✨2✨

326 134 330
                                        

Suara berisik dari balik pintu sangat mengganggu tidur Anya kali ini, membuat gadis itu sontak terbangun dengan merasa kesal.

"Non, bangun sudah jam setengah 7 mau sekolah nanti telat." Suara mbok Ina langsung membuat Anya terduduk dan langsung melihat jam yang berada di atas nakasnya.

"Mampus gue, setengah 7 bakal telat ke sekolah." Anya langsung menuju kamar mandi dan setelah selesai bersiap Anya langsung turun dari lantai dua tempat di mana kamarnya berada, Anya sedikit berlari menuruni anak tangga, melihat ayahnya sedang bersiap kekantor.

"Anak ayah bangun kesiangan, ngapain aja semalam?" Anya tak menggubris ucapan ayahnya, dan langsung berpamitan untuk pergi ke sekolah.

"Anya berangkat dulu ayah, udah kesiangan."
Kusuma hanya tersenyum memandangi gadis kecilnya yang sudah kepanikan setengah mati.

Anya langsung menuju mobilnya dan tancap gas menuju sekolah.

Tiba-tiba di pertengahan jalan Anya merasa ada yang aneh dengan mobilnya, ia berhenti sejenak untuk melihat apa yang terjadi, benar saja dugaannya, ban mobilnya kempes.

Anya membuka bagasi mobilnya dan tidak melihat ada ban cadangan di dalam bagasinya percuma saja pikirnya walaupun ada dia tak bisa menggantinya.

"Kenapa sih masih pagi udah kayak gini," gerutu Anya sambil menendang nendang ban mobilnya.

Dia mengeluarkan ponselnya mencari kontak yang bisa dia hubungi, Anya menelpon Airin, sahabatnya untuk minta pertolongan, tapi nihil Airin tidak menjawab.

"Dasar Airin giliran gue butuh malah nggak bisa di hubungin."

Anya bingung harus menghubungi siapa, menelpon ayahnya tidak mungkin, Anya jelas tidak mau merepotkan ayahnya, kontak teman sekelasnya pun tidak ada hanya ada nomor Airin saja yang ia simpan.

"Siapa pun yang bisa nolongin gue sekarang kalau cowok, bakal gue jadiin pacar, kalau cewek gue jadiin saudara gue. Eh apaan sih gue malah ngelantur." Anya masih sibuk menendang-nendang ban mobilnya.

"Eh kasian tuh bannya nggak salah apa-apa." tiba-tiba terdengar suara cowok yang familiar di telinga Anya, tapi Anya berusaha tidak berbalik untuk melihat siapa cowok tersebut.

"Emang lo kira lagi sayembara apa." Anya berbalik dan benar saja sudah ada Bian yang sedang duduk di atas motornya.

"Berangkat barang gue aja," ajak Bian.

"Enggak gue bisa berangkat sendiri," tolak Anya.

"Yakin mau berangkat sendiri, nggak liat sekarang udah jam berapa."

Anya ingin sekali menolak tapi jam di tangan nya menunjukan 15 menit lagi bel masuk dan tidak ada pilihan.

"Ya ampun kalau aja pelajaran pertama bukan ibu Mey, pasti gue akan bersenang hati untuk bolos."
Anya terus saja membatin dan merutuki dirinya sendiri.

"Semakin lo mikir semakin waktunya jalan." tidak ada pilihan dengan berat hati Anya menerima ajakan Bian untuk berangkat bersama.

"Ya udah iya, jangan kepedean, gue terpaksa karena nggak ada pilihan," jawab Anya ketus.

Anya melangkah menuju Bian kakinya terasa berat, tangannya sudah dingin, jantungnya berdetak tak karuan.

"Kok lo jadi pucet gitu?" Bian langsung turun dari motornya.

"Gu... gue ta... takut naik motor," jawab Anya terbata.

Bian percaya kalau Anya benar-benar takut karena wajahnya sudah pucat dan matanya berkaca-kaca.

"Nya lo baik-baik aja kan, gimana mau berangkat bareng gue atau gue pesenin taksi online aja," Ucap Bian.

"Eh enggak-enggak gue bisa kok, kalau mau pesen taksi online mana keburu, gue nebeng lo aja." Anya menarik napas pasrah.

"Ya udah yuk entar kita telat," ajak Bian.

"Anya lo bisa, lo harus bisa jangan takut." Anya berusaha mengendalikan dirinya.

Bian mengulurkan tangannya membantu Anya naik ke atas motornya.

"Udah siap, tenang gue nggak bakal ugal-ugalan kok,"
Bian mulai melajukan motornya dengan kecepatan sedang, sepanjang perjalanan Bian selalu memperhatikan Anya dari spion motornya, wajahnya masih terlihat pucat dan dari tadi dia selalu memejamkan matanya.


***

Mereka berdua sudah sampai di sekolah tepat ketika bel berbunyi, parkiran masih terlihat ramai karena siswa dan siswi belum sepenuhnya berada di kelas.

"Makasih."

Anya segara turun dari motor karena merasa sudah banyak mata yang memandangnya saat ini, banyak pula siswi yang berbisik tentangnya, tapi tentu saja Anya tak peduli, yang jelas saat ini dia sudah sampai dan bisa ikut ulangan ibu Mey.

Bian pun langsung memarkiran motornya dan sedikit berlari mengejar Anya,

"Nya lo baik-baik aja kan?" tanya Bian yang kini sudah berjalan menyamai langkah Anya.

"Udah lah nggak perlu di bahas." Anya melirik Bian tajam dan meninggalkannya begitu saja.






















Hallo semua nya jangan lupa vote coment ya, karna vote dan coment kalian adalah semangat aku buat nulis
Maaf yah kalo ada yang typo ❤️❤️❤️❤️❤️❤️

Bian Dan Anya Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang