Pertempuran berlangsung sengit. Masing-masing bertarung dengan lawannya, menghunuskan senjata dan mengeluarkan kemampuan mereka tanpa ragu. Sementara Erasta masih berusaha menembus pasukan Drac yang menghalanginya.
Di sisi lain Redelios (Red) dan Berion (Erion) dengan ganas menghabisi makhluk-makhluk musuh yang terus berdatangan. Tak ada yang bisa menghalangi mereka. Tubuh-tubuh musuh bergelimpangan, hingga yang tersisa hanya Red dan Erion di tengah area pertempuran dekat pantai itu.
Pasukan utama sudah maju ke tengah.
Erion menghela napas, bersiap untuk bergegas menyusul yang lain. "Ayo, Red! Kita harus segera bergerak!"
Namun, Red tetap diam di tempatnya. Ia menatap Erion lama, seakan sedang mempertimbangkan sesuatu.
"Tidak,"
Erion terhenti. Matanya menyipit. "Apa maksudmu?"
"Ini waktunya kau menghadapiku," jawab Red dengan suara tenang namun sorot matanya berbahaya.
"Apa?" Erion menatapnya, bingung tentu saja. Di saat genting seperti ini apakah Redelios sedang bercanda dengannya.
"Lima orang dalam surat itu—aku, Lena, Nava, Nure, dan si kembar," Red melanjutkan.
Erion mengernyit, kebingungan semakin menyelimutinya. "Apa maksudmu, Red?"
Tiba-tiba, Dave datang dengan langkah santai, memasuki medan yang penuh dengan mayat musuh. "Wow, sudah dimulai rupanya," katanya dengan senyum miring.
"Lena dan Redelios berada di pihak Drac," kata Dave, seakan menjelaskan sesuatu yang sudah jelas.
Erion menegang. "Apa...?"
"Erion, kau harus memilih," kata Lena, yang kini terlihat dalam portal yang dibuka Dave. Lena nampak duduk di sebuah ruangan dengan segel di sekitarnya. "Bergabunglah dengan kami, atau lawan kami." ucap Lena sebelum portal itu kembali menutup.
Dave telah memperlihatkan kondisi Lena saat ini di kerajaan Raimor.
Erion merasa kepalanya berputar. "Tolong... seseorang jelaskan semuanya padaku sekarang!"
"Lena ingin kekuatan," kata Dave. "Dia ingin membalas semua yang pernah dilakukan orang-orang terhadapnya dan ibunya."
Erion menoleh ke Lena dengan penuh keterkejutan. "Lena..."
"Lalu Redelios?" tanyanya dengan suara bergetar.
"Redelios hanya mematuhi apa pun yang Lena inginkan," jawab Dave santai.
Erion semakin tidak percaya. "Kenapa?! Aku adalah matenya! Kenapa Red terlihat lebih dekat dengan Lena?"
"Tidak, Erion." Suara Dave terdengar tegas. "Mate-mu bukan Lena."
Erion terdiam mendengarnya, jika ada efek khusus mungkin sekarang ada petir yang menyambar hatinya.
"Redelios yang membuatmu percaya bahwa Lena adalah mate-mu," lanjut Dave. "Kau memang nyaman dengan Lena, tapi hanya sebagai teman, bukan pasangan. Kau selalu menjaga batasanmu dengan Lena dengan dalih kalian belum menikah, tapi iyakah itu alasan yang sesungguhnya? Atau kau memang merasa tidak enak hati untuk menyentuhnya meskipun entah kenapa?"
Erion terengah, pikirannya mulai kacau, yang dikatakan Dave ada benarnya.
"Kau lebih lembut kepada Lena karena dia mate sahabatmu. Ada ikatan kekeluargaan di antara kalian, bukan ikatan pasangan. Itulah kenapa kau mudah percaya bahwa Lena adalah milikmu."
Lalu Dave menatapnya dengan seringai. "Tapi kenyataannya... pasangan sejati Lena adalah Redelios."
Hati Erion berdebar keras. Kebenaran itu benar-benar menghantamnya seperti petir.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Vampire And My Werewolf
Werewolf----- ------ Tak pernah terbayang olehku hanya karena tak sengaja menemukan seorang vampire yang tergeletak tak berdaya, itu dapat mempengaruhi kehidupanku bahkan menentukan kematianku. Atau mungkin ini adalah sebuah kesengajaan? _Rora Ini bukan t...
