Setelah perperangan yang begitu sengit, Arega segera memerintahkan pasukan yang tersisa untuk segera membersihkan kekacauan.
Arega memastikan Drac benar-benar musnah, tanpa peluang untuk dibangkitkan kembali. Ia membakar seluruh tempat itu hingga menjadi abu, lalu membasuhnya dengan air suci, memastikan tidak ada sisa-sisa yang tersisa. Tidak ada jejak, tidak ada harapan bagi kebangkitan Drac.
Mereka telah menang. Namun, kemenangan ini terasa pahit. Ibarat menang menjadi arang, kalah menjadi abu.
Semua yang luka-luka segera dibawa dan diobati, sedangkan Rora, Arega sendiri yang menggendongnya menuju ruangan yang sudah disiapkan.
Dengan perlahan Arega membaringkan Rora, seakan-akan takut jika adiknya bangun dari tidur nyenyaknya. Sebelum keluar ruangan, Arega memakaikan kalung ke Rora. "Kau akan baik-baik saja, karena kau adikku," setelah mencium dahi Rora, ia segera keluar ruangan.
Axe telah ikut lenyap. Rora terluka parah dan masih terjebak dalam koma. Erasta remuk, tubuhnya hampir hancur. Redelios kehilangan jiwanya—Lena telah tiada, gagal menghadapi hasrat balas dendamnya. Erion terluka, dikhianati oleh orang yang ia percaya. Elfathan menangis hebat, merasa bersalah karena membunuh adiknya sendiri. Seirei kehilangan kakaknya. Sejahat apa pun Blevine, ia tetaplah satu-satunya keluarga yang pernah mengurusnya.
Alprom sangat gusar melihat kondisi Rora, ia kehilangan ketenangannya setelah melihat kehancuran ini.
Hanya Dave dan Arega yang tampak tenang. Namun, Dave menatap Arega dengan ekspresi sulit diartikan.
Arega akhirnya angkat bicara. "Aku membawa Rora ke ruangan khusus."
Ruangan itu berlapis kaca, hanya bisa dikunjungi dari luar. Mereka bisa melihatnya, tetapi tak bisa masuk.
Hari-hari berlalu.
Sebulan sudah sejak pertempuran berakhir. Kerusakan di kerajaan telah dipulihkan, meski tidak sepenuhnya. Luka-luka fisik sembuh perlahan, duka yang dulu mendalam mulai berganti dengan keikhlasan. Kerajaan kembali dipenuhi sukacita. Erasta juga telah pulih, meskipun belum sepenuhnya.
Rora masih tak kunjung sadar dan itu membuat Alprom murka. Saat ini mereka semua mengunjungi Rora, melihat keadaannya yang seperti putri tidur.
Saat Alprom melihat lekat-lekat Rora, kemarahannya memuncak kembali, ia berteriak marah kepada Arega. "Kenapa kau tidak melakukan apa pun?! Kau selalu punya cara untuk menyelesaikan segalanya! Kenapa sekarang kau diam saja saat ini?!"
Semua orang menahan napas. Tak ada yang berani menyela. Arega diam sejenak sebelum akhirnya berkata, suaranya rendah tetapi tegas. "Alam sadar Rora... tidak memiliki keinginan untuk hidup lagi."
Hening menyelimuti ruangan.
"Pandangan terakhirnya adalah Axe musnah. Itu yang tersisa dalam benaknya." Arega terhenti di tengah kalimatnya. Ia menghela napas panjang, seolah ragu untuk melanjutkan.
Namun, sesuatu dalam dirinya membuatnya melanjutkan—karena masih ada harapan. "Namun,..."
Alprom bertanya dengan tidak sabar, "Apa?"
Dave menjawab, "Axe masih hidup. Itu sebabnya Rora hanya koma, dia tidak mati."
Semua terkejut, dan Alprom semakin menggila, "Apa? Di mana Axe kalau dia masih hidup? Kenapa kalian tidak membawanya kemari?"
Semua seakan lupa bahwa Dave adalah murid Arega yang paling berhasil dididik. Ia tahu semua langkah Arega tanpa perlu dibicarakan. Dave hanya menatap Arega, memberi kesempatan padanya untuk menjelaskan lebih lanjut.
Arega menjelaskan, "Axe belum pulih sepenuhnya, itulah sebabnya Rora juga belum sadar. Axe sekarang berada di tempat yang tidak bisa kita jangkau, meskipun kita ingin menemuinya. Hanya para Moran dan keturunannya yang bisa. Aku tidak bisa memberitahu kalian lebih awal karena kalian tidak akan fokus untuk memperbaiki kerajaan. Kita juga tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu Axe bangun dan pulih."
Alprom sangat marah kepada Arega karena menyembunyikan fakta ini, namun harapan bahwa Rora masih bisa bangun dan pulih membuat hatinya sedikit lega.
Erasta merasa sakit mendengarnya meskipun dia suaminya, takdir Rora dan Axe jauh lebih besar dan mengikat.
Tanpa diduga, jari-jari Rora bergerak. Tidak lama kemudian, tubuhnya kejang. Arega bergumam, "Axe telah sadar."
