Tiga Puluh Satu

27 4 10
                                        

You make me cry and you also make me smile.

ELLEN
"Theo jalan sama Evelyn," ucap Lia menatap bola mata gue.

Ha? Apa? Gimana?

"Hah, bentar. Theo? Theo pacar gue?" tanya gue masih bingung. Serius. Gue loading.

Lia menarik napas dan membuangnya cepat berkata, "Iya, Ellen. Theo siapa lagi yang gue kenal selain pacar lo itu?"

"Wait. Theo jalan sama Evelyn? Haduh, itu gak mungkinlah. Mana mungkin itu terjadi selama gue masih sama dia? Ya kali, sayang," tawa gue renyah. Ya ampun mereka, astagaa. Dapat asumsi kayak gitu dari mana?

Ya kali anjir, hahaha. Ngelawak lo. Mana garing lagi. Lol.

"Beneran El. Kami liat mereka berdua jalan kemaren," ujar Kinan ngotot.

"Iya, sumpah, El! Kami gak bohong. Makanya kami nanya ke elo Theo di mana kamaren malam," tukas Lia sampai mengangkat tangannya.

APA SIH, ANJIR! GUE SERIUS, JANGAN NGELAWAK LO. GAK LUCU, KAMPRET! GAK USAH BIKIN ESMOSI YE.

"Apa sih, lo dua. Lo ada buktinya?" tanya gue sedikit kesal.

Mereka berdua saling pandang dan mengerjapkan mata. Nah, tuh kan. Kalo gak ada bukti mah, diem aja. Ah, kesel gue. Mau panasin gue yang lagi mens?

"Kenapa? Gak ada?" tanya gue lagi, sarkas.

"Nan, lo gak foto?" tanya Lia kepada Kinan, agak panik.

"Lah? Mana gue kepikir. Lo gak bilang, sih," kata Kinan gak mau disalahkan.

"Arghh!" gerang Lia gemas.

Shit! Buang-buang waktu gue, bjir.
"Udah kan? Jangan nyulutin emosi gue. Gue lagi mens, gampang ganti mood."

"Haduh..! Gimana sih, biar lo percaya?" tanya Lia frustasi menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal.

"Mau Ibu kasih saran?" tanya Ibu Guru yang berdiri di belakang Lia dan Kinan. What?! Guru? Eh anjir, udah ada guru, gue kagak nyadar.

Lia dan Kinan kompak menolehkan kepala mereka ke belakang, mendengar suara perempuan yang familiar. Alhasil, seseorang itu berhasil membuat mereka kaget dan membelalakkan mata. Mampus.

Baru aja kami mau ngacing pergi dari hadapan guru yang bisa dibilang lumayan galak, eh langsung diberhentiin dong.

"Mau ke mana, kalian? Jam segini bukannya masuk kelas, malah ngerumpi di luar. Gak lihat udah jamnya masuk kelas? Squad jump 20 kali. Setelah itu masuk kelas. Kamu juga, Kinan," perintah guru yang akan ngajar di kelas gue pagi ini.

Kami bertiga yang diomelin cuma bisa kicep dah. Kalo bacot balik kan nanti nilai sikap kami yang jadi taruhan.

Wah, mana orang-orang di kelas gue pada ngintip-ngintip liat ke luar. Kepo banget. Nih, suara si Ibu kenceng lagi. Volume suaranya direndahin dong Bu, atau saya aja yang ngerendahin? Ehh.

Mau gak mau, kami pun melakukan apa yang beliau suruh. Duh.

— H E —

Selama pelajaran berlangsung, pikiran gue masih berkelana ke percakapan tadi pagi dengan Lia dan Kinan. Setelah gue mikir, kayaknya mereka gak bercanda. Tapi...

"Yo, kantin, kuy. Kuy, El," ajak Steve menghampiri kami yang disusul Davin di belakang. Oh, udah istirahat pertama.

Gue masih duduk tak bergerak dari tempat duduk kelas, sementara Theo sudah beranjak berdiri. "Gak ikut, El?" tanya Theo.

HE Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang