Rora terus berjalan, ia hanya mengikuti kemana langkah kakinya membawanya. Entah benar atau tidak jalan yang ia tempuh, namun ia bisa merasakan semakin dekat dengan Axe.
Setelah lama berjalan Rora berdiri di depan tabir pelindung desa keturunan Moran, menatapnya dengan ragu. Langkahnya terhenti, meskipun hatinya tahu bahwa Axe ada di dalam. Ia bahkan bisa mendengar detak jantung lelaki itu, berdetak dalam irama yang sama dengannya. Namun, kesadarannya yang telah kembali sepenuhnya membuatnya sadar akan satu hal—ia sudah menikah. Erasta adalah suaminya.
Ingatan terakhirnya tentang Erasta begitu jelas. Rora mendorongnya begitu keras di pertemuan terakhir mereka, meninggalkan lelaki itu dalam keadaan remuk. Lalu, bagaimana sekarang? Apa yang terjadi padanya setelah itu? Apakah Erasta baik-baik saja?
Ini tidak adil.
"Ailou," panggil Rora akhirnya.
Dalam sekejap, sosok lelaki berjubah gelap muncul di belakangnya. Mata Ailou yang tajam langsung tertuju pada sosok sang ratu. Tanpa ragu, ia segera berlutut.
"Ratu," suaranya dalam dan penuh hormat.
Segera setelah Rora keluar segel dan muncul di hutan belantara, sejak saat itu Ailou merasakan kehadiran ratunya kembali. Ailou segera melesat dan mengikuti Rora dalam diam dan jarak yang aman sama seperti sebelum-sebelumnya.
Saat Rora masuk ke dalam segel, Ailou tidak bisa mengikuti masuk dan hanya bisa menunggu Ratunya itu keluar segel untuk kembali mengabdi.
"Bagaimana keadaan Erasta?" tanya Rora, suaranya terdengar sedikit bergetar.
Ailou terdiam sejenak sebelum menjawab, "Raja tidak menunjukkan perubahan. Sejak kepergian Ratu, beliau tidak pernah beristirahat. Segera setelah beliau pulih, beliau mengambil seluruh tugas Ratu dan memastikan kerajaan tetap berjalan dengan baik. Tidak ada satu pun yang berani mempertanyakan keadaannya."
Rora mengepalkan tangan. Ia bisa membayangkan Erasta yang tetap tersenyum di depan rakyatnya, bekerja tanpa lelah, seolah kehilangan dirinya bukanlah masalah besar. Tapi Rora tahu lebih baik. Erasta tidak akan menunjukkan kelemahannya di depan siapa pun.
"Ratu ingin aku menyampaikan sesuatu pada Raja?" tanya Ailou, melihat kegelisahan di wajah Rora.
Rora menarik napas panjang. "Aku... belum tahu. Aku ingin menjelaskan segalanya padanya. Tapi..." Matanya kembali tertuju pada tabir pelindung. "Aku juga tidak bisa berpura-pura tidak ingin menemui Axe."
Ailou mengamati ekspresi Rora dengan tenang. "Keputusan tetap di tangan Ratu. Hamba siap menjalankan perintah."
Rora terdiam. Ada dua jalan di hadapannya.
Dan keduanya sama sulitnya.
"Aku akan ke Xyseki," ucap Rora pada akhirnya. Ailou terkejut namun tidak bertanya lebih banyak. Ia hanya mengikuti tuannya.
Tanpa suara, ia hanya mengikuti tuannya yang tiba-tiba berlari menjauh dari tabir pelindung.
Rora tidak jadi menemui Axe. Hatinya terasa terbelah—separuhnya bersama Axe, separuhnya bersama Erasta. Bagaimana mungkin ia bisa memilih? Ia tidak tahu. Yang ia tahu hanyalah bahwa ia harus pergi. Maka, ia terus berlari, melewati hutan lebat menuju Xyseki.
Ketika ia tiba di asrama, Paman yang berjaga terkejut melihat keadaannya. Kakinya berlumuran lumpur, rambutnya berantakan terkena angin, dan bajunya penuh robekan akibat ranting pohon. Nafasnya masih tersengal, matanya menyimpan kebingungan dan kesedihan yang dalam.
Ailou, yang berdiri di belakangnya, hanya memberi isyarat agar tak ada yang bertanya. Paman mengerti. Tanpa sepatah kata, ia mempersilakan Rora masuk. Para penghuni Xyseki pun diam, tidak berani membuat kegaduhan. Mereka hanya mengurus perlengkapan Rora dalam kesunyian, seolah memahami bahwa ini bukan waktu yang tepat untuk berbicara.
Setelah membersihkan diri, Rora kembali dengan penampilan yang jauh lebih baik. Pakaian bersih dan rambut yang tertata tidak bisa menyembunyikan raut wajahnya yang masih lesu dan penuh kesedihan.
