✨30✨

24 7 6
                                        

Bel pulang sekolah sudah berbunyi, Anya segera merapikan buku-bukunya. Sedari tadi Bian hanya diam tidak mengeluarkan satu kata pun dari mulutnya Anya pun tidak tahu ada apa dengan cowok tersebut.

"Nya, mau pulang bareng aku?" tanya Bian yang akhirnya berbicara.

"Eh tapi gue udah ada janji."

"Sama Airin?"

Anya menggeleng pelan, "Duluan ya." ia bergegas berjalan kearah pintu, terlihat sudah ada Daniel yang menunggunya disana.

"Yuk, pulang," ajak Daniel.

"Tapi laper."

"Ya udah makan dulu." Daniel merangkul pundak Anya, namun tidak ada penolakan sama sekali dari Anya.

Airin menepuk pundak Bian , membuat Bian mendongak melihat Airin.

"Udah, nanti gue cari tahu ada apa sama mereka, lagian gue yakin kalo mereka nggak jadian kok, pulang yuk udah di tungguin Andre." Airin tersenyum dan hanya di balas anggukan oleh Bian.

Sesampainya di parkiran Bian melihat Anya masuk kedalam mobil Daniel, sepertinya mereka baru saja berpamitan dengan Andre Devan dan Cahyo.

"Rin, Anya nggak bawa mobil hari ini?" tanya Bian.

"Nggak tahu, karena dia selalu bawa mobil sendiri jadi gue nggak kepikiran buat nanya, dia juga belum cerita apa-apa sama gue, lo harusnya jangan nyerah gitu aja dong katanya cinta, gue dukung lo kok tenang aja."

Bian tersenyum, "Makasih Rin."

"Wih bisa lo akrab sama nenek sihir," ujar Cahyo.

"Sebagai teman kita harus mendukung temannya yang galau, iya kan by."

"Iya bener, terkecuali Cahyo yang galau kita diemin aja." Andre terkekeh.

"Temen bangsat semua emang lo."

"Mulut lo njir." Devan menjitak kepala Cahyo.

"Gue duluan ya." Bian berpamitan pada semuanya.

"Hati-hati lo, jangan di pikirin nanti malah nabrak lagi." Andre menepuk pelan pundak Bian.

"Santai gue nggak papa kok." Bian masuk ke dalam mobilnya dan mulai melajukan mobilnya meninggalkan sekolah.

Andre dan yang lainnya juga memutuskan untuk pulang, sepanjang perjalanan Airin hanya diam memperhatikan jalanan, pikirannya hanya tertuju pada sahabatnya, kenapa bisa hal sepenting ini Anya tidak bercerita padanya.

"By, kenapa?" Andre yang merasa sejak tadi Airin hanya diam tidak seperti biasanya.

"Nggak papa by, cuma aku lagi mikir aja kenapa tiba-tiba Anya bisa deket gitu ya sama kak Daniel, padahal aku tahu betul kalo Anya nggak suka dia, Anya sukanya sama Bian, apa dia di ancam ya sama kak Daniel tapi kayaknya Anya nggak lagi terpaksa." Airin menarik napas kasar.

"Aku juga nggak tahu by, coba nanti kita cari tahu ya, kamu cari tahu lewat Anya nanti aku cari tahu lewat Daniel." Andre mengelus lembut punggung tangan Airin.

"Tapi mungkin aja sih Anya di ancam sama Daniel, lo tahu sendiri lah Daniel gimana, apa yang dia mau harus dia dapetin walaupun dengan cara yang nggak bagus," sahut Devan.

"Masa iya Anya langsung nerima aja, kalo bener di ancam pasti Anya cerita lah sama kita," sambung Cahyo.

"Ya mungkin aja kalo Anya cerita sama temen-temennya dia bakal di apa-apain sama Daniel, nggak semudah itu buat dia cerita kalo emang bener ada unsur ancaman," jawab Devan.

Semua langsung hening mendengar perkataan Devan barusan, bahkan Cahyo yang biasa ngomong seenaknya pun diam tidak mengeluarkan satu kata pun.

***

Bian Dan Anya Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang