Epilog

82 24 54
                                        

Celsea's PoV
Semua terasa lain. Aku menjadi pusat perhatian di sekolah sejak peristiwa itu. Ya, tanpa sepengetahuanku sebenarnya banyak sekali berita yang memampang wajahku bersama Gerry. Maksudku, ayah. Teman-teman terkejut mengetahui bahwa aku mempunyai seorang ayah. Sebab selama ini, yang mereka tahu aku hanya tinggal bersama ibu dan adik.

Tidak cuma itu. Karena peristiwa itu, aku jadi banyak ditanya ini dan itu. Semua orang di sekolah benar-benar kepo dengan apa yang kualami. Siswa yang tidak pernah punya koneksi denganku, mereka tiba-tiba saja tahu dan kenal aku. Aku pusing, aku tidak tahu harus menjawab apa pertanyaan mereka. Aku takut kalau aku menceritakan semua, ternyata ada hal yang bersifat rahasia. Aku takut kalau aku menceritakan semua, ternyata memberi fakta dari apa yang berita ucapkan dan tulis. Guru pun sama saja, sampai aku dipanggil ke konseling.

Sejujurnya, aku masih syok harus pergi sekolah. Selain faktor luar seperti serangan pertanyaan dan tatapan warga sekolah atau situasi itu sendiri, ada faktor dari diri sendiri. Aku tidak tahu apa itu, tapi rasanya tidak enak saja, tidak membuatku semangat bersekolah. Padahal, aku sudah diberi waktu satu minggu untuk tidak dulu masuk sekolah. Ditambah satu minggu masa-masa sulit. Jadi dua minggu aku tidak sekolah, seharusnya lumayan bukan untuk menenangkan diri.

"Hai!" Tepukan mendarat di pundakku setelahnya.

Aku menoleh, mendapati gadis berambut hitam sedang tersenyum lebar. "Oh, hai, Sharon."

"Tenang, aku tidak seperti yang lain. Ya, meskipun aku juga benar-benar ingin tahu apa yang terjadi denganmu. Soalnya, di berita tidak diberitakan dengan jelas masalah apa yang menimpamu," tutur Sharon.

Jadi, benar. Permasalahan ini tidak diketahui orang awam. Duh, aku sudah terlibat masalah apa, ya? Dari surat doang, bisa bikin heboh pemerintahan. Bahkan, sejagat raya Amerika?

"Maaf, Sharon. Aku sudah dijemput." Aku mengalihkan topik.

Tampak sekali kekecewaan di wajah gadis itu. Aku tahu pasti Sharon ingin berbincang lebih lama denganku. Tentu saja! Dua minggu dia tidak bertemu teman dekatnya. Atau sebenarnya, mau menerorku? Sudahlah, diriku saat ini benar-benar ingin menghindari banyak orang. Aku ingin cepat pulang ke rumah, berbaring di kasur.

"Baiklah, tidak masalah. Aku mengerti." Sharon tersenyum tulus. "Hati-hati di jalan!"

「▪」

Masalah sekolah perlahan teratasi. Orang-orang di sana sudah tidak kepo dengan apa yang menimpaku. Kini, semua itu hanya angin berlalu. Aku merasa berita itu sudah tidak hangat lagi untuk diperbincangkan.

Sekarang, waktunya kembali ke rumah di Branson. Mengambil beberapa barang penting di sana. Jujur, aku sangat enggan kembali ke sana. Benar-benar mimpi buruk rasanya jika aku kembali ke sana. Namun, apa boleh buat semua karena tuntutan ibu. Dan pastinya, tuntutan keadaan juga.

Keluar dari mobil, aku melihat seorang gadis sedang duduk di kursi depan rumahnya. Aku tahu siapa gadis itu, tapi aku memilih untuk pura-pura tidak tahu saja. Aku sedang malas sekali untuk bertegur sapa. Namun, sial. Gadis itu menyadari kedatanganku. Oh, tentu saja. Mobilku dengan jelas berhenti di seberangnya.

"Celsea!"

"Hai, Jessica."

Jessica langsung memelukku. Wah, rasanya akhir-akhir ini aku menerima banyak sekali pelukan. Aku melepas diri dari pelukan, menatap Jessica.

"Jadi, itu ayahmu? Pria yang pernah kita lihat bersama di televisi?" tanya Jessica.

Aku tersenyum kecut. "Ya, dan kau menggodaku. Menggoda dia juga."

DenouementTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang