"Aku juga lelah, Theve! Tapi aku tidak pernah berpikir untuk meninggalkanmu!" suara Axe meninggi, frustrasi memenuhi dadanya.
Theve tersenyum kecil, namun air matanya mulai mengalir. "Kau tahu, kadang ada hal yang tidak bisa kita paksakan. Aku harus pergi, Axe."
Axe merasakan dadanya sesak. "Katakan kalau ini hanya ujian. Katakan kalau kau akan kembali padaku setelah kau menemukan jawabanmu. Aku akan menunggu. Aku akan selalu menunggu."
Theve terdiam, hatinya berperang dengan keinginannya sendiri. Tapi akhirnya, ia melepaskan genggaman tangan Axe dan mundur selangkah.
. . . .
Theve menatapnya dengan tatapan yang penuh kesedihan. "Kita terikat pada takdir yang begitu rumit," katanya perlahan. "Sudah waktunya kita melepas takdir itu dan aku memilih melepasmu."
Axe terdiam, seolah waktu berhenti. Kejutan dan rasa sakit bercampur dalam dirinya, membuatnya hampir tak bisa berkata-kata.
Theve masih melanjutkan, "Aku tahu ini berat, tapi ini adalah jalan yang harus kita pilih, ini takdir kita selanjutnya. Aku minta maaf jika banyak hal yang tidak sesuai dengan keinginanmu. Aku memilih bersama Erasta."
Axe terpaku, tidak tahu bagaimana harus menjawab. Theve menyeka air mata yang hampir jatuh, lalu dengan suara penuh keyakinan, ia berkata, "Bisakah kita hidup terpisah?"
Suasana terasa mencekam, dan Axe merasakan kepedihan yang dalam. Ia ingin berteriak, ingin mempertahankan semuanya, tetapi ia tahu bahwa terkadang, dalam hidup, kita harus menerima kenyataan yang paling pahit sekalipun.
Theve melanjutkan, "Kita hanya akan bertemu tiga bulan sekali. Karena sekarang, aku sudah memiliki suami."
Axe hanya bisa menatapnya, perasaan terombang-ambing antara kebingungan dan kehilangan yang dalam. Dengan langkah berat, Theve meninggalkan tempat itu, berjalan keluar dari daerah terlarang, diikuti oleh Axe yang masih berat melangkah, karena setelah keluar dari tempat ini mereka benar-benar akan berpisah.
Theve telah memutuskan lalu apa yang bisa Axe lakukan selain menerimanya, dia selalu mengabulkan apa permintaan Theve dan sekarang juga akan begitu. Mereka keluar dari hutan Zyseki dengan canggung, para prajutir di sana bisa merasakan suasana yang menyedihkan, mereka tidak berani bertanya, bahkan paman Atmir juga diam.
.
.
.
.
Setelah berpisah, mereka kembali ke kerajaan masing-masing.
Rora kembali ke istana, dengan hati yang kosong penuh keputus-asaan. Langkah-langkahnya menyusuri lorong megah kerajaan terasa berat, seolah setiap batu yang dipijaknya menyerap sisa-sisa keberanian yang masih ia genggam.
Di pelataran utama, ia melihat Erasta sedang berdiskusi dengan seorang perempuan berambut hitam kebiruan, kulit pucat seputih bulan, dan mata merah yang memancarkan ketenangan yang memikat—Putri Nyxelia, pewaris kerajaan vampire dari Utara. Mereka terlihat begitu akrab dan ramah.
Tawa kecil Nyxelia terdengar menggema lembut, dan tatapan Erasta kepadanya terlalu ringan untuk disebut sekadar diplomasi.
Rora mengabaikan mereka, melangkah masuk ke dalam istana tanpa memberikan sepatah kata pun, meski hatinya semakin terasa terguncang oleh apa yang baru saja dilihatnya.
Erasta terkejut melihat Ratunya kembali, dengan tak menentu ia segera ingin menyusulnya. Namun itu tak akan terlihat sopan saat ini, apalagi ia sedang menemani tamu kerajaan tetangga.
Perlahan Erasta menghentikan pembicaraannya sejenak, berpamitan dengan senyum tipis dan suara tenang, ia memberi isyarat kepada dua prajurit di belakangnya untuk mengantar Nyxelia ke ruang tamu kerajaan.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Vampire And My Werewolf
Werewolf----- ------ Tak pernah terbayang olehku hanya karena tak sengaja menemukan seorang vampire yang tergeletak tak berdaya, itu dapat mempengaruhi kehidupanku bahkan menentukan kematianku. Atau mungkin ini adalah sebuah kesengajaan? _Rora Ini bukan t...
