Ini sudah lewat dari dua minggu saat dia dan Al terakhir kali berpapasan, dan sejak saat itu mereka tidak pernah lagi bertegur sapa. Jangankan bertegur sapa, saling mengirim pesan pun tidak.
Bintang pun sudah tahu siapa cewek yang tengah didekati Al sekarang, Dira.
Iya, Dira yang itu. Keponakan Andreo.
Bintang juga tidak tahu awal mulanya bagaimana mereka berdua bisa dekat, tapi yang Bintang tahu, mereka sering berangkat ke kampus bersama-sama.
Bagaimana dengan Bintang? Bintang masih tetap begitu, menjadi mahasiswa kupu-kupuㅡ
"Ada pertanyaan?"
ㅡoh dan tentu saja masih menaruh rasa pada Andreo. Dia sepertinya terlalu sibuk dengan Al hingga melupakan eksistensi Andreo akhir-akhir ini.
"Baik sampai disitu kuliah kita hari ini, terimakasih atas perhatiannya." Andreo berujar lagi, sembari menutup spidol dan berjalan menuju mejanya.
Bintang dengan cepat membuka buku catatannya, dia tadi ingin menanyakan sesuatu. Terdengar seperti modus tapi sebenarnya tidak kok.
Jadi saat dia sudah menemukan pertanyaan yang akan diajukan, dengan cepat dia mengangkat tangannya yang disahuti oleh Andreo tak lama kemudian.
"Ya Bintang?"
"Saya mau nanya kak."
Andreo melirik jam tangannya lalu berujar, "kayaknya pertanyaan kamu di keep dulu sampai pertemuan selanjutnya soalnya saya lagi buru-buru, gapapa kan?"
Jadi Bintang mengangguk pasrah, yah walaupun dia memang ingin bertanya tapi tetap saja dia masih tidak rela kalau kelas Andreo harus berakhir secepat ini.
Namun setelah kelas dibubarkan dan semua mahasiswa sudah keluar ruangan untuk memulai kelas selanjutnya, Andreo malah memanggil Bintang yang baru saja akan melangkahkan kakinya keluar dari pintu.
"Bin!"
Gadis itu menoleh, "ya kak?"
"Kalau lo mau, gue bisa ajarin materi yang ga lo ngerti diluar jam kelas,"
Mata Bintang berbinar, "bisa kak?"
Andreo tertawa kecil, "ya bisa lah kan tugas gue emang gitu, tapi kalo gue ga sibuk yah."
Bintang mengangguk cepat, "bisa kak nanti kak Andreo kabarin aja kapan kakak gak sibuk."
Andreo mengangguk kecil lalu tersenyum manis, "oke."
◦•●◉✿ ✿◉●•◦
"Lo mencium bau sesuatu yang aneh gasih?" Ujar Nias yang membuat Alanㅡyang tengah memangku gitar sembari memetiknya sesekali, menghirup udara disekitar mereka.
"Gue cuma mencium bau kemiskinan," timpal Alan. Maklum, akhir bulan.
"Yeu, kalo itu sih selalu, maksud gue bau yang lain."
Alan mengumpat mendengar kalimat pertama Nias sebelum kembali berujar, "bau apadah nyet perasaan kaga ada gue cium,"
"Kayak bau-bau keretakan rumah tangga gitu."
Alan yang mendengar itu segera menyingkirkan gitarnya lalu berbalik sepenuhnya kearah Nias.
"Ih iya anjir emang lagi rame tuh banyak selebriti yang mau cerai."
Sementara Nias hanya bisa menghela nafas panjang karena Alan belum juga mengerti maksudnya.
"Maksud gue tuh rumah tangganya si Al."
KAMU SEDANG MEMBACA
Starlight
Novela JuvenilDalam rangka merayakan kelulusannya, Bintang diberi dare yaitu dengan mengaku sebagai tunangan dari cowok acak berbaju pink. Namun yang tidak dia sadari, kesediannya untuk melakukan dare ternyata membawa malapetaka untuknya. Siapa sangka kalau cowok...