Segera, Alprom ingin masuk untuk menenangkan Rora, tetapi Arega melarangnya, "Ini adalah prosesnya. Kau tidak boleh masuk."
Alprom tetap memaksa, tetapi Arega kemudian memanggil nama Dave. Tak lama kemudian, Dave memukul Alprom hingga ia pingsan. Arega menatap Rora, mengamati apa yang akan terjadi selanjutnya.
Mata Rora terbuka terlihat berwarna merah menyala, dan ia mulai mengamuk. Rora bangun, tetapi tidak bisa keluar dari ruangan itu , dia mencoba menghancurkan lapisan kaca, namun tak berhasil. Amarahnya semakin memuncak. Arega melihat kemarahan Rora yang luar biasa. Pandangan terakhir Rora terjebak pada Axe yang berada dalam segel.
Sekarang kemarahan Rora sama persis saat terakhir kali sebelum ia pingsan.
Arega menyuruh bawahannya mengucapkan mantra, dan portal di dalam lapisan kaca terbuka. Rora memasukinya, dan portal itu tertutup setelahnya.
Erasta berteriak, "Tidak, Veily!"
Keadaan menjadi hening. Dave memapah Alprom, sementara Erasta masih terpaku, menunggu Arega berbicara lagi. Arega tidak menatap mereka dan hanya berkata, "Dave, kau adalah didikan terbaikku, kau tahu apa yang harus dilakukan. Erasta, kau mungkin tidak pernah dalam pengajaranku, tapi aku tahu kecerdasanmu setara denganku. Kau pasti akan memahami dan beradaptasi dengan cepat."
Arega kemudian pergi meninggalkan mereka. Dave mengeluarkan suara sebelum Arega benar-benar pergi, "Ini yang terakhir. Kau guruku, aku mengikutimu. Tapi Alprom adalah temanku, tuanku, dan rajaku. Aku tidak akan lagi mengkhianatinya."
Arega tersenyum kecil, "Dave, kau tidak pernah berkhianat. Kau hanya menghindarkan dia dari kemungkinan terburuk." Lalu Arega benar-benar pergi.
Erasta meminta penjelasan dari Dave dengan sorot matanya. Dave menjawab, "Bantu aku membawa Alprom, dan akan kuberitahu setelah ia sadar."
.
.
Dave menghela napas sebelum mulai menjelaskan. Ia tahu betul situasi saat ini, Alprom yang marah, dan Erasta yang menunggu dengan sabar namun juga tak sabar.
Alprom dipukul keras, terkejut, karena ia tak menyangka Dave masih berpihak pada ka Arega. Sejauh ini, memang hanya Dave yang bisa mengendalikan Alprom, bahkan melumpuhkannya jika perlu.
"Aku tidak tahu pasti, tapi aku bisa sedikit memahami alur yang akan diciptakan oleh kak Arega. Rora dalam keadaan murka, dan kita tidak akan bisa menahan kemurkaannya. Oleh karena itu, kak Arega menyegel Rora ke dalam sebuah dimensi. Di sana, Rora akan menghadapi makhluk-makhluk, dari yang tingkat rendah hingga tinggi. Setiap kali Rora mengalahkan satu siluman, kesadarannya akan kembali sedikit demi sedikit, dan kemurkaannya akan mereda karena sudah terlampiaskan. Rora hanya bisa keluar jika jiwanya sudah bersih sepenuhnya."
Dave berhenti sejenak, memandang mereka berdua. Kemudian ia melanjutkan.
"Sedangkan Axe... jika kata kak Arega, ia berada di tempat yang hanya bisa diakses oleh para Moran. Mungkin itu adalah Hutan Moran, tempat yang hanya bisa dimasuki oleh keturunan Moran terdahulu dan para Moran itu sendiri. Aku pernah melihat kak Arega membeli bunga pemanggil raga. Kutebak, itu dititipkan kepada seorang keturunan Moran. Saat waktunya tiba, orang tersebut akan memanggil nama Axe, sehingga raga Axe bisa berpindah, terutama saat segel Drac mulai memusnahkannya. Melihat Rora yang bisa bangkit artinya Axe berhasil dipindahkan sebelum segel itu memunashkan Drac." Dave melihat Alprom dan Erasta yang masih tenang mendengar penjelasannya.
"Kalian harus ingat Rora dan Axe masih satu kesatuan, salah satu dari mereka belum membaca mantra pemindah jiwa. Artinya jika Axe masih hidup maka Rora juga masih hidup, dan jika Axe meninggal maka Rora juga akan meninggal," Dave mengingatkan fakta yang mereka lupakan karena terfokus pada Rora yang tak bangun.
"Bagaimana Kak Arega bisa menemukan keturunan moran? Bukankah kak Arega tidak bisa masuk hutan itu?" Erasta bertanya kebingungan.
Bersambung
KAMU SEDANG MEMBACA
My Vampire And My Werewolf
Lobisomem----- ------ Tak pernah terbayang olehku hanya karena tak sengaja menemukan seorang vampire yang tergeletak tak berdaya, itu dapat mempengaruhi kehidupanku bahkan menentukan kematianku. Atau mungkin ini adalah sebuah kesengajaan? _Rora Ini bukan t...
