"Bin, panitia ospeknya ganteng-ganteng njir." Bisik Andin yang posisinya tepat berada dibelakang Bintang.
Bintang hanya memutar bola matanya malas, tidak meladeni celotehan gadis itu dan memilih mendengar pembukaan panitia Ospek yang Bintang ketahui namanya adalah Didin.
"Kalau panitia ospeknya aja ganteng, gimana sama isi satu kampus ya Bin. Alamak gakuat adek bang." Ocehnya lagi. Bintang menahan senyumnya dan membiarkan Andin mengoceh dan berfantasi sendirian.
"Ga sia-sia gue masuk kesini, cuci matanya setiap hari woy."
"Gea sama Tian pasti nyesel ga masuk kesini."
"Anjay Bin gue ga ngerti lagi mereka makan apa. Kok bisa seganteng itu si?"
Begitu kira-kira ocehan gadis itu yang sama sekali tidak mendapatkan respon dari Bintang.
"Astaga Bin! Itu yang baru datang ganteng banget gila!" Sontak saja Bintang mengalihkan pandangannya kepada panitia ospek yang datang terlambat itu.
Bintang menyipitkan matanya, cowok itu tampak familiar di matanya.
Andin sudah kembali mengoceh sendiri sementara Bintang masih berusaha mengingat dimana dia terakhir kali ketemu cowok itu sebelum dia membulatkan matanya kaget.
Astaga cowok itu kan...
Lalu dengan panik dia berbalik ke arah Andin, mencoba menyampaikan sesuatu tapi yang keluar malah kalimat yang terbata-bata.
"An-it-gu-it-"
"Iya dia emang ganteng Bin. Lo mah kalau salting kayak ikan butuh nafas buatan."
Kek lo ga aja. Bintang ingin membalas seperti itu tapi sekarang bukan saatnya.
"Ndin, dia itu.."
"Itu dua orang yang dibelakang maju kedepan!"
Suara yang cukup lenting itu berhasil membuat mereka berdua menahan nafas lalu berpandangan sejenak.
"Mampus." Gumam mereka bersamaan.
"Itu yang pake kacamata sama yang kuncir kuda maju kedepan!"
"Mampus Bintang." Ujar Andin tanpa suara dengan wajah yang setengah pucat. Sedangkan Bintang hanya mampu menelan ludahnya berulang kali.
"Kalian maju kesini atau mau saya seret?" Dengan terpaksa Bintang membalikkan badannya lalu maju kedepan dengan wajah yang ditundukkan serta Andin yang mengekor di belakangnya.
"Balik ke depan." Ujar salah satu panitia ospek saat ia dan Andin sudah tiba di hadapan mereka.
"Dibelakang tadi bicarain apa? Kalian ini masih maba tapi udah berani macem-macem, gimana kalau udah jadi mahasiswa tetap?" Ujar panitia ospek yang tidak salah namanya adalah Jordi.
"Kalau diajak bicara itu jangan nunduk! Diajarin sopan santun kan sama orangtua kalian?" Bintang yang memang sedari tadi hanya menundukkan kepalanya dengan terpaksa mengangkat kepalanya dan berulang kali merapalkan satu kalimat yang sama di dalam hatinya.
Ya Allah lindungi hambamu ini Ya Allah.
"Nama lo siap-"
"Bentar!" Celetuk seseorang tiba-tiba menghentikan ucapan Jordi dan membuat tatapan semua mabar dan panitia ospek yang lain beralih padanya.
"Kenapa Al?" Dita, salah satu panitia ospek cewek bertanya pada orang yang tadi memotong ucapan Jordi.
Cowok yang dipanggil Al itu berjalan mendekat dan berdiri di hadapan Bintang yang membuat gadis itu menelan ludahnya dengan susah payah, tenggorokannya terasa sangat kering bahkan tangannya sudah basah oleh keringat.
"Muka lo cukup familiar," cowok itu menyipitkan matanya dan mendekatkan wajahnya. "Muka lo gak asing, tapi gue lupa." Gumamnya.
"Kita pernah ketemu?"
Bintang melirik cowok itu dengan ekor matanyaㅡhanya sedetik, lalu menggelengkan kepalanya kecil.
"Lo kenal dia Al?"
Cowok itu mendesah. "Tadinya gue kira gitu," lalu dia mengedikkan bahunya, "kalian lanjut aja, gue mau ngantin."
Bintang menghembuskan nafas lega, terimakasih untuk mukanya yang pasaran.
Belum sempat mencapai daun pintu Al membulatkan matanya lalu kembali memutar arah. Bintang tersentak kaget saat seseorang membalikkan badannya dan memegang pundaknya erat.
"Lo kan yang kemarin ngaku jadi tunangan gue dan nuduh gue hamilin cewek lain?"
Bintang menahan nafasnya gugup.
"Itu emang lo," cowok itu menyipitkan matanya memastikan, lalu sedetik kemudian menyeringai sadis.
"Nyali lo gede juga masuk sini."
TBC
Vomment sama krisarnya jangan lupa ya thankiss :*
Lots of love, Win❤
KAMU SEDANG MEMBACA
Starlight
Teen FictionDalam rangka merayakan kelulusannya, Bintang diberi dare yaitu dengan mengaku sebagai tunangan dari cowok acak berbaju pink. Namun yang tidak dia sadari, kesediannya untuk melakukan dare ternyata membawa malapetaka untuknya. Siapa sangka kalau cowok...
