✨12✨

166 97 246
                                        

Pagi ini Anya sengaja bangun lebih awal karena ayahnya akan bekerja keluar kota walaupun kali ini hanya 1 hari atau paling lama 2 hari Anya tidak mau melewatkan sarapan bersama ayahnya, ia bergegas mandi, setelah selesai mandi dan bersiap Anya mengecek ponselnya karena semalam dia ketiduran, ternyata ponselnya mati Anya langsung mengambil power bank dan turun kebawah menuju meja makan, Kusuma yang sedari tadi sudah duduk di meja makan mengalihkan pandangan menuju tangga dan melihat Anya sudah rapi sepagi ini.

"Wah ada angin apa anak ayah udah rapi sepagi ini?" tanya Kusuma yang hampir tidak percaya.

"Kan ayah mau pergi jadi Anya udah bangun biar bisa sarapan bareng." Anya tersenyum dan langsung duduk di samping Kusuma.

"Kamu berangkat sekolah sama siapa?" tanya Kusuma di sela-sela mengunyah rotinya.

"Sendiri dong ayah, biasanya juga Anya berangkat sendiri."

"Yang kemarin mana, siapa namanya ayah lupa?"

"Bian maksud ayah, dia iseng aja jemput Anya." Anya sudah mengira ayahnya akan bertanya seperti itu.

Kusuma hanya ber oh ria saja, padahal mana ada orang iseng bela-belain jemput pagi-pagi banget.

"Ayah jam berapa berangkat ke bandaranya?" tanya Anya.

"Bentar lagi ayah pergi tapi mau ke kantor dulu ngambil berkas, dari kantor langsung ke bandara deh," jelas Kusuma.

Anya hanya mengangguk pelan dan kembali lanjut menyantap sarapannya.

Kusuma melihat jam tangan miliknya, waktu sudah menunjukan pukul 06:15 WIB, ia harus pergi ke kantor agar tidak terkena macet, "Ayah berangkat ya takut nanti kena macet." Kusuma beranjak dari kursinya.

"Ya udah Anya anterin sampai mobil ya." Anya langsung beranjak dari kursinya dan mengekor di belakang Kusuma.

Kusuma tersenyum karena itu sudah jadi kebiasaan Anya yang selalu mau mengantar sampai mobil setiap ayahnya kerja keluar kota dan terkadang dia memaksa mengantar sampai bandara.

Anya dan kusuma sudah berdiri di dekat mobil, tiba-tiba suara mesin motor berhenti membuat Anya dan Kusuma mengalihkan pandangan menuju arah pagar yang sudah terbuka, terlihat Bian turun dari motornya.

"Ngapain tuh orang kesini." batin Anya.

Kusuma langsung melirik putrinya tersebut, "Katanya berangkat sendirian, tuh ada yang jemput lagi." tidak ada satupun jawaban yang keluar dari mulut Anya ia masih mematung melihat Bian berjalan ke arahnya sekarang.

"Selamat pagi om," sapa Bian.

"Iya pagi juga, kamu yang kemarin jemput Anya kan?" tanya Kusuma.

"Iya om, hari ini saya juga mau jemput Anya biar Anya nggak capek-capek bawak mobil sendiri," jelas Bian dengan sopan.

"Kamu udah nggak takut lagi naik motor?" Kusuma sedikit berbisik tapi masih bisa di dengar oleh Bian.

"Masih takut," jawab Anya cepat.

"Ya udah naik mobil aja, biar Bian yang bawa mobilnya, ayah pergi dulu ya nanti macet." Kusuma mengecup lembut puncak kepala Anya dan langsung di balas pelukan hangat oleh Anya.

"Kamu tolong jagain Anya ya selama om nggak ada di Jakarta, cuma 1 sampai 2 hari kok kalau kelamaan takutnya kamu kena mental jagain Anya." pesan Kusuma kepada Bian.

Bian terkekeh, "Baik om, tanpa om suruh saya bakalan jaga Anya kok." Bian mengacungkan ibu jarinya.

"Ayah hati-hati ya, kabarin Anya kalau udah nyampe." Anya melambaikan tangan ke arah Kusuma.

"Iya tuan putri, kamu jangan telat makannya, jangan begadang juga, ayah pergi dulu." Anya mengangguk pelan, kini mobil Kusuma sudah keluar dari pekarangan rumah dan melaju pelan sampai akhirnya tak terlihat lagi.

"Ngapain lo kesini?" tanya Anya malas.

"Gue jemput lo lah, semalem gue udah chat lo tapi nggak di bales, ya udah gue samperin aja langsung," Jelas Bian.

Anya baru ingat kalau ponselnya semalam mati karena lupa di charge.

"Nggak perlu, gue bisa berangkat sendiri!"

"Lo nggak denger kata ayah lo, ayah lo nyuruh gue jagain lo." Bian tersenyum seperti mendapat lampu hijau dari ayah Anya.

"Terserah lo, intinya gue mau berangkat sendiri." Anya berbalik dan meninggalkan Bian.

"Lah malah di tinggalin gue." Bian langsung mengekor di belakang Anya.

Anya menghentikan langkahnya tiba-tiba

BRUK...

Bian menabrak punggung Anya, "Aduh kok lo berhenti tiba-tiba sih." Bian sedikit meringis.

"Gue seharusnya yang marah samo lo, kenapa masih ngikutin gue, dan lo sendiri yang nabrak gue." Anya melempar tatapan tajam kepada Bian.

Bian mengacak pelan puncak kepala Anya, "Lo lucu kalo lagi marah gitu."

"Ih ngapain lagi pegang-pegang." Anya langsung mendorong tangan Bian dari kepalanya.

"Abis lo lucu sih gimana dong." Bian tersenyum dengan seringai jahilnya.

"Ampun mimpi apa gue semalem," Batin anya.

"Udah ah jangan marah-marah mulu nanti tambah lucu, kasian jantung gue."

"Bodo amat gue nggak peduli!!"

"Tapi gue peduli sama lo Nya." Bian tetap mengekor di belakang Anya sampai masuk kedalam rumah.

Anya tidak menduga kalau Bian akan keras kepala, memaksanya untuk berangkat sekolah bareng.

"Pagi mbok," sapa Bian yang kini sudah berdiri di dekat meja makan.

Mbok Ina tersenyum dan membalas sapaan Bian,
"Pagi tuan Bian."

"Eh jangan tuan mbok, panggil Bian aja," pinta Bian kepada mbok Ina karena dia paling tidak suka di panggil seperti itu.

Mbok Ina mengernyit bingung karena biasanya tidak ada yang memintanya memanggil seperti itu.

"Yuk berangkat udah jam berapa nih nanti telat." Bian melihat jam yang melingkar di tangannya dan menarik tangan Anya.

Anya langsung menarik tangannya, "Nggak usah pegang-pegang!!"

"Maaf kalau buat lo nggak nyaman, yok berangkat."

Anya tetap tidak peduli ia langsung mengambil kunci mobilnya dan bergegas menuju mobil ia segera masuk kedalam mobil dan menghidupkan mesin mobilnya.

"Eh kok malah ninggalin gue."

"Kan gue udah bilang kalo gue bisa pergi sendiri Bian." Anya meninggalkan Bian yang masih berdiri di tempatnya.

"Ya udah ketemu di sekolah ya," Teriak bian yang masih terdengar samar di telinga Anya.

Bian menghampiri motornya langsung memakai helm dan mulai melanjutkan motornya dengan kecepatan sedang menuju sekolah.























Hayhay jangan lupa vote & komen ❤️
Kalo ada yang typo tolong di benerin ❤️

Bian Dan Anya Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang