"Bagaimana kakak bisa bertemu dengan keturunan Moran jika kakak tak bisa memasuki wilayah mereka?" tanya Erasta, masih penuh rasa ingin tahu.
"Kakak memang tidak bisa masuk, namun bukan berarti mereka tidak bisa keluar," jawab Dave dengan tenang. "Aku yakin kakak sudah merencanakan ini, sehingga ia tampak tenang meskipun Rora masih koma kemarin-kemarin. Aku tak tahu pasti bagaimana kakak melakukannya, tapi lihat saja Blevine dan Seirei. Kakak biasa menemukan mereka, jadi kenapa keturunan Moran tidak bisa?" Dave membalikkan pertanyaan seakan meminta persetujuan.
"Ini masuk akal." Alprom menyetujui ucapan Dave.
"Sekarang, kita hanya bisa menunggu Rora keluar. Ia akan cepat pulih karena kekuatan murkanya cukup besar. Saat kesadarannya kembali, ia akan merasakan bahwa Axe masih hidup dan ada di suatu tempat. Ia akan menjemputnya." Dave berbicara pelan, tetapi dengan keyakinan yang tak tergoyahkan.
Ucapannya juga membujuk Alprom dan Erasta agar tidak terlalu khawatir terhadap Rora.
Erasta dan Alprom hanya bisa pasrah, saat itu, tidak ada yang bisa mereka lakukan. Dave hanya memandang mereka berdua dengan pandangan kosong, seakan memikirkan segala kemungkinan yang akan datang.
.
.
.
Sementara itu, Rora berjuang menghadapi satu per satu makhluk, mengalahkannya di setiap tingkatan. Setiap pertarungan membawa Rora sedikit lebih dekat pada kesadarannya, meskipun kemurkaannya masih besar.
Di tempat lain, Axe benar-benar berada di Hutan Moran, dirawat oleh seorang gadis cantik. Ia adalah anak dari Moran terdahulu.
Moran biasanya hidup sangat lama, hingga mereka mencapai usia tua atau sampai Moran selanjutnya lahir. Dalam jangka waktu itu mereka akan memiliki keturunan. Ketika itu terjadi, mereka akan kembali ke desa khusus yang telah lama ada untuk masyarakat Moran dan keturunannya. Di desa ini, mereka bisa berbagi tanpa ada perbedaan status, karena sangat sulit bagi mereka untuk hidup di masyarakat biasa.
Keturunan Moran biasanya tidak menjadi manusia serigala murni dikarenakan Moran sendiri mempunyai kekuatan lain dalam tubuhnya. Dengan kekuatan yang unik jika tinggal di masyarakat biasa pasti akan menimbulkan kegaduhan, sehingga terciptalah hutan Moran. Tempat dimana keturunan moran hidup dan berkembang biak. Orang luar tidak bisa masuk kecuali mereka mate dari salah satu keturunan Moran.
Gadis yang merawat Axe adalah keturunan Moran dengan kasus khusus. Orang tua gadis itu meninggal lebih cepat karena Moran selanjutnya harus segera lahir. Saat putri tersebut lahir, kedua orang tuanya meninggal dunia. Kejadian ini bersamaan dengan kelahiran Axe dan Rora. Ketiganya lahir pada waktu yang sama, seakan-akan takdir sudah mempertemukan mereka dalam siklus hidup yang saling terkait.
Bunga pemanggil raga itu sampai ke tangan gadis itu karena seorang tetua memberikannya dan menyuruhnya merawatnya hingga bunga itu tanggal dari tangkainya. "Saat bunga ini tanggal, sebutkan nama ini tiga kali," kata tetua tersebut sambil menyerahkan secarik kertas.
Gadis itu hanya menurut tanpa bertanya lebih jauh. Ia patuh pada tetua dan yakin semua yang diminta adalah untuk kebaikan. Tetua itu sendiri mendapatkan bunga tersebut langsung dari Arega.
Saat Arega melintasi hutan, ia melihat tabir tipis yang jika tidak diamati dengan seksama, hampir tak tampak. Namun, Arega terpelajar dan menyadari keberadaan tabir tersebut. Ia membuat gempar desa dengan kumpulan mantra-mantra yang ia kuasai, membuat tabir itu bergetar dan menarik perhatian tetua yang mendatanginya untuk menanyakan maksud kedatangannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Vampire And My Werewolf
Hombres Lobo----- ------ Tak pernah terbayang olehku hanya karena tak sengaja menemukan seorang vampire yang tergeletak tak berdaya, itu dapat mempengaruhi kehidupanku bahkan menentukan kematianku. Atau mungkin ini adalah sebuah kesengajaan? _Rora Ini bukan t...
