"Oh jealousy look at me now
Jealousy you got me somehow."
—Jealousy (Queen)
THEO
Selama menjelang hari karnaval, sekolah mempersiapkan berbagai kostum dan alat yang akan digunakan nantinya. Yaa, mau gimana lagi? Sekolah gue, kan, juga gak mau kalah.
Angkatan kami, sih, emang ikut. Cuma, ya, gue gak tahu kepilih apa kagak. Belom ditentuin, soalnya. Mungkin nanti baru dikasih tahu.
Sekarang gue lagi di kelas. Ada guru, kayaknya mau ngomongin soal karnaval.
"Karena karnaval tinggal beberapa hari lagi, Ibu akan mengumumkan siapa saja yang akan ikut serta dalam karnaval kali ini," ujar Bu Ran sebagai wali kelas kami.
Tuh kan, apa gue bilang.
Kok gue berharap ya, gue bakal kepilih dan pasangan gue itu cewek yang ada di samping gue. Gue menoleh ke Ellen dan mendapatinya sedang memperhatikan Bu Ran dengan males.
"... Theo dengan Angel, Steve dengan Ellen, ..."
"Temanya, kan, batik. Jadi, kalian semua memakai batik dan kita sudah membuat berbagai variasi kostum batik. Tapi, Ibu belum menentukan kostum yang akan kalian pakai nanti. Mungkin besok ibu akan memberitahukan kepada kalian," sambung Bu Ran menjelaskan.
Mampus, gue. Kenapa gue harus sama cabe, coba? Ah, sialan, emang.
Gue melirik ke tempat yang ditempati Angel. Anjir, dia langsung ngedipin satu mata ke gue. Gue melihatnya dengan ngeri, lebih tepatnya jijik.
Sekali lagi, gue menoleh ke arah Ellen. Dianya malah b aja, lagi. Kesel, gue.
Gue mengacak-acak rambut gue, saking keselnya.
Loh, gue kenapa, sih?!
Tau, deh. Mendadak bad mood.
"Lo kenapa, sih?" tanya Ellen melihat tingkah gue.
Gue berdecak dan memalingkan muka darinya.
"Gak jelas," gumam Ellen pelan yang masih bisa didengar gue.
—HE—
Gue berjalan mengelilingi koridor kelas. Yaa, karna lagi jam kosong dan gak ada kerjaan.
Sebenarnya, sih, ada. Apalagi kalo bukan bantuin buat persiapan karnaval nanti? Tapi, gue males, banget.
Untung gue udah bukan ketos lagi. Kalo ketos, kan sibuk. Gak tahu, deh, sok sibuk apa bukan.
Iya, sih, tahun kemaren gue jadi ketos. Tapi, itu bukan gue yang mo ikutan nyalon. Biasa, fans-fans gue yang pilih gue jadi ketos. Kalo udah gitu, mau gimana lagi? Udah emang takdir gue jadi cogan, kan? Pinter, lagi.
Gue melihat Sobat gue lagi nongkrong di kantin sekolah. Di sana terdapat Steve, Davin, dan Kiki yang lagi bercanda ria sambil meminum minuman yang sudah dipesan mereka.
Kok kagak ngajak gue, sih?
Gue berlari kecil ke arah mereka dan langsung duduk di samping Kiki.
"Yo, Bro! Kok kagak ngajak gue, lo pada?" tanya gue kepada mereka.
"Lo-nya aja yang gak tahu kemana," jawab Davin yang berada di depan gue. Gue manggut-manggut mendengar jawabannya.
"Bu, es jeruknya satu, ya!" seru gue kemudian ke Bu Sarmi, penjual berbagai minuman di kantin kami.
"Iyo, Dek!"
"Lo kagak bantu-bantu, Yo?" tanya Steve kemudian menyeruput es jeruk miliknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
HE
Novela JuvenilUntuk apa sebuah hubungan bila tak disertai kepercayaan? Mestinya setiap hubungan harus ada kepercayaan bukan? Untuk apa sebuah keputusan bila tak ada kepastian? Tentu akan merasakan gelisah di setiap jalannya. Hal yang selalu tak pernah diduga sus...
