Axe sebenarnya sudah tahu bahwa gadis itu adalah orang yang merawatnya selama ini. Namun, karena tubuhnya masih terlalu lemah, ia tidak bisa berbicara sebelumnya. Meskipun gadis itu memanggilnya tepat waktu dan merawatnya dengan baik, segel pemusnah Drac tetap berdampak pada tubuhnya. Rasanya seperti seluruh tubuhnya diremukkan.
Sekarang, setelah suaranya mulai kembali, Axe akhirnya bisa berbicara. Dengan suara yang masih sedikit serak, ia berkata, "Terima kasih. Tanpamu, aku mungkin tidak akan sebaik ini."
Gadis itu tersenyum kecil, jemarinya masih sibuk mengganti perban di lengan Axe. "Tidak perlu berterima kasih. Kita satu rumpun, bukan? Justru aku yang berterima kasih karena diizinkan merawat seorang Moran sepertimu."
Axe mengerutkan kening, menatapnya dengan sedikit kebingungan. "Kau tahu aku?"
Gadis itu menatap Axe sejenak sebelum melanjutkan, "Aku mendengar ada penduduk baru di rumah paling ujung desa. Awalnya, aku tidak menyangka kalau itu adalah pondokmu—Pondok seorang Moran. Tetua tidak pernah mengatakan bahwa kau Moran. Kami semua mengira kau hanya keturunan jauh yang kebetulan baru menemukan tempat ini."
Ia tersenyum kecil, melanjutkan dengan nada lebih pelan, "Aku tak menyangka bahwa nama yang kupanggil saat guntur adalah namamu yang sebenarnya."
Axe terdiam sejenak, pikirannya berusaha mencerna kata-kata sang gadis. Memang benar, ia adalah pemilik pondok yang dimaksud. Ketika ia menghilang tiga bulan lalu—di saat Theve berada di asrama Rhebeia—ia sebenarnya berada di desa ini. Ia menemukan sebuah tempat yang hanya bisa dimasuki oleh Moran dan keturunannya. Tempat itu terasa seperti rumah, sesuatu yang telah lama ia cari.
Itulah mengapa ia memutuskan untuk membangun pondok di desa ini. Selama beberapa bulan, ia sibuk mengurus banyak hal di sini. Ia ingin menjadikan tempat ini sebagai kejutan untuk Theve—sebuah tempat yang bisa mereka tinggali bersama suatu hari nanti. Tapi sekarang, dengan segala yang telah terjadi, ia mulai bertanya-tanya... apakah rencana itu masih mungkin terwujud?
Pikirannya kembali mencerna kata-kata sang gadis. Axe mengerutkan kening, pikirannya penuh tanda tanya. Ia masih sulit menerima kenyataan bahwa gadis itu memanggil namanya dengan bunga pemanggil raga. Bagaimana mungkin? Ia bahkan tidak mengenalnya sebelumnya.
"Aku bertanya... kau memanggil namaku?" tanyanya dengan nada penuh kebingungan.
Gadis itu mengangguk pelan. "Ya, aku memanggil namamu dengan bunga pemanggil raga. Itu sebabnya kau bisa kembali ke sini. Tetua menjelaskan bahwa kau terperangkap dalam segel Drac. Jika aku terlambat sedikit saja, kau mungkin tidak akan bisa terpanggil lagi."
Axe semakin bingung. "Tetua memberikan bunga itu dan juga namaku padamu?"
Seingatnya, ia tidak pernah bertemu dengan gadis tersebut sebelumnya. Tidak mungkin gadis tahu namanya, apalagi memiliki sesuatu yang bisa memanggilnya kembali. Namun, sebelum ia sempat berkata lebih jauh, Tetua tiba-tiba muncul dari balik pintu, berjalan mendekat dengan tenang.
"Benar, aku yang memberikannya." Tetua menatap Axe dalam, lalu melanjutkan, "Namun, bunga itu bukan berasal dariku. Pangeran Arega yang memberikannya kepadaku."
Nama itu membuat Axe tersentak. Arega?
Tetua melanjutkan dengan suara tenang, "Pangeran Arega berpesan agar bunga ini diberikan kepada siapa pun yang mampu membuatnya mekar. Saat itu, hanya Putri yang kupikir bisa melakukannya. Ia juga berkata bahwa jika bunga ini mulai menggugurkan kelopaknya satu demi satu, maka saat kelopak terakhir gugur, panggil nama dalam kertas ini 3 kali."
Axe terdiam. Sekarang semuanya mulai masuk akal.
Tetua melanjutkan lagi, "Tidak perlu mengawasi kapan kelopak terakhir gugur. Ketika saatnya tiba, angin akan bertiup kencang, petir akan menyambar, dan ketika tanda-tanda itu muncul, maka saat itulah nama dalam kertas ini harus disebut."
KAMU SEDANG MEMBACA
My Vampire And My Werewolf
Werewolf----- ------ Tak pernah terbayang olehku hanya karena tak sengaja menemukan seorang vampire yang tergeletak tak berdaya, itu dapat mempengaruhi kehidupanku bahkan menentukan kematianku. Atau mungkin ini adalah sebuah kesengajaan? _Rora Ini bukan t...
