Bel pulang sekolah sudah berbunyi, membuat kelas XI IPS 1 yang 2 jam terakhir berasa mencekam kini seperti di beri oksigen lebih, siapa lagi yang mengajar kalau buka Ibu Mey, di tatap nya saja sudah serem apalagi jika di hukum tak bisa mereka bayangkan. Anya memutuskan untuk di kelas saja dia tak peduli mau Ibu Mey yang mengajar atau siapa, ia sudah sangat bosan dari pagi berada di UKS mending di kelas rame walaupun tegang.
"Nya pulang sekolah bareng gue ya,"ajak Bian.
"Emang Anya nya mau?" Tanya Airin seperti ingin mengejek.
"Lo hantu ya, tiba-tiba muncul gitu aja." Bian mengernyit bingung.
"Gue colok mata lo, orang cantik gini di bilang hantu," sebal Airin.
"Hu takut," ejek Bian dengan wajah yang menyebalkan.
Airin mendengus kesal, "Gimana Nya, lo mau pulang sama Bian?" Tanya Airin.
"Emm ... gue ...." Ucapan Anya terpotong saat melihat Daniel dan teman-teman nya masuk ke kelas XI IPS 1.
"Ada apa ini?" batin Anya.
Daniel menuju meja Anya dan mengambil posisi duduk di depan Anya, kelas saat ini sudah sepi karena semua sudah keluar kelas untuk pulang. Setiap bel istirahat dan pulang sekolah mendadak semua murid mempunyai kekuatan supranatural untuk menghilang.
"Nya lo nggak papa? mau pulang bareng gue?" ajak Daniel.
"Eh kak sorry ya, gue udah janji sama Bian nggak enak kalo nggak jadi, soalnya mau ngerjain tugas juga," tolak Anya. Jelas ia menolak ajakan Daniel, mana mau Anya pulang bareng Daniel.
Daniel mengepal tangan nya, ia marah, kesal, malu apalagi saat terang-terangan Anya menolak tawaran nya bukan hanya sekali tapi sudah berkali-kali, apalagi sekarang di hadapan Bian.
Airin yang menyadari suasana sangat mencekam bahkan lebih mencekam dari pelajaran bu Mey,
"Eh kak kita duluan ya kasihan Anya nya masih pusing," ujar Airin seraya ingin meredahkan suasana mencekam ini.
Airin membantu Anya untuk berdiri dan di susul oleh Bian, "Eh Niel duluan ya," ujar Bian sembari menepuk pundak Daniel.
Daniel masih membeku di tempat, pikiran nya kemana-mana, "Eh bos nggak bisa di diemin tuh si Bian, anak baru aja belagu banget gaya nya," ujar Rio memanas manasi Daniel.
"Lo tuh ya kompor aja terus," sahut Mahen.
Daniel tidak merespon ucapan Rio, ia langsung beranjak dari tempat duduk nya meninggalkan kelas Anya yang sudah kosong.
***
Bian Anya dan Airin kini sudah berada di parkiran, menghampiri Andre dan dua curut nya.
"Ya ampun Nya lo pucet banget, mau gue saranin tempat berobat yang bagus nggak," ujar Cahyo.
Mereka semua menatap Cahyo menunggu jawaban yang akan keluar dari mulut kotor nya itu.
"Eh kok pada diem nungguin ya." Cahyo terkekeh, Devan langsung menoyor kepala Cahyo.
"Oke-oke gue serius kali ini, lo ketempat mak Erot aja," jawab Cahyo santai sambil menaruh tangan nya di saku celana.
"Woy mesum lo itu buat memperbesar bukan untuk orang demam," sahut Bian kesal.
"Loh udah berubah ya, setau gue bisa kok," Cahyo menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal.
"emang buat memperbesar apa?" Tanya Airin polos.
"Memperbesar masalah Rin," sahut Devan cepat.
Bian memberikan kunci motor nya pada Devan, "Lo mau ngasih gue motor, dalam rangkah apa?" Devan mengernyit bingung.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bian Dan Anya
Roman pour AdolescentsAnya atasya kusuma gadis yang memiliki paras cantik tersebut menjadikan nya idola di kalangan laki-laki SMA Harapan, ia juga sudah banyak mematahkan hati laki-laki karena bersikap jutek dan dingin. Anya sengaja menutup hatinya rapat-rapat dan tidak...
