✨6✨

242 109 304
                                        

"Gue mau pulang!" Anya langsung berdiri dari tempat duduknya dan mempercepat langkahnya menuju pintu keluar, Bian langsung mengejar Anya, sementara Andre Devan Cahyo dan Airin tidak mengerti apa yang saat ini terjadi pada mereka berdua.

Airin sengaja tak mengejar Anya karena menurut nya dia tidak perlu ikut campur dalam masalah yang terjadi sekarang, Airin tahu betul bahwa Anya mampu menyelesaikan semuanya.

Bian menarik tangan Anya, "Lo mau kemana?"

"Gue mau pulang lo nggak denger tadi gue bilang apa, oh ya satu lagi udah berapa kali gue bilang gue bukan pacar lo dan tindakan lo tadi cuma buat gue malu aja." Anya melipat tangannya di atas dada.

Bian hanya tersenyum tidak menyangka bahwa ketika marah pun Anya bisa secantik ini.

"Ya tuhan kenapa gue sial banget sih bahkan di hari libur gue, gue masih harus ketemu cowok sinting ini." Anya merutuki dirinya sendiri.

"Lo pulang naik apa? lo nggak bawak mobil?" tanya Bian dan tak ditanggapi oleh Anya.

"Ya udah lo gue anter pulang."

"nggak perlu, gue bisa naik taksi," jawab Anya cepat.

"Ini udah mulai gelap, lo lupa kalo di sekitar sini nggak ada taksi yang bakal lewat."

Anya hampir saja melupakan kalau daerah sini memang tidak ada taksi, yang ada hanya angkot itu pun cuma sampai jam 4 sore.

Anya mengeluarkan ponsel nya berniat memesan taksi online dan lagi-lagi kesialan berpihak kepada nya hari ini, ponsel nya mati lupa ia charge gara-gara Airin mengajaknya pergi mendadak.

"Ya udah lo emang ditakdirkan pulang sama gue." Bian tersenyum penuh kemenangan.

"Jangan mimpi lo bisa nganterin gue pulang," Tatap Anya tajam.

"Terus lo pulang mau naik apa? jalan kaki gitu?" tanya Bian.

Anya pun sebenarnya bingung harus pulang naik apa, kalo saja ponselnya tidak mati dia bisa naik taksi online, mau balik lagi ke cafe gengsi banget masih ada Andre dan teman-temannya.

"Iya gue jalan kaki aja, udah lo pergi aja ngapain masih disini!" Anya berjalan dan meninggalkan Bian menyusuri trotoar dan berharap ada taksi di depan sana.

"Seharusnya gue balik aja ke cafe persetan sama gengsi ujung-ujungnya ribet sendiri mau pulang naik apa, ah sudah lah memikirkannya pun tidak membuat gue menemukan taksi sekarang." Anya mendengus kesal.

Tiba-tiba ada mobil yang berjalan pelan mengikuti langkahnya, "Astaga apa ini mobil penjahat dan mau nyulik gue." Anya semakin mempercepat langkahnya sampai seseorang membuka kaca mobilnya dan berteriak.

"Masih mau jalan kaki nggak takut nanti ada orang jahat," teriak Bian dari dalam mobil.

Anya menoleh dan sedikit lega karena itu bukan mobil penjahat, tapi juga tidak menyangka bahwa Bian masih mengikutinya.

Anya terus berjalan dan mengabaikan Bian, tiba-tiba langkahnya terhenti karena melihat sekelompok laki-laki dengan pakaian lusuh dan rambut berantakan terlihat sedang mabuk dengan memegang botol minuman di tangan mereka.

Anya menelan ludah tidak yakin akan melangkah lagi, Bian pun berhenti dan memastikan apa yang membuat Anya tiba-tiba terdiam Bian melihat sekelompok laki-laki itu dan langsung turun dari mobilnya.

Bian menarik tangan Anya, "Buruan masuk ke mobil." Anya menahan langkah nya dan melepaskan tangan Bian.

"Kenapa lo masih mau lewat di depan mereka, lo tau apa yang bakal terjadi kalo lo lewat dengan keadaan mereka yang sedang mabuk!" Bian sedikit kesal karena dalam keadaan seperti ini Anya masih saja mempertahan kan gengsinya.

Anya hanya terdiam tidak tau harus apa, ikut ke mobil atau berjalan ke depan.

"Ya udah kalo nggak mau gue anterin." Bian berbalik dan tiba-tiba Anya menarik tangannya.

"Ya udah gue ikut lo." Anya menarik napas pasrah.

"Nah gitu dong." Bian tersenyum puas ini yang kedua kalinya Anya tidak ada pilihan dan harus ikut bersama Bian.

Mereka berdua sudah berada di dalam mobil, hanya ada keheningan yang tercipta Anya memalingkan wajahnya tak berani mengucapkan satu kata pun.

"Rumah lo dimana?" tanya Bian.

Anya hanya memberikan instruksi harus kemana, mereka sudah sampai di depan rumah mewah bernuansa putih dan di kelilingi banyak pohon pinus.

"Ini rumah lo?" tanya Bian.

"Iya ini rumah gue, ya udah gue masuk." Anya langsung keluar dari mobil Bian.

"Lo nggak mau gue mampir dulu." Bian membuka pintu mobilnya.

"Nggak perlu, udah buruan pergi nanti di liat ayah gue," Anya melirik kebelakang memastikan ayah nya tidak ada.

"Ya udah gue pulang ya, besok sekolah gue jemput lo, I lOVE YOU." Bian tersenyum dan berlalu melajukan mobilnya tanpa menunggu jawaban dari Anya.

Rasanya jantung Anya berhenti seketika mendengar ucapan Bian, seolah ada yang menusuk hatinya.

"Eh kenapa gue harus peduli." Anya langsung masuk ke dalam rumahnya, kenapa hari-harinya jadi menyebalkan setalah ada cowok gila tersebut.














Haihai jangan lupa vote komen ya ❤️
Kalo ada yang typo tolong benerin ❤️

Bian Dan Anya Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang