Keluar 36

10 3 0
                                        

Air mata Rora menetes. Satu per satu, emosi yang membakar jiwanya mulai mereda, terbawa oleh tiap tetes yang jatuh ke tanah.

Rora merasa sangat berdosa kepada Erasta.

Amarah yang begitu lama menguasainya perlahan larut bersama air matanya.
Pikirannya kini benar-benar jernih.

Setelah sesaat larut dalam kesedihan, Rora mengusap air matanya dengan punggung tangan.

Ia mendongak menatap serigala setengah rubah itu—lawan terakhirnya di segel ini—dan berkata dengan suara yang lebih tenang:

"Aku tidak akan bisa keluar dari segel ini... bahkan jika aku mengalahkanmu."

Mata sang rubah menyipit, tertawa kecil seakan menyukai bagaimana Rora mulai memahami aturan permainan ini.

Rora melanjutkan, suara dan ekspresinya lebih serius. "Jika aku menang, aku hanya akan naik ke level tertinggi segel ini... lalu menunggu seseorang yang lebih kuat datang untuk mengalahkanku."

Sang rubah menatap Rora, kepalanya sedikit miring. "Menarik."

Ia tersenyum penuh teka-teki. Serigala setengah rubah itu memberikan pertanyaan ke Rora, "Kalau begitu, kenapa tidak semua orang sengaja kalah saja? Supaya mereka bisa bebas?"

Rora menggeleng. "Mereka tidak tahu apakah mereka akan bebas... atau mati. Jadi mereka harus bertarung dengan kekuatan penuh."

Mata serigala setengah rubah berkilat, senyumnya melebar.

Rora menatapnya dalam-dalam, "Setiap makhluk yang kukalahkan... mereka keluar dari segel ini. Segel ini dibuat untuk membantu mereka bertaubat dari dosa-dosa mereka."

Rora mengepalkan tangannya. "Sekarang, hanya tinggal kau dan aku di dalam segel ini."

Rora mengambil napas dalam sebelum melanjutkan perkataannya. "Agar aku bisa keluar, maka aku harus mengeluarkanmu terlebih dahulu. Setelah itu aku akan menjadi level tertinggi dalam segel ini. Tapi aku... aku tidak tahu bagaimana cara keluar setelah itu."

Rora mengatupkan rahangnya. "Sedangkan jika kau yang menang...". Ia menatap lawannya itu dengan tatapan tajam. "...maka aku akan terjebak di sini. Hingga ada makhluk lain yang cukup kuat untuk mengalahkanku."

Rora mengepalkan tinjunya lebih erat. "Ini rumit..." Ia menarik napas panjang. "...Bagaimana caranya aku bisa keluar?"

Sunyi.

Lawannya masih tersenyum. Namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda dalam senyumnya. Ada sesuatu yang disembunyikannya.

"Kau mulai sadar." Suara lembutnya seperti bisikan manis yang menjerat.

"Seperti yang kau tahu, menang atau kalah... kau tetap akan terkurung dalam segel ini."

Ia memiringkan kepalanya, menatap Rora dengan ekspresi penuh godaan. "Apakah kau marah?"

Langkahnya ringan, berputar mengitari Rora. "Bukankah kau harusnya marah?"

Bisikan itu menggoda, seperti racun yang manis. "Kakakmu sengaja mengurungmu di sini, bukan?" perkataan itu mengompori, berusaha mengusik emosi Rora sekali lagi.

Namun kali ini, Rora tak tergoyahkan. Ia menatap mata rubah dengan penuh keyakinan.

"Aku tahu kakakku." Suaranya mantap, tegas, dan penuh kepercayaan.

"Meskipun dia selalu mengambil keputusan tanpa mendiskusikannya dengan kami...Tapi pada akhirnya, semua keputusannya selalu membawa kami ke akhir yang baik."

Rora mengepalkan tangan. "Dia memandu kami di jalan kebajikan. Dia tidak akan membiarkan sesuatu yang sia-sia terjadi."

Rora menarik napas dalam, mengunci mata rubah itu dengan tatapan tajam. "Dia mengirimku ke sini bukan untuk mengurungku."

My Vampire And My WerewolfCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang