Anya mencharger ponselnya dan bersiap untuk mandi, entah mengapa sejak pulang tadi ada senyum yang terus mengembang tanpa dia sadari.
Setelah hampir 10 menit berkutat di dalam kamar mandi Anya keluar sudah siap dengan piyama tidurnya dan berniat untuk segera tidur.
Drttt... Drttt...
Anya melirik ponselnya yang berada di atas nakas ternyata Airin yang menelponnya, Anya meraih ponselnya dan menekan tombol hijau di layar.
"Hallo, Anya lo dimana? kenapa hp lo mati? lo pulang naik apa? kenapa lo nggak ngabarin gue sih kan gue panik tau." Airin seenaknya saja membeo membuat Anya sedikit menjauh kan ponselnya dari telinga karena suara Airin benar-benar cempreng.
"Ya ampun, bisa nggak sih lo nanya satu-satu batere gue habis dan gue pulang sama Bian," jawab Anya ketus.
"Lo harus jelasin sama gue ada apa sebenarnya lo sama Bian, kok gue nggak tau apa-apa, gue masih sahabat lo kan Nya," gerutu Airin.
"Besok aja ceritanya sekalian gue mau jambak rambut lo, karena lo ngajak gue ketemu buaya lo dan berujung gue harus pulang sama Bian." Anya benar-benar kesal kali ini.
"Ih maafin dong jangan kasar gitu serem amat jadi cewek," lirih Airin.
"Bodo ah, bye gue mau tidur." Anya memutus sambungan teleponnya, dan langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Drttt...Drttt...
Anya mengehela napas pasrah kenapa lagi Airin menelponnya, Anya meraih ponselnya nomor yang tidak ada namanya, Anya mengabaikannya, tapi tetap saja nomor tersebut menelponnya sampai berkali-kali.
Karena Anya penasaran lalu ia mengangkat telponnya, "Hallo, ini siapa?" tanya Anya.
"Lo block nomor gue." Anya terkejut dan tau suara siapa itu.
"Emang ada apa lagi ah!!" Anya mengerutkan dahinya.
"Gue cuma mau ngabarin kalau gue udah nyampe, ini nomor nyokap gue," jawab Bian santai.
"Terus apa hubungan nya sama gue!!" Anya menaikan volume suaranya.
"Gue cuma ngabarin jangan ketus mulu sih," gerutu Bian.
"Iya, apa hubungan nya lo harus ngabarin gue," bentak Anya.
"Nggak perlu gue jelasin lo udah paham kok, ya udah tidur gih besok gue jemput bye."
Belum sempat Anya menjawab, sambungan telponnya sudah terputus.
"Sialan ni cowok seenaknya aja matiin telpon, kenapa gue harus berhadapan dengan cowok kayak gitu sih." Anya mengacak rambut nya frustasi.
***
Hari ini Bian sengaja bangun agak pagi karena berniat menjemput Anya, dia segera mandi dan setelah bersiap ia langsung turun dari lantai atas, terlihat di meja makan sudah ada papa dan mama nya yang lagi asik mengobrol.
"Lo tumben anak mama udah siap sepagi ini." Zahra tak pernah melihat anaknya bersiap sepagi ini, biasanya juga susah buat bangun.
"Ada yang mau Bian jemput ma, Bian pergi dulu ya." Bian mencium punggung tangan mama dan papa nya.
"Loh loh nggak sarapan dulu?" Tanya Rian.
"Enggak pah nanti malah telat jemputnya."
"Assalamualaikum," pamit Bian.
"Waalaikumsalam," jawab Zahra dan Rian.
Rian dan Zahra saling beradu pandangan melihat kelakuan anaknya.
"Siapa yang mau dia jemput, apa dia sudah punya pacar?" Tanya Rian kepada istrinya, Zahra hanya tersenyum dan melanjutkan menyantap sarapannya.
***
Anya dan Kusuma sudah duduk di meja makan dan menyantap makanannya masing-masing, sampai terdengar bunyi bel.
"Mbok tolong buka pintu siapa yang datang pagi-pagi seperti ini," Pinta Kusuma.
"Paling juga orang kantor nya ayah." Lalu Anya kembali memakan rotinya.
"Maaf non di depan ada teman nya non."
"Siapa mbok?" tanya Anya penasaran.
"Nggak tau non yang jelas cowok, mbok lupa nanya namanya," Ujar mbok Ina.
Anya langsung meletakan rotinya di piring apa bener Bian menjemputnya.
"Suruh masuk aja mbok," Pinta Kusuma.
"Baik tuan." mbok Ina kembali ke teras untuk menyuruh cowok tersebut masuk.
Anya tidak tau harus apa, dia tidak mungkin mengusir Bian karena ayahnya pasti tidak suka dengan tindakan tersebut.
Bian masuk dan langsung menyapa Kusuma,
"Assalamualaikum, selamat pagi om, saya Bian, maaf mengganggu waktu sarapannya, saya cuma mau jemput Anya." jelas Bian sopan.
"Waalaikumsalam, kamu temen sekolah Anya, silahkan duduk sekalian ikut sarapan aja," ajak Kusuma.
"Nggak perlu yah kita mau langsung berangkat aja." Anya segera berdiri dan berpamitan dengan Kusuma.
"Lo kok pagi banget berangkatnya." Kusuma bingung melihat tingkah anaknya ini, Jam di tangannya masih menunjukan pukul 06.20.
"Kita ada urusan yah jadi harus berangkat pagi." Anya terpaksa berbohong dan langsung menarik tangan Bian.
"Lo ngapain lagi sih masih pagi udah ganggu gue!" Anya terlihat sangat kesal.
"Ya gua cuma jemput lo, mulai sekarang lo berangkat sekolah dan pulang bareng gue," Perintah Bian.
"Gue bukan anak kecil, gue bisa melakukan semuanya sendiri." Anya melipat tangannya ke depan dada.
"Loh kenapa belom berangkat?" tanya Kusuma.
Anya terkejut melihat ayahnya sudah berdiri di ambang pintu, "Ini mau berangkat yah, kita naik mobil gua aja," bisik Anya.
"Terus motor gue gimana?" Bian terlihat bingung.
"Nanti lo ambil pas pulang sekolah, jantung gue mau copot rasanya kalau naik motor, kan lo tau gue takut naik motor."
"Oh jadi lo mau gue mampir ke rumah lo lagi pas pulang sekolah, oke gue ngerti," Bian terkekeh.
"Udah buruan bokap gue nanti curiga," bisik Anya agak kesal.
"Berangkat dulu om,"Pamit Bian.
Kusuma tersenyum dan melambaikan tangannya, "Hati-hati jagain Anya." Bian tersenyum puas mendengar ucapan terakhir Kusuma.
"Kayaknya ayah lo setuju sama hubungan kita." Bian berusaha menggoda Anya yang sudah cemberut dari tadi.
"Udah buruan berangkat aja nanti keburu kesiangan." Anya berpikir kalau tiba disekolah lumayan pagi para siswa dan siswi masih belum terlalu ramai, dan tidak akan ada banyak mata yang memandang.
"Siap pacar." Bian memberi hormat seperti sedang upacara bendera.
Anya memutar bola matanya malas, "Lo kenapa sih harus bersikap kayak gini." Anya menatap Bian dengan tatapan tajam.
"Gue mau ngomong sesuatu sama lo, nanti pas jam istirahat kita ketemuan di rooftop." Bian masih fokus menyetir dan tidak melihat tatapan kesal Anya.
"Kenapa nggak sekarang aja." pinta Anya.
"Udah nanti aja, kalau sekarang momen nya nggak pas." Bian melirik ke arah Anya dan tersenyum penuh arti.
Hayhay jangan lupa vote komen yah ❤️
Kalo ada yang typo tolong di benerin ❤️
KAMU SEDANG MEMBACA
Bian Dan Anya
Teen FictionAnya atasya kusuma gadis yang memiliki paras cantik tersebut menjadikan nya idola di kalangan laki-laki SMA Harapan, ia juga sudah banyak mematahkan hati laki-laki karena bersikap jutek dan dingin. Anya sengaja menutup hatinya rapat-rapat dan tidak...
