Bab 15

55 33 68
                                        

Perut Celsea sudah keroncongan lagi. Dia ingin sekali membawa motornya berhenti di kedai makan, masa bodoh jika satu motor penjahat tersisa itu mengikuti. Lagi pula, posisinya kini sudah di luar negara bagian Missouri dan Celsea yakin pengincar tersisa itu tidak akan mengejar lagi.

Kembali ke awal. Celsea butuh makan. Saking lapar, pegangan pada setang motor mulai melemah, bahkan jari-jarinya tanpa dirasa sudah gemetaran. Kalau dibiarkan seperti ini, lama-lama tubuh Celsea bisa terkulai lemas atau mungkin pingsan di atas motor. Ini pun, kalau tidak ditahan sekarang kakinya sudah turun dari pijakan.

Menjawab perasaan Celsea, kedua tangan Gerry menahannya tetap di setang. "Kau lemas sekali, lapar?"

"Ya ...." Celsea menjatuhkan kepala ke depan, menuntut kaki Gerry turun menjaga keseimbangan. "Aku ingin makan, Yah."

Gerry langsung merasakan tubuhnya bak disengat listrik tatkala mendengar gadis itu mengakhiri ucapannya dengan kata yah. Mungkin inilah yang dikatakan orang--rasanya ngefly selepas gebetan menyatakan cinta pada kita, dan ya--Gerry merasakan hal itu. Namun, di sisi lain hatinya berseru untuk tidak bergembira dulu. Barangkali Celsea mengigau karena lapar yang tidak dapat ditahan.

Gerry membelokkan motor, tanpa sadar sejak omongan gadis itu dia senyam-senyum. Hingga tibalah mereka di sebuah kedai makan. Tempatnya tidak besar, hanya dua mobil yang datang ke tempat parkirnya, dan yang membuat Celsea seketika hilang nafsu makan setelah mengangkat kepala; kebersihan di luar kedai yang tidak menjamin. Bulu kuduk Celsea berdiri ketika Gerry membawa motornya ke sana. Buru-buru gadis itu menarik rem, yang mengakibatkan sentakan terjadi lagi.

"Apa yang kau lakukan!" Gerry benar-benar marah mendapati dirinya hampir terjengkang.

Celsea menahan napas, dia baru saja melakukan hal bodoh; langsung menarik rem pada motor berkopling. Efek tidak fokus, sepertinya.

"Aku tidak mau makan di sini," tolak Celsea.

"Kau harus makan. Tidak sadar tubuhmu sudah lemas begitu?" tanya Gerry, masih kesal.

"Ya, tapi tidak mau di sini!" Celsea bersikeras.

"Kenapa tidak mau? Aku sudah mencari kedai makan terdekat supaya kau tidak menahan lapar," ucap Gerry.

"Kau tidak lihat? Tempatnya seperti itu, aku tidak mau makan di tempat yang berpotensi penyakit. Aku bisa carikan tempat yang lebih baik, yang mungkin rasa makanannya juga enak. Selagi belum mendapat tempat yang ok, aku bisa menahan lapar," cerocos Celsea.

Gerry mendengus. "Kata siapa, Nak? Jangan lihat dari penampilan luarnya saja. Lagipula, kau tidak punya apa-apa lagi untuk menjelajahi dunia internet. Ingat kalau ponselmu--"

"Aku ingat," potong Celsea ketus.

Gadis itu mengatup bibir, akhirnya membuang napas setelah memikirkan banyak pertimbangan. Betul kata pria itu, dirinya terlalu sering menilai dari luar tanpa tahu bagaimana dalamnya. Batinnya juga telah setuju untuk singgah ke sana, daripada kelaparan juga bukan?

Gerry masuk kedai lebih dulu. Dari pintu semua tampak gelap, entah karena habis dari luar dan berlama-lama di bawah terik matahari atau memang tempatnya gelap. Gerry mengambil meja dengan posisi agak di tengah, Celsea menyusulnya sambil melihat orang-orang di dua meja berlainan. Orang asing itu membuat Celsea paranoid. Melihat situasi seperti saat ini, dia tidak lagi bisa membedakan mana orang yang baik atau jahat. Gerry hendak duduk di kursi yang memunggungi orang asing itu, Celsea langsung menahannya.

"Aku mau di sini," bisik Celsea sambil mencengkeram lengan pria itu.

Gerry terkejut, setelah itu matanya melirik orang-orang di dua meja lain yang sedang melihat dengan aneh. "Baiklah."

DenouementTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang