Bibir mengerucut dengan kedua sudut yang ditarik ke bawah, dahi berkerut hingga menyatukan kedua alis, dan tatapan horor yang terpancar dari mata beriris hijau; melihat tampilan baru rambutnya. Tidak ada lagi warna pirang, menyisakan coklat saja yang sebagiannya dari faktor gen sang ibu. Panjang yang semula melewati bahu, kini sebatas leher saja. Si penyalon memutar kursi gadis pelanggannya yang masih dibalut kep, pria jangkung yang tengah membaca majalah tersenyum tatkala si gadis menatapnya tajam.
"Sempurna," puji Gerry.
Wanita penyalon itu membuka kep yang menutupi tubuh Celsea. "Selesai. Silakan untuk pembayaran ke kassa."
Celsea mengempaskan diri ke kursi mobil, mendengus kencang sambil menyilangkan tangan di dada. Dirinya benar-benar marah karena sesuatu yang menjadi simbol kecantikan fisiknya kini hilang, hanya karena sebuah misi. Celsea membuang muka ketika Gerry masuk ke dalam. Perjalanan berlanjut, tidak ada yang diperbincangkan lagi. Mobil putih itu mengambil jalur yang sama untuk kembali ke hotel. Padahal, kalau pemotongan rambut tidak termasuk pengejaran seperti saat ini, sudah pasti Celsea akan meminta Gerry untuk berkeliling di St. Louis.
Seperti perjalanan dari Rolla ke St. Louis, Celsea menikmati pemandangan luar. Waktu menuju jam istirahat siang, kendaraan mulai meramaikan jalanan. Ketika mata gadis itu berkelana melihat-lihat bangunan di pinggir jalan, terbesit rasa rindu pada teman-temannya di Branson. Ah, aku merindukan Sharon. Bagaimana kabar dia saat ini, ya? batinnya.
Jarak antara salon dengan hotel tidaklah jauh, memakan waktu lima menit saja sudah sampai lagi di lokasi.
"Aku sudah membawa kopernya." Ucapan Celsea menghentikan gerak Gerry yang hendak membuka pintu. "Sekadar memberi tahu."
Pria itu diam, lalu mengangguk. "Terima kasih."
Gerry turun, sedikit membanting pintu, membuat gadis di dalam berdecak sambil memutar bola mata. Dia menangkap dari sudut mata ketika Gerry membuka pintu belakang, koper yang dimaksud diambilnya. Barulah Celsea bergerak turun setelah pintu ditutup kembali. Gadis itu menggeleng pasrah melihat langkah Gerry yang bisa dibilang sudah jauh. Terpaksa dia berlari, padahal kakinya sedang malas diajak bergerak cepat.
Di lobi, banyak sekali orang tengah menunggu dan kebanyakan dari mereka berjenis kelamin pria. Adapun wanita yang berdiri di depan bagian reservasi hanya berjumlah dua orang. Semua tampak biasa sampai ketika Gerry menangkap pandangan penuh selidik dari seseorang yang sedang memegang majalah. Karena itu, dia mengarahkan telunjuknya ke dua tombol nomor setiba di dalam lift.
"Kenapa kau menekan lantai tiga juga?" tanya Celsea.
"Orang-orang di lobi," Gerry menghela napas, "kurasa mereka."
"Para pengincar? Mereka di sini?" Suara Celsea berubah pelan, terselip rasa takut di nadanya. "Bagaimana mereka tahu kita di sini? Jika itu karena ponselku, hancurkan saja. Kumohon!"
Gerry berbalik, menatap gadis yang tengah berdiri ketakutan. Dia mengusap lembut kedua pundaknya. "Aku akan turun di lantai tiga, kau di lantai empat. Aku akan lewat tangga dan melihat keadaan, jika aman, kupersilakan kau untuk keluar dari sini. Paham?"
Gadis itu mengangguk cepat. Denting menyahut, pintu terbuka, segera Gerry keluar dan berlari ke tangga sebelah kanan lift. Pintu tertutup kembali, jantung Celsea berdetak cepat seiring katrol yang menarik lift naik, mata hijaunya tidak lepas dari layar angka di atas pintu.
Tiba di lantai empat Gerry memelankan langkah, merapatkan punggung ke dinding, dan diam sejenak. Setelah itu dia menggerakkan kepala, mengintip lorong sebelah kiri. Tidak ada siapapun di sana. Tidak lama di belakangnya lift terbuka dan seorang gadis langsung berlari keluar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Denouement
ActionSuatu pagi, si tetangga bercerita kepada Celsea bahwa dia mempunyai sahabat pena dari Korea. Hal itu membuat Celsea penasaran seperti apa rasanya memiliki sahabat pena sehingga mencobalah dirinya membuat surat untuk seseorang yang didapatkannya dari...
