat itu meledak dan menciptakan asap. Seruan itu tidak terdengar lagi.

"Beraninya kau."

"Oh, halo!"

Wanita itu memutar tubuh hingga posisinya menghadap tangga turun. Topeng ramahnya terpasang ketika Gerry berdiri di bawah sana dengan tatapan ingin menghabisi.

DenouementTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang