Part 31

4 4 4
                                        

Micha yang melihat Roni tertawa pun mengerutkan kedua alisnya. "Kenapa kamu pagi-pagi ketawa? Gada yang lucu tau."

"Kata siapa?" tanya Roni sambil tersenyum.

Micha berdecak sebal. "Ck. Aku tadi bilang, kamu nggak denger?"

Roni yang melihat perempuan yang ada di hadapannya ini sedang cemberut pun hanya bisa tertawa. "Aku denger."

"Terus kenapa kamu tanya?" tanya Micha mengalihkan pandangannya agar tidak melihat kearah Roni.

Roni pun membalikkan tubuh Micha,agar wajah perempuan itu kembali menatapnya.

"Aku ketawa karena ini, kamu minum susu sampai kek gini," ucap Roni sambil membersihkan bekas susu yang ada di sudut bibir Micha menggunakan saputangannya.

"Eh makasih," ucap Micha setelah Roni selesai membersihkannya.

"Yaudah ayok kita berangkat skull, ntar kesiangan harus berurusan sama Pak Bombom lagi," ucap Micha lalu berjalan menuju motor Roni. Roni pun mengikuti Micha dari belakang.

🐢

🐢

"Untung hari ini jalanan nggak macet," ucap Micha lalu melepas helm milik Roni.

Roni pun merapihkan anak rambut Micha menggunakan dua jarinya. "Kenapa nggak di iket aja rambutnya?"

"Nggak sempet," ucap Micha sambil menatap Roni.

"Ada iket rambutnya?" tanya Roni saat selesai merapihkan rambut Micha.

Micha pun menganggukkan kepalanya. "Ada di tas paling depan."

Roni pun mengambilnya lalu mengikat rambut Micha. Micha yang sadar bahwa mereka berdua telah menjadi tontonan siswi SMA Normezza yang masih berada di sekitar tempat parkiran.

"Oni kita diliatin," ucap Micha sedikit berbisik.

"Nggak apa-apa, selasai yaudah ayok kek kelas," ucap Roni lalu menggandeng Micha.

Setelah itu, Micha dan juga Roni mendengar setiap pujian dan sindiran dari siswa-siswi yang melihat mereka. Tapi apa? Mereka berdua sama sekali tidak memperdulikannya walaupun Micha sempat malu tapi Ia telah diberi baja oleh Roni.

Kini mereka berdua berjalan menuju kelasnya. "Ca, kamu udah ngerjain pr matematika wajib belum?" tanya Roni mengalihkan pikiran Micha dari sindiran siswa-siswi yang tidak sengaja melihat mereka.

"Eh?! Matematika ada pr?" tanya Micja kaget dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Roni.

Roni hanya menganggukan kepalanya. "Yahh aku belum," ucap Micha histeris.

"Aku udah, mau liat nggak?" tanya Roni menawarkan contekan kepada Micha.

Micha pun tersenyum. "Boleh tu, makasih ya."

"Oh iya Ca, pulang sekolah kita ke toko buku yuk! Eh kamu udah beli buku Kimia belum?" tanya Roni saat mereka akan sampai di kelasnya.

"Ha? Emang kimia di suruh beli buku ya?" tanya Micha penasaran.

Roni pun menganggukan kepalanya. "Gimana?" tanya Roni saat masuk ke kelas mereka.

"Wehh bang Roni dah jadian ma mak galak ni," ucap teman Roni.

"Traktir Mi ayam di kantin bisa kali," rayu temannya yang lain.

"Iya ni bang, jadiann harus traktiran lah."

"Kalian mau gue traktir pake apa? daun?!"

"Boleh, kalau bisa bang," jawab temannya.

Roni yang males berbicara selain kepada Micha pun hanya mengabaikan teman-temannya yang meminta untuk di traktir. "Jadi gimana Ca?"

"Eh, aku sore ini mau ke rumah sakit," ucap Micha lalu melepaskan tasnya ke atas mejanya.

"Ha?! Rumah sakit? Siapa yang sakit?" tanya Roni lalu duduk di atas meja sebelah Micha.

Micha pun mengeluarkan bukunya. "Abangnya Miyyami, mana bukunya?"

Roni yang mengerti pun langsung membuka tasnya lalu memberikan buku matematika wajibnya.

"Ha? Miyyami punya kakak?" tanya Molla yang sejak dari tadi ternyata mendengarkan pembicaraan Micha dan juga Roni.

Micha hanya menganggukkan kepalanya. Menyalin segera isi di buku Roni ke bukunya.

"Kok bisa?" tanya Lolly yang ikut gabung.

"Ya bisalah," ucap Micha tanpa melihat human-human yang mengajaknya berbicara.

"Lah ko ...."

"Udah deh, ntar aku jelasinnya. Aku mo nyalin dulu ni tugas. Aku gamau kena hukum ye," ucap Micha lalu kembali menulis.

"Eh iya, matematika wajib kan jam pertama, lupa gue!" seru Lolly lalu Ia kembali ke bangkunya dan menulis kembali contekan yang tidak tau itu punya siapa.

Tidak lama bel berbunyi.

"Semangatt nulisnya," bisik Roni lalu berjalan menuju kursi di belakang Micha.

Disela-sela menulisnya, Micha tersenyum. "Makasih," ucap Micha hampir tidak terdengar.

Setelah selesai Micha menyalin jawaban Roni ke bukunya Ia mengembalikan kembali buku milik Roni kepadanya, tepat pada saat itu juga Pak Malik datang.

"Pagi anak-anak, apa kabar dengan tugasnya? Kumpulin kedepan!" ucap Pak Malik yang tentu saja membuat siswa-siswi yang belum selesai menyalin jawaban tergesa-gesa.

Micha dan Roni pun berjalan diikuti beberapa temannya yang sudah selesai mengerjakan tugas dari Pak Malik.

"Yang lain mana? Masa cuman segini yang ngerjain?!" tanya Pak Malik sambil berdiri.

TBC

Jangan lupa vote dan komentarnya, ya!?

Micha [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang