Pertarungan 29

19 4 0
                                        

Esok tiba, namun langit tak cerah seperti biasanya, kegelapan menyelimuti langit seakan tau hari ini terjadi peristiwa yang tidak menyenangkan dalam sejarah.

"Apa yang terjadi mengapa matahari tak bersinar seperti biasa," tanya Erion sembari melihat langit.

"Dengan kegelapan kekuatan Drac menjadi lebih besar", jelas singkat Alprom, ia menduga ini berhubungan dengan perang nanti.

"Tidak masalah Drac akan tetap menemui ajalnya hari ini," Arega memandang jauh ke depan.

"Axe, Aurora, Alprom segera berangkat ke Eretheia, Redelion segera memposisikan diri ke Phiktheia, Elfathan segera ke kerajaanmu untuk memimpin pasukanmu. Aku, Dave dan Erasta akan menuju medan Vitheia dan memojokkan mereka ke arah Eretheia." Arega segera memberi perintah.

"Baik," semua menjawab serempak menerima perintah dan segera pergi.

Tak lama mereka mengunakan portal yang telah disediakan oleh pelayan Arega, pasukan mereka telah menunggu di tempat masing-masing.

Setelah semua di posisi, bunyi terompet tanda perang dimulai terdengar.

"Bersiaplah ini tidak akan mudah," segera setelah Arega mengatakannya ia berubah wujud menjadi serigala.

Warna mata Erasta lebih merah menyala, Dave tidak ingin menghabiskan tenaganya sekarang, ia masih belum mau berubah.

"Bersabarlah Dape, kita akan membantai mereka nanti," ujar Dave kepada Dape serigalanya.

Pertempuran di area Vitheia dimulai, pertempuran berlangsung sengit diantara pihak Arega maupun Drac.

"Erasta kau harus bisa membuat mereka berkumpul di satu titik,"  Arega bertelepati mengingatkan Erasta akan posisinya dalam perperangan.

"Baik kak," Erasta mulai melesat sembari menyerang, memastikan musuhnya tak keluar dari zona yang direncanakan.

Arega sudah berubah, walau vampire-vampire yang dia hadapi lebih cepat dalam berlari, ia tak habis akal. Sebelum kemari dia mengoleskan seluruh tubuhnya dengan racun. Sehingga makhluk apapun yang menyentuh Arega sedikit saja, akan terkena racun. Efek yang paling ringan dari racun itu adalah menimbulkan luka bakar, dengan begitu Arega mampu melukai banyak vampir dalam waktu singkat.

Dengan strategi ini, Arega mampu melukai banyak vampir dalam waktu singkat. Tubuh-tubuh mereka terjatuh satu per satu, mengepulkan asap tipis dari bekas luka yang menghitam. Arega berdiri tegak di tengah kerumunan, senyumnya menyeringai sinis, penuh dengan kepercayaan diri.

"Kalian bisa saja menyerangku, tapi kalian tak akan bisa menyentuhku," ujar Arega dengan nada meremehkan. Suaranya terdengar jelas di antara hiruk-pikuk pertempuran. "Aku petarung jarak dekat, namun kalian tidak bisa mendekat. Kalian petarung jarak jauh, tapi aku juga lihai menghindar."

Vampir-vampir itu mencoba menyerang lagi. Arega menghindari serangan demi serangan dengan gerakan gesit dan lincah, membuat serangan itu justru melesat dan mengenai sesama mereka sendiri. Tubuh-tubuh vampir saling bertabrakan, menambah kekacauan di medan tempur.

"Tak bisa dibiarkan seperti ini! Kita harus bertarung jarak dekat dengannya! Jika ia terus menghindar, kita yang akan kewalahan," seru salah satu vampir, napasnya terengah-engah karena terus-menerus mengeluarkan kekuatan tanpa hasil.

"Kau gila? Kita yang akan mati duluan! Entah apa yang ia pakai pada dirinya. Ketika sikuku tak sengaja menyentuh kibasan ekornya tadi, tiba-tiba saja sikuku terbakar!" sahut vampir lain dengan wajah penuh rasa takut dan frustasi. Luka bakar merah gelap menghitam di lengannya menjadi bukti nyata betapa berbahayanya Arega.

"Bagaimana cara menyerang tanpa menyentuh jika pertarungan jarak dekat? Tapi kita lebih tidak mungkin lagi jika pertarungan jarak jauh. Ia selalu menghindar dari serangan!" teriak pengikut Drac, mulai kehilangan harapan.

My Vampire And My WerewolfCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang