Kembar 30

17 4 0
                                        

Sementara itu di sisi lain, Rora, Alprom, dan Axe bersiaga menunggu Drac. Para Apnos di depan mereka sudah mulai bertarung dengan bawahan Drac. Suara dentingan senjata, teriakan perang, dan bau darah mulai memenuhi udara.

Drac dengan segala kecepatan dan kekuatannya menembus segala rintangan di depannya. Apa yang ia lewati tewas dengan cepat, tanpa ampun. Sorot matanya penuh kebencian, menunjukkan betapa besar dendam yang ia bawa.

Tak lama, Drac sudah berhadapan dengan Axe dan Rora, sedangkan Alprom mengawasi dari jauh. Tugasnya di sini tidak untuk ikut campur dalam pertempuran apa pun yang terjadi. Jika ia melanggar perannya, rencana yang dibuat Arega akan sia-sia.

Arega yang mendapatkan firasat Drac sudah sampai, berguman  "Lebih cepat dari perkiraan, tapi aku juga tak akan terlambat." Ia mengalihkan pandangannya ke arah lain, lalu berkata dengan tenang, "Erasta, segeralah menuju tempat Rora berada."

"Apa?! Sekarang?" Erasta terkejut, padahal perang baru dimulai. Kenapa ia harus berada di sana? Bukankah lebih hemat tenaga jika ia berada di samping Rora sejak awal?

Arega menatap  penuh keyakinan. "Aku tahu mungkin ini terkesan siasat sia-sia, tapi aku yakin kau mampu mencapai tempat Rora dan mengurangi pasukan Drac sekaligus. Apa yang kau lewati harus terbunuh, terutama musuh."

Erasta meyakinkan diri, mengangguk tegas, dan berkata, "Aku pergi."

Dengan kecepatan yang juga tidak bisa diremehkan, Erasta melesat di antara medan perang, menebas setiap musuh yang menghalangi jalannya. Cahaya dari senjatanya memantul di antara genangan darah dan debu yang beterbangan.

Namun, Arega tetap bergumam dengan nada curiga, "Erasta sudah maju, bukankah seharusnya pion Drac menyambutku sekarang?"

Tiba-tiba, dari balik kabut perang, muncul sosok-sosok bayangan yang tidak terduga. Mereka bukan bawahan Drac biasa—mereka adalah pasukan elit, prajurit bayangan yang hanya bergerak ketika Drac menginginkannya. Mata Arega menyipit, menyadari bahwa pertempuran ini lebih rumit dari yang ia rencanakan.

"Sepertinya Drac juga punya rencana cadangan," bisik Arega, sambil bersiap menghadapi gelombang baru musuh yang mendekat.

"Wah, aku tak menyangka seseorang sepertimu bisa membantai kaumku secepat ini. Siapa kau?" sosok itu menyapa Arega dengan sinis.

Blevine berdiri di belakang Arega, membuat Arega menoleh.

"Menarik," kata Arega dengan tenang. "Kau hadir tepat seperti yang kuharapkan."

"Tak perlu membanggakan ramalan tak bermutu itu," Blevine menyeringai. "Ayo lawan aku, dan kau akan tahu hasilnya."

Arega tersenyum tipis. "Aku memang sudah tahu hasilnya. Namun, bukan aku lawanmu."

"Apa maksudmu? Jangan bilang kau menyerah sekarang?" tanya Blevine meremekan ucapan Arega.

"Tentu tidak." Arega melirik ke sebelah Blevine. "Lihat, lawanmu sudah siap di sana."

Blevine menoleh dan matanya membelalak melihat ke arah yang Arega tatap, "Adik?! Kau berkhianat?"

Adik Blevine- Seirei, yang berdiri tegap di samping barisan mulai melangkah ke depan, menatap Blevine dengan sorot mata tajam. "Sadarlah, Kak. Aku selalu berusaha meyakinkanmu bahwa ini jalan yang salah, tapi kau tak pernah mau mendengarku."

"Apa yang kau tahu?! Kau hanya anak kecil yang mudah terpengaruh!" suara Blevine meninggi. "Aku membawamu ke mana pun, aku melindungimu dengan seluruh nyawaku—dan ini yang kudapatkan?".

Seirei mendengus, "Kakak yakin itu? Lalu apa maksud kakak mencoba meracuniku sebanyak tujuh belas kali? Mencoba menenggelamkanku? Membiarkan aku terpanah? Bahkan berusaha menjualku? Apa itu yang kau sebut melindungi?"

My Vampire And My WerewolfCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang