24. Si Pelaku (2)

150 75 34
                                        

Di sebuah club malam, terlihat dua orang yang tengah bertos ria

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Di sebuah club malam, terlihat dua orang yang tengah bertos ria. Raut bahagia namun licik dari wajahnya masing-masing tertera sangat jelas. Minuman mengandung alkohol dalam gelas kecil mereka teguk bersama-sama.

"Good job!" puji salah satu diantara keduanya yang berbadan lebih kecil. Sementara si badan besar hanya tersenyum miring.

"Bentar lagi," ujar si badan besar. Tangannya meraih ponsel yang tergeletak di atas meja bar. Membuka galeri berisikan banyak foto lama bersama sang gadis. Satu yang menarik perhatiannya. Foto dimana ia dan gadis itu tersenyum lebar ke arah kamera. Cantik dan manis.

Si badan kecil merebut ponsel itu secara paksa. "Bukan saatnya bernostalgia," ujarnya sambil mendelikkan mata. Jam yang melingkar pada tangan kirinya sudah menunjukkan pukul sebelas lewat. Hampir tengah malam.

"Besok saat dimana kita menunjukkan diri," sambung si badan kecil kemudian melangkah mendekati pintu keluar. Si badan besar hanya mendengus.

***
Pagi ini sepasang insan mengawali hari dengan sarapan sebelum menuntut ilmu. Justin memasukkan beberapa jenis makanan pada tempatnya untuk ia bekal dan bisa dimakan nanti bersama sang tunangan. H-1. Hampir semua kegiatan belajar ditiadakan hari ini. Para OSIS semakin disibukkan oleh waktu yang terus berlalu.

"Udah?" tanya Justin saat gadis di depannya meneguk segelas susu yang telah disiapkan. Semua menu pada pagi ini disajikan oleh chef tampan calon kepala keluarga. Katanya hitung-hitung mengurangi beban gadisnya.

"Ayo," ajak Natcha yang mulai bangkit dari kursinya. Gadis itu menenteng tas sekolah yang terasa ringan karena tidak membawa apa-apa. Selain kotak makan yang Justin masukkan tadi.

"Pake jaket," titah Justin setelah mengeluarkan motor tercinta.

"Iya bawel," dengus Natcha membuat lelaki itu terkekeh geli. Setelah memastikan gadis di belakangnya duduk dengan aman dan nyaman, Justin mulai melajukan motor meninggalkan pekarangan rumah. Tanpa disuruh tanpa diminta, Natcha melingkarkan tangan pada sepanjang pinggang tunangannya.

Sekitar dua puluh menit lamanya mereka menempuh perjalanan, akhirnya sampai juga di lingkungan sekolah. Natcha melepaskan helm yang sedari tadi ia gunakan. Kemudian menyerahkannya pada sang tunangan. Sekedar informasi, sebenarnya tadi Natcha sudah menolak mati-matian untuk tidak memakai helm. Dengan alasan rambut yang sudah ditata rapi, akan berantakan kembali. Tapi Justin tidak ingin kalah. Katanya helm itu sangat penting saat berkendara menaiki motor.

Gadis itu hanya bisa terdiam ketika tunangannya merapikan rambut yang memang sedikit melenceng dari tatanan sebelumnya. Setelah selesai, Justin menatap gadisnya lekat.

Cup

Ada banyak orang yang merasa tersiksa karena menahan jeritannya. Setelah mengecup dahi gadisnya, Justin melangkah dengan tak acuh. Mengabaikan mereka-mereka yang masih misuh-misuh sendiri.

JUSTIN [ COMPLETED ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang