27. She's Gone (2)

151 67 10
                                        

"APA SALAH GUE?!" akhirnya emosi yang sudah ditahan-tahan meledak juga

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"APA SALAH GUE?!" akhirnya emosi yang sudah ditahan-tahan meledak juga. Ia tidak bisa membiarkan dirinya terus mendapatkan tamparan keras pada kedua pipinya secara bergantian. Perih, panas, dan banyak lagi. 

"Salah lo?" tanya orang yang sedari tadi menghujani Natcha dengan tamparan. "BANYAK!!" teriaknya kencang. Bukan si lelaki bertopeng anonymous, melainkan seorang gadis yang tidak pernah ia sangka.

Natcha menatap gadis itu sengit. Air mata yang tanpa diminta tiba-tiba keluar. Menimbulkan rasa perih pada kedua pipinya semakin menjadi.

"Apa?" tanya gadis itu. Ingin sekali ia menyeka air matanya. Kalau saja kedua tangannya tidak diikat ke belakang.

"JUSTIN!!" teriaknya memenuhi ruangan gelap dan terasa pengap ini. Natcha menautkan alis bingung. Apa yang pernah diperbuat tunangannya sampai-sampai membuat gadis ini begitu marah? Dan perlu kalian ketahui Justin bukan lelaki brengsek yang akan melukai perempuan, kecuali sudah melampaui batas.

Gadis itu mencengkeram kedua pipi Natcha dan mendongakkan kepalanya paksa. Manik biru beningnya menatap tajam manik coklat Natcha.

"BERAPA KALI DIA BIKIN GUE MALU DI DEPAN ORANG BANYAK?? SERING, NAT. HARGA DIRI GUE HANCUR SAAT ITU!!"

Aarrrggghhh sungguh, Natcha tidak mengerti dengan apa yang diucapkannya. Hatinya terus membantah bahwa Justin pernah melecehkan gadis lain. Tidak pernah. Lelaki itu sangat menghargai perempuan, menurut Natcha.

PLAK

Suara nyaring dari tamparan yang entah sudah keberapa kalinya. Gadis itu merogoh sesuatu dari dalam saku jaket hitam yang ia kenakan.

Astaga! Jangan bilang dia akan menghabisi nyawa Natcha?! Ya, gadis itu mengeluarkan sebuah pisau lipat berwarna silver. Seringaian mematikan tertera jelas pada permukaan bibirnya.

Srett...

"Aaawwwssshh..." Natcha merintih kesakitan. Kulit putihnya telah dirobek menggunakan pisau tajam itu. Darah segar mengalir dari tangan kanannya. "SAKIT ANJING!"

"Ouh sakit ya? Mau lagi?"

Belum sempat Natcha menjawab, sayatan kedua sudah ia dapatkan. Kini, pipi kirinya yang menjadi incaran. Ayolah sakit karena banyaknya tamparan tadi saja belum sepenuhnya menghilang. Sekarang ditambah dengan sakit yang berdarah ini?

Srett...

Natcha ingin menghentikan tangisnya. Air mata yang jatuh hanya menambah perih saja begitu melewati luka sayatan itu.

"HAHAHA..." tawa gadis itu menggelegar. Natcha terus mengucapkan sumpah serapah dalam hatinya. Kalau ingin membunuhnya, kenapa tidak langsung saja? Jangan mempermainkan dengan berbagai luka yang ia buat. Hanya menambah penyiksaan.

"Sekali lagi."

PLAK

Tangis Natcha pecah saat itu juga. Gadis itu melangkahkan kaki entah kemana. Meninggalkan Natcha yang kini tengah menengadahkan kepala seolah berdoa pada Sang Kuasa. Ambil saja nyawa ini. Jika itu memang yang terbaik.

JUSTIN [ COMPLETED ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang