✨5✨

248 120 295
                                        

Airin memarkirkan mobilnya di pekarangan rumah Anya, ia sengaja tak mengabari Anya terlebih dahulu karena Airin tahu akan di tolak mentah-mentah, ia menekan bel yang ada di dekat pintu.

"Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam, eh ada Airin." Kusuma tersenyum ramah.

Airin tersenyum kebetulan ayah Anya yang membukan pintu.

"Selamat sore om, Anya nya ada?"

"Ada, kamu masuk aja langsung ke kamarnya."

"Makasih om." Airin melangkah masuk menapaki anak tangga perlahan, Airin tahu bahwa pintu kamar Anya tidak terkunci jadi dia masuk seenaknya saja.

"Bisa nggak sih kalau masuk ketuk pintu dulu, ngapain lo kesini?" Tanya Anya ketus.

"Wah udah mandi nih pas banget kuy otewe." tanpa rasa bersalah Airin mengabaikan ketusnya mulut Anya.

Anya hanya mengumpat di dalam hatinya karena kelakuan sahabatnya ini.

"Mau kemana?" Anya mengernyit bingung karena Airin sudah berdandan secantik ini.

"Udah ikut aja, kita senang senang sampai malam." Airin memaksa dan tidak lupa memasang wajah memelas agar Anya mau ikut.

Sebenarnya Anya enggan untuk ikut tapi dia juga tidak mau mengecewakan Airin satu-satunya sahabat yang ia punya.

"Ya udah tunggu gue ganti baju dulu." Anya menghela napas pasrah.

Mereka berdua turun dari lantai atas, Kusuma yang melihat anaknya sudah rapi lalu tersenyum, "Wah cantik sekali anaknya ayah mau kemana nih?" Tanya kusuma.

Anya sudah tak heran dengan pujian ayahnya karena sudah hampir setiap hari ia mengatakan bahwa Anya cantik.

"Nggak tau nih yah Airin yang ngajak keluar, Anya pamit ya ayah." Anya mencium punggung tangan Kusuma di ikuti juga dengan Airin.

"Iya hati-hati jangan pulang terlalu malam."

Mereka berdua berjalan memasuki mobil Airin, kali ini Airin yang membawa mobil.

"Kita mau kemana sih?" tanya Anya yang masih penasaran.

"Udah ikut aja, jangan banyak nanya," sahut Airin.

Airin melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, setelah 20 menit perjalanan mereka sudah sampai di cafe caramel, cafe yang tak jauh dari sekolah mereka.

"Lo ngapain sih ngajak gue kesini, nggak bosen apa hampir tiap hari kesini." Anya mengernyit bingung.

Airin mengabaikan saja pertanyaan Anya, ia langsung menarik tangan Anya untuk masuk, tiba-tiba Anya menghentikan langkahnya ketika melihat sudah ada Andre Devan dan Cahyo yang ada di depan mereka.

"Tunggu-tunggu lo ngajak gue kesini cuma buat liatin lo pacaran sama buaya itu." Anya mendengus kesal sudah ia duga tidak mungkin Airin mengajaknya keluar kalau bukan untuk menemui buaya darat itu.

Airin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Kalo gue jujur lo pasti nggak mau nemenin gue."

"Itu lo tau," jawab Anya kesal.

"Sorry-sorry Anya yang cantik." Airin terkekeh.

"Kalau udah gini aja baru muji-muji." Anya melipat tangannya di atas dada.

"Hai by," sapa seorang cowok yang kini sudah melambai-lambaikan tangannya ke arah Airin dan Anya, Airin balas melambaikan tangan dan berjalan ke arah meja tersebut dan diikuti oleh Anya yang mengekor di belakangnya.

"Eh ada Anya juga," sapa Andre.

Anya hanya membalas dengan senyum samar, sudah ada Andre Devan dan Cahyo mereka memang satu paket kemana-mana selalu bertiga dan termasuk cowok populer di SMA Harapan banyak cewek-cewek yang mengidolakan mereka termasuk Airin.

Entahlah awalnya Anya ragu kalau sahabatnya itu berpacaran dengan Andre yang ia tau Andre selalu berganti ganti pacar namanya juga buaya.

Anya sudah mengingatkan bahwa Airin jangan menjalin hubungan bersama Andre tapi Airin ngeyel katanya ia mau ngerasain pacaran sama cowok populer.

Kalau saja Andre berani macam-macam dengan Airin Anya tak segan-segan akan memutilasi cowok itu.

"Hai guys." terdengar suara cowok yang menyapa mereka, lalu kompak membuat mereka menoleh ke arah suara tersebut.

"Sial kok ada cowok gila ini," batin Anya.

"Kenapa lo nggak bilang kalo ada Bian juga kesini," bisik Anya kepada Airin.

"Gue nggak tau apa-apa soal Bian, mungkin aja Andre yang ngajak dia kesini, kan Bian sahabatnya Andre," jelas Airin.

Anya baru tau kalau Bian dan Andre sahabatan, rasanya Anya benar-benar terjebak sekarang.

"Eh ada pacar gue disini." semua pandangan langsung tertuju kepada Bian dan Anya.

"Udah jadian aja lo," sahut Devan.

"Iya, gue yang udah dari awal di SMA Harapan aja masih jomblo," sambung Cahyo.

Airin yang tidak mengerti maksud dari ucapan Bian tak segan untuk langsung bertanya, "Maksudnya pacar siapa? Anya pacar lo nggak mungkin banget masa gue sahabatnya nggak tau apa-apa." Airin melirik Anya yang kini tertunduk.

"Tanya aja langsung sama Anya nya." Bian tersenyum.

"Sialan memang nih cowok bisa-bisanya bicara seenaknya," Batin Anya.

"Gue mau pulang!" Anya langsung berdiri dari tempat duduknya dan mempercepat langkahnya menuju pintu keluar, Bian langsung mengejar Anya, Andre Devan Cahyo dan Airin tidak mengerti apa yang saat ini terjadi pada mereka berdua.

Airin sengaja tak mengejar Anya karena menurutnya dia tidak perlu ikut campur dalam masalah yang terjadi sekarang, Airin tau betul bahwa Anya mampu menyelesaikan semuanya.
























Haihai jangan lupa vote komen ya ❤️
Kalo ada yang typo tolong di benerin oke 🙏

Bian Dan Anya Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang