Dua Puluh Dua

35 9 21
                                        

There are things that sometimes seem simple but are not.

ELLEN
Tumben hari ini cuacanya mendukung buat liat mereka main basket. Hari ini hari sabtu dan sekarang jam 15:35, biasanya jam segini masih agak panas walaupun gak tengah hari.

Sudah dua atau tiga kali mereka mainnya lebih awal dari jam biasa, karena kata kapten mereka a.k.a Theo, sebentar lagi udah mau ujian akhir semester satu. Jadi, biar ada lebih banyak waktu untuk istirahat dan belajar. Pengertian ya, hehe.

Tapi, kan gak bisa jamin kalo mereka ada belajar haha, atau mungkin dia sendiri yang butuh lebih banyak waktu buat belajar?

Disini, gak banyak orang datang, karena emang bukan pertandingan. Hanya ada beberapa orang niat lihat jadwal mainnya mereka, termasuk gue dan dua konco ini.

And by the way, gue lagi di lapangan basket outdoor sekolah gue. Lapangan sekolah gue, ada dua, indoor and outdoor. Kalo yang indoor buat olahraga jam sekolah dan lapangan itu multifungsi. Bisa untuk main basket, bulu tangkis, dan voli. Kalo mau main bulu tangkis atau voli tinggal tarok tuang dan pasangin net. Kalo tenis meja ya tinggal ambil mejanya, deh.

Nah, untuk yang lapangan outdoor, itu untuk basket doang dan bisa dipakai kapan saja asalkan emang anggota tim basket sekolah. Jangan heran, karena sekolah kami juga dikenal sama permainan basketnya,  yang katanya hebat.

Yaa gue cuma sekedar tahu aja sih, info-info itu. Gue pernah main aja enggak disini.

Tapi elite banget gak sih? Gue aja heran dah, kenapa ini sekolah bagus banget, haha.

"Goool!!" teriak Lia dan Kinan bersamaan.

Gue terperanjat kaget. Aelahh ngagetin banget astaga, ini dua. Ada yang ganjal, gue mengernyitkan kedua alis bingung.

"Kok gol sih?" tanya gue heran.

"Ya lo gak liat tadi, doi lo shoot masuk?" tanya balik Kinan.

"Ih bukan. Maksud gue, gol kan buat bola kaki."

"Hmm, iya sih. Tapi kalo gak gol, apa dong?" jawab Lia.

Gue berpikir sejenak, iya ya, kalo gak sebut gol, sebut apa dong?

"Apa yaa... Teriak "yes" aja. Kalo teriak gol mah aneh atuh, kan ini basket."

"Oke." Mereka berdua mengangguk paham dan melanjutkan permainan di lapangan dengan serius. Padahal mah gue tahu, mereka paham sama basket aja kagak, haha. Yaa gue juga kagak paham sih.

Permainan pun berakhir dengan skor 47 – 44 dan dimenangi oleh Theo.

Theo datang menghampiri yang banjir oleh keringat di sekujur tubuhnya. Oke, gue mau main jujur-jujuran aja ya. Ehem, seksi banget. Eh, ya ampun, Ellen! Gak boleh salfok, ih! Kebanyakan nonton jadinya gini, kan.

Gue memberikan sebotol air mineral biasa, jangan kasih yang dingin, nanti dianya ikutan dingin lagi, haha. Gak deng, canda. Garing. Kalo lagi keringetan atau panas, gak boleh langsung dihantam sama yang dingin-dingin. Udah tahu, kan? Yaudah.

Theo menegakkan setengah isi botol di depan gue dengan cepat. Jakunnya... Naek-turun. Anjir. Gue mengerjapkan mata dan mengalihkan pandangan ke arah lain.

"Ehem, ehem, ehemm," batuk buatan Lia dan Kinan bersahut-sahutan di samping gue. Gue memicingkan mata ke arah mereka untuk kode segera diam.

"Thanks, El, " ucap Theo yang sekarang sudah duduk di samping kanan gue. Gue mengangguk iya.

Terdengar napasnya yang masih ngos-ngosan. Pandangannya mengarahkan ke lapangan sambil menikmati sejuknya angin sore hari. Kayaknya capek banget ya.

HE Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang