Segel 33

12 4 0
                                        

Blevine bertarung sengit melawan Seirei. Namun, yang tidak ia sadari adalah betapa pesat perkembangan adiknya di bawah didikan Arega. Seirei bukan lagi anak kecil yang bisa ia remehkan.

Blevine mulai kewalahan. Setiap serangannya ditepis dengan mudah, setiap langkahnya terbaca. Ia tahu ia tidak akan menang jika terus bertarung seperti ini. Panik, ia berbalik dan berlari menuju tempat Drac berada, berharap pemimpin mereka akan melindunginya. Tapi Seirei tidak membiarkannya kabur begitu saja—ia segera mengejar kakaknya.

Sementara itu, Elfathan yang amat berduka atas kematian Nure. Ia tidak lagi melanjutkan pertarungan, menyerahkan medan perang kepada pasukannya. Baginya, tugas utama sekarang adalah membawa jasad adiknya pulang.

Di tempat lain, Erasta telah tiba di lokasi pertempuran Drac dengan Axe dan Rora. Ia segera menyadari bahwa Rora dan Axe tengah sibuk menghindari serangan Drac. Tanpa ragu, ia menghunus senjatanya, menghalangi siapa pun yang berusaha membantu Drac.

Di pusat pertempuran, Dave, Red, dan Erion akhirnya tiba, langsung bergabung dalam pertempuran untuk membantu Erasta. Mereka menyapu musuh yang mendekat, memastikan medan perang tetap terkendali.

Di tengah kekacauan itu, Drac menatap Rora dan Axe dengan tatapan meremehkan.

"Kenapa? Takut menyerang?" ejeknya. "Apa kalian hanya bisa berlari seperti anak kecil yang bermain-main di medan perang?"

Namun, tanpa ia sadari, Rora dan Axe telah menyelesaikan sesuatu—sebuah segel yang terukir halus di tanah, siap mengurungnya.

Tepat saat Arega tiba, Axe menghunus senjatanya. "Kami sudah cukup mengulur waktu."

Axe dan Rora segera bergerak, menyerang Drac secara bersamaan.

Drac terkejut. Ia tidak mengira dua anak ini memiliki kekuatan sebesar ini. Serangan mereka tak terhentikan, setiap gerakan mereka selaras, sulit dipisahkan. Ia mencoba memisahkan mereka, tetapi itu bukan hal yang mudah. Rora dan Axe bertarung seperti satu kesatuan, bergerak serempak, saling melindungi tanpa celah.

Terpojok, Drac akhirnya menggunakan kekuatan penuhnya. Teriakan terdengar dari segala penjuru medan perang.

Para pengikutnya berjatuhan, tubuh mereka mengering seakan tersedot dari dalam, kekuatan mereka menguap menuju pusat segel. Mereka yang masih hidup kini tampak sekarat, kulit mereka pucat dan kurus seperti layaknya mayat berjalan.

Namun, berbeda dengan Lena. Segel yang dibuat Rora di kerajaan Raimor -tempat Lena disekap, mengurangi efek Drac. Lena hanya diserap setengah dari kekuatannya, meninggalkannya dalam kondisi lemah tetapi masih bertahan. 

Meski begitu Lena tetap rawan mati apalagi dengan intisari murninya sudah dikeluarkan. Harapan agar Lena bisa hidup hanyalah dengan Lena melepaskan hasrat balas dendamnya. Jika itu masih membara, maka tidak lama fisiknya akan digerogoti juga.

"Setidaknya, Lena sedikit aman untuk sekarang," kata Arega, matanya tetap awas mengawasi pertempuran.

Sementara itu, Drac tiba-tiba melesat ke arah Axe dan Rora, serangannya cepat dan mematikan. Keduanya berusaha menghindar, tetapi senjata Drac masih berhasil melukai lengan mereka. Darah segar mengalir dari luka itu.

Namun, alih-alih panik atau mundur, Axe dan Rora justru tersenyum.

"Sesuai rencana," gumam Rora lirih.

Tanpa ragu, mereka dengan sengaja memperlebar luka mereka sendiri, membiarkan darah mengalir lebih deras. Kemudian, mereka berlari mengelilingi Drac sesuai pola yang telah mereka tentukan sebelumnya. Setiap tetes darah yang jatuh membentuk sebuah pola misterius di tanah.

Drac tidak menyadarinya hingga semuanya terlambat. Ia mencoba melangkah keluar dari lingkaran, tetapi tubuhnya seakan terpaku di tempat.

"Apa ini...?" matanya membelalak. Ia baru sadar—ia telah terjebak dalam segel lagi.

My Vampire And My WerewolfCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang