"Kerjakan tugas bersama kelompok kalian, dikumpulkan paling lambat pada hari Senin. Mengerti?"
"Mengerti, bu!"
"Ada yang ingin ditanyakan?"
"Tidak!"
Guru tersebut hanya menggelengkan kepala heran sambil membereskan buku-bukunya. Ini masih pagi, tapi kenapa anak-anak di kelas ini sudah terlihat sangat kelelahan?
Setelah selesai, guru tersebut langsung berjalan keluar dari dalam kelas dan pastinya membuat keadaan kelas itu kembali berisik.
"Bagi tugas."
Daniel yang sedang bermain game lantas mengalihkan pandangan Jennie yang sudah berdiri di depannya. "Apa?"
"Lo yang nyari sumber, lo cari buku fisikanya sampe dapet, titik." jawab Jennie sambil mendudukkan dirinya di atas meja Daniel.
"Ngga sopan." gumam Daniel kesal, ia segera mematikan ponselnya, lalu menaruhnya di atas meja. "Tugas lo sama Kun?"
"Gue yang nyari isinya ke google, terus Kun yang nulis isinya di buku."
"Lah, terus ngapain gue harus nyari bukunya, bege? 'Kan ada google."
"Nilai plus. Mau pindah kelompok?" tawar Jennie dengan senyum manisnya. Daniel tahu, senyuman itu mengandung makna lain, yaitu sebuah ancaman.
Daniel berdecak. "Yaudah iya, nanti gue cari."
"Ditunggu secepatnya. Ikhlas ngga nih?"
Daniel hanya mengangguk. "Iya."
"Makasih, kudanil." seru Jennie girang. Namun senyuman di wajahnya mendadak memudar saat mengingat sesuatu, "Oh, iya. Pulang sekolah, kalian mau mampir ke makamnya Sejeong sama Doyoung?"
"Boleh."
°°°°°
"Jeong!"
Jeongyeon semakin mempercepat langkahnya saat tidak sengaja berpapasan dengan Jennie yang baru saja keluar dari ruang guru.
"Yes, dapet!"
Jeongyeon hanya bisa pasrah saat Jennie sudah mencekal pergelangan tangannya. Sama persis seperti kejadian kemarin.
"Kenapa lo kabur?" Jennie menghela nafas panjang sebelum melanjutkan ucapannya. "Gue ngga bakal maksa lo buat ngasih tau siapa pelakunya. Tapi... Lo udah tau siapa pelakunya, 'kan?"
Melihat Jeongyeon yang hanya diam, lantas Jennie kembali berucap, "Gue ngga tau, apa yang lo pikirin. Tapi kalo lo udah tau siapa pelakunya, kenapa lo ngga laporin dia ke polisi?"
Jeongyeon masih diam.
"Lo belum punya bukti yang kuat? Coba lo kasih tau gue siapa pelakunya. Dan gue janji, gue bakal jaga rahasia ini sampai kita nemuin bukti yang kuat tentang pelaku itu."
Kini Jeongyeon mengerutkan keningnya bingung. Jennie ini plin-plan sekali?
"Jeong?"
"Ngga." Jeongyeon segera melepaskan cekalan tangan Jennie dengan kasar. "Mulai sekarang, lo harus jauhin gue."
"Kenapa?!"
"Gue mohon..."
Jennie menghela nafas kasar. "Oke, gue ngga bakal bahas tentang pelaku itu lagi. Gue cuma mau ngajak lo pergi ke makamnya Sejeong sama Doyoung. Lo mau ikut, 'kan?"
"Ngga."
Jeongyeon langsung membalikkan tubuhnya lalu berlari sekencang mungkin agar segera menjauh dari Jennie.
"Jeo─,"
"Jauhin dia."
Jennie yang hendak melangkah pun langsung membalikkan tubuhnya saat ada seseorang yang menahannya dari belakang.
"Kenapa?"
Pria tersebut menghela nafas pelan. "Jauhin dia, mulai sekarang dan sampai seterusnya. Sampai semuanya aman."
"Tapi, kenapa?!" tanya Jennie geram.
"Lo ngga perlu tau, pokoknya lo harus jauhin gue sama Jeongyeon. Kalo lo punya bukti tentang pelaku itu, lo ngga boleh ngasih tau bukti itu ke siapapun. Termasuk temen-temen lo sendiri."
"Termasuk lo?"
Pria tersebut terkekeh samar. "Semuanya udah berubah, Jen."
"Berubah? Lo ngomongin apa sih? Jangan bikin gue bingung, Ten."
"Kalo lo nurut sama apa yang gue bilang... Gue bisa jamin, lo bakal aman."
°°°°°
"Pokoknya, kita harus cari tau siapa orang yang udah bunuh Sejeong sama Doyoung."
"Gimana caranya kita bisa nemuin pelakunya, kalo pelakunya aja ngga ngasih petunjuk apapun ke kita?"
"Terus, kita harus minta petunjuk dari pelakunya gitu? Gimana caranya? Kita aja belum tau siapa pelakunya."
"....."
"Nahloh, skakmat."
Rowoon, Wonwoo dan Jennie hanya bisa diam, memperhatikan Kun dan Daniel yang berdebat tentang pelaku itu sejak tadi.
"Udah ah, gue mau balik."
Daniel beranjak dari tempat duduknya untuk mengambil beberapa camilan yang ada di dapur apartemen Jennie. Setelah itu, ia langsung berjalan menuju pintu keluar apartemen tersebut.
"Makasih! Selamat malam, semua!"
Benar, sekarang sudah malam hari. Mereka mengunjungi makam Sejeong dan Doyoung di sore hari karena mereka tiba-tiba diberi tugas yang harus mereka selesaikan pada saat itu juga.
Setelah Daniel menghilang dibalik pintu, Kun langsung mendudukan dirinya di atas sofa lalu berdecak. "Dasar, orang aneh."
"Lo yang aneh, Kun."
Kun segera menoleh pada Jennie. "Gue?"
Jennie terkekeh sinis. "Kenapa? Takut ketauan?"
"Maksudnya?" tanya balik Kun.
"Gue curiga sama lo."
Mereka semua dibuat terdiam karena ucapan Jennie barusan. Mereka diam bukan karena Jennie menuduh Kun.
Tapi dari cara bicaranya, dia tidak terlihat seperti Jennie. Jika Daniel masih ada di sini, dia pasti akan mengatakan ada setan yang sedang merasuki tubuh Jennie.
"Kalo habis bilang ini, gue langsung mati. Berarti lo emang pelakunya, Kun." Jennie segera mengalihkan pandangannya pada Wonwoo dan Rowoon. "Dan kalian berdua yang bakal jadi saksinya."
KAMU SEDANG MEMBACA
[✓] Who Did It - They Did It
Mystery / Thriller❝ Jadi, siapa pelaku yang sebenarnya? ❞ 「Jennie ft.96 Line」 Season 1 : WHO DID IT Season 2 : THEY DID IT *start : october 2020 finish : november 2021
![[✓] Who Did It - They Did It](https://img.wattpad.com/cover/245501103-64-k461646.jpg)