Di meja makan, semangkuk bubur hangat sudah tersedia untuknya. Paman menyiapkannya tanpa berkata apa-apa. Rora mengambil sendok dan mulai makan perlahan.
Lalu, tanpa suara, air matanya jatuh.
Ia menangis dalam keheningan.
Namun, meski dadanya terasa sesak, ia tetap menghabiskan buburnya sampai suapan terakhir. Seolah ini adalah makanan terakhirnya sebelum menghadapi sesuatu yang lebih besar. Sesuatu yang akan menentukan ke mana hatinya benar-benar ingin pergi.
Dengan cepat, Rora mengusap air matanya dan menguatkan hatinya. Ia menarik napas dalam sebelum berkata dengan tegas,
"Paman, aku akan masuk ke daerah terlarang. Aku akan tinggal di sana sampai Axe pulih dan bisa menemuiku di sini. Selama itu, aku tidak ingin ada tamu selain Axe."
Paman terkejut. Ia ingin mencegahnya, tapi sebelum sempat berbicara lebih jauh, Ailou mengangkat tangan, memberi isyarat untuk tidak berdebat. Paman hanya bisa menelan kembali kata-katanya dan menghela napas berat.
"Baiklah," jawabnya akhirnya, meskipun jelas tidak setuju.
Tanpa ragu, Rora melangkah menuju daerah terlarang.
Tempat itu bukan sekadar hutan biasa. Itu adalah bagian paling berbahaya dari Xyseki, tempat di mana ilusi begitu kuat hingga siapa pun yang masuk hampir tak pernah bisa keluar. Mereka yang berhasil kembali pun jarang sekali dalam keadaan normal. Mental mereka akan terguncang, batas antara kenyataan dan khayalan menjadi kabur.
Namun, Rora tidak peduli. Ia tahu ini bukan taman bermain, tetapi ia butuh tempat yang benar-benar aman. Tempat di mana ia bisa berpikir jernih, menjauh dari dunia luar, dan menenangkan pikirannya.
Ia hanya ingin bertemu Axe lebih dulu, ingin meluruskan segalanya sebelum akhirnya menghadapi Erasta. Jika Erasta masih ada untuknya sampai saat itu tiba.
Rora menatap gerbang yang menjulang di depannya, diam sejenak. Dalam hatinya, ia bertanya—kenapa harus dirinya yang terbebani dengan takdir seperti ini?
Kenapa ia tidak bisa lahir di keluarga sederhana, menjalani kehidupan tanpa beban, bermain, tertawa, dan belajar seperti anak-anak biasa?
Ia hanya bisa tersenyum kecil, pahit.
Lalu, dengan mantap, ia melangkah masuk.
Gerbang di belakangnya tertutup rapat.
Di masa lalu, Rora dan Axe pernah masuk ke daerah terlarang bersama. Mereka mengira hanya berada di dalam selama satu jam, tetapi kenyataannya, mereka telah hilang selama seminggu penuh. Anehnya, mereka kembali dalam keadaan normal tanpa ada efek samping yang berarti. Namun, sekarang Rora sendirian di sana, dan tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi padanya.
Di dalam hutan, Rora duduk bersila, menutup matanya, dan mulai bermeditasi. Ia mencoba menghalau ilusi yang mulai merayap ke pikirannya. Tempat ini adalah pusaran ilusi yang bisa membuat siapa saja kehilangan diri mereka sendiri, tetapi Rora berusaha bertahan.
Sementara itu, di desa, Axe perlahan mulai sadar. Tubuhnya masih terasa lemah, tapi ia sudah bisa duduk. Yang membuatnya terkejut, saat Rora tadi mendekati tabir pelindung desa, kesehatannya mulai membaik dengan sangat cepat.
Axe menghela napas, menatap langit-langit dengan pandangan menerawang. Ia tahu Rora ada di sana tadi. Ia bisa merasakannya. Tapi sekarang, ia tidak bisa menemuinya. Dengan kondisi tubuh yang belum sepenuhnya pulih, bahkan untuk berjalan pun ia masih kesulitan.
Saat itu, gadis yang merawat Axe datang mendekat dengan langkah pelan. Tanpa banyak bicara, ia mulai merawat luka-luka Axe dengan penuh ketelatenan. Jemarinya bergerak hati-hati, membalut perban dengan rapi.
Axe menatapnya sejenak. Ini pertama kalinya ia benar-benar punya kesempatan untuk berbicara dengannya.
Bersambung...
KAMU SEDANG MEMBACA
My Vampire And My Werewolf
Werewolf----- ------ Tak pernah terbayang olehku hanya karena tak sengaja menemukan seorang vampire yang tergeletak tak berdaya, itu dapat mempengaruhi kehidupanku bahkan menentukan kematianku. Atau mungkin ini adalah sebuah kesengajaan? _Rora Ini bukan t...
