Mobil Anya sudah terparkir di garasi saat ini, ia segera turun dan di ikuti oleh Bian, Anya menatap langit, "Malam ini bintang nya banyak ya, indah banget," gumam nya.
Bian juga ikut menatap langit, "Iya indah, sama kayak lo," ujar Bian yang kini sudah menatap Anya.
"Udah biasa denger yang kayak gitu, pulang sana."
"Ngusir banget, bentar lagi Andre jemput,"
Tin..Tin..
suara klakson mobil Kusuma yang baru saja memasuki pekarangan rumah nya, Kusuma turun dari mobil dan di sambut oleh Anya dan Bian.
"Eh ada Bian," sapa Kusuma
"Iya om abis nganterin Anya," Bian langsung mencium punggung tangan laki laki paruh baya tersebut.
Anya langsung menghamburkan pelukan nya pada Kusuma, "Kata nya pulang telat,"
"Maaf ya, ayah takut nya tadi pulang nya malam banget kasian kalau kamu harus nungguin ayah buat makan, ternyata kerjaan nya cepet beres," jelas Kusuma.
"Iya nggak papa kok ayah,"
"Tumben banget nggak ngambek," Kusuma menatap heran.
"Tadi Anya udah dinner sama saya om," celetuk Bian.
"Oh pantes aja dia nggak ngambek sekarang, biasa nya kalau udah kayak gini dia bakal ngambek walaupun dikasih alasan apapun," Kusuma terkekeh.
Anya mendengus kesal, "Buruan pulang!" bisik Anya pada Bian.
"Kalau gitu saya pamit ya om,"
"Eh eh kok pamit, nginep disini aja," pinta Kusuma.
Anya menatap ayah nya tidak percaya, benar kah ini ayah nya, sama hal nya dengan Bian yang juga tak percaya mendengar ajakan Kusuma, ia juga bingung harus menjawab apa.
"Ayah apa apaan sih masa Bian disuruh nginep disini, kan ayah nggak kenal Bian, nanti kalau dia maling gimana," sahut Anya asal.
"Anya!" Kusuma melirik Anya.
"Iya sorry ayah," Anya baru sadar tidak seharusnya ia mengatakan hal seperti itu.
'"Emm gimana ya om saya jadi nggak enak, lagian saya udah chat temen buat jemput kesini,"
"Tuh kan ayah Bian nya udah mau di jemput temen nya,"
"Udah tinggal suruh temen nya balik lagi aja nggak usah jemput, lagian besok juga hari minggu nggak sekolah, masalah izin nanti om yang telpon orang tua kamu, malam ini temenin om main catur," tanpa menunggu jawaban dari Bian Kusuma langsung merangkul pundak Bian dan mengajak nya masuk, Anya hanya menghela napas pasrah tidak mau membantah ayah nya.
"Anya nggak bisa main catur, mangkanya om ngajak kamu, kamu nggak keberatan kan?" tanya Kusuma.
"Nggak kok om santai," ujar Bian.
Anya masih mendengar percakapan ayah nya dan Bian, mungkin ayah nya merindukan sosok anak laki laki yang bisa satu hobby dengan nya, sedangkan Anya tidak suka catur tidak suka menonton bola terlalu membosankan, mending ngedrakor banyak oppa oppa ganteng.
"Anya naik duluan ya, mau bersih bersih," Anya meninggalkan ayah nya dan Bian yang sedang duduk di ruang tamu, ia masuk ke kamar dan langsung merebahkan tubuh nya di kasur rasa nya dia sangat merindukan kasur nya setelah seharian beraktifitas.
***
Waktu sudah menunjukan pukul 11 malam, Anya masih belum tertidur padahal tadi ia sangat mengantuk, setelah pulang Anya tidak keluar kamar nya ia penasaran apa yang sedang ayah nya dan Bian lakukan sekarang. Anya beranjak dari tempat tidur nya kebetulan ia haus jadi ada alasan untuk turun.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bian Dan Anya
Teen FictionAnya atasya kusuma gadis yang memiliki paras cantik tersebut menjadikan nya idola di kalangan laki-laki SMA Harapan, ia juga sudah banyak mematahkan hati laki-laki karena bersikap jutek dan dingin. Anya sengaja menutup hatinya rapat-rapat dan tidak...
