WDI : 26

1.2K 233 107
                                        

"Kemarin malem, gue nelpon Rowoon buat nanyain tentang pembantu di rumah Joy."

Wonwoo, Kun dan Daniel langsung menatap Jennie tajam sembari duduk dengan menyilangkan salah satu kakinya.

Mereka sedang meminta penjelasan pada Jennie. Karena polisi mengatakan, Jennie adalah orang yang terakhir kali dihubungi Rowoon sebelum dia meninggal.

"Terus?" tanya Wonwoo datar.

"Handphone Rowoon masih ada di kantor polisi." jawab Jennie yang masih menunduk menatap kakinya.

"Yaudah, cepetan ambil terus cari fotonya." ucap Daniel.

Kun menggeleng. "Ngga bisa, ngga kebuka."

"Kenapa?"

"Harus pake sidik jari."

"Terus, gimana caranya polisi itu bisa tau kalo Rowoon habis telponan sama Jennie?"

"Waktu polisi dateng ke rumah Rowoon, handphone-nya masih nyala."

Wonwoo berdecak. "Kenapa ngga bilang dari awal?"

"Kenapa ngga sekarang aja kita buka handphone-nya?" tanya Jennie kembali membuka suara.

Kun menghela nafas pelan. "Gimana caranya, Jen? Rowoon udah meninggal."

Jennie kembali menundukkan kepalanya. "Maaf."

Hening. Mungkin mereka semua sedang sibuk memikirkan cara lain untuk membuka ponsel milik Rowoon.

Kun mengusap wajahnya gusar. "Ngga ada cara lain, kita harus pergi ke kantor polisi buat ambil handphone-nya Rowoon."

"Terus?"

"Konter."

°°°°°


"Mungkin, sekitar satu minggu."

"Satu minggu?! Yang ada kita bakal mati duluan, bang!"

Jennie segera menatap Daniel tajam, menyuruh pria itu untuk diam.

"Yaudah, cari tempat lain sana." ucap pemilik konter itu terdengar sedikit kesal.

"E-eh, jangan dong. Maafin anak ini ya, pak?" bujuk Jennie.

Daniel memutar bola matanya jengah. "Udahlah, cari tempat lain aja."

"Kita udah datengin sekitar 5 konter handphone dan cuma ini yang paling cepet, Niel." ucap Kun terdengar putus asa.

"Tapi, seminggu─,"

"Makasih, pak. Nanti kita ke sini lagi minggu depan."

Kun segera menarik paksa lengan Daniel dan membawanya menuju mobil mereka.

Wonwoo dan Jennie saling bertukar pandang, lalu kompak menghela nafas pelan.

"Won, kalo kita gagal lagi, gimana? Kita nyerah aja ya? Kita serahin aja semuanya ke polisi."

"Kita udah berusaha sejauh ini dan lo mau nyerah gitu aja, Jen? Gue yakin, kali ini kita bakal berhasil."

"Tapi─,"

"Pulang, yuk." ajak Wonwoo mengakhiri pembicaraan.

"Emangnya kenapa sih kita harus cari tau tentang pembantunya Joy? Penting gitu?"

Kun segera menoleh pada Daniel yang duduk di sampingnya. "Pembantunya Joy itu miri─,"

"Penting. Penting banget." sela Jennie sembari menatap Kun tajam.

Jennie tidak ingin Daniel tahu tentang hal ini lebih dulu, karena ibunya Taehyun juga masih menjadi bagian dari keluarga Kang.

Ayahnya Taehyun adalah adik dari ayahnya Daniel.

Daniel sendiri yang mengatakan hal itu kepada mereka, dan tentu saja mereka langsung percaya.

Daniel segera menelan camilan yang mengganjal di kerongkongannya dengan terburu-buru. "Kenapa sih?!"

"Ngga ada."

Daniel memutar bola matanya jengah, ia mendadak terdiam selama beberapa detik. "Kalo pelakunya bukan kita gimana?"

"Maksudnya?" tanya balik Wonwoo.

"Kalian lupa, kalo masih ada orang yang masih hidup selain kita berempat?"

Jennie, Wonwoo dan Kun semakin mengerutkan keningnya bingung.

"Siapa?"

"Ten."

°°°°°

"Ten!"

Bugh!

"Eh, anying, anying! Sabar dulu!"

Daniel dan Kun segera menarik paksa tubuh Wonwoo saat Wonwoo tiba-tiba saja menyerang Ten dari belakang.

Ten hanya bisa terdiam di lantai sambil meringis kesakitan. Ternyata pukulan Wonwoo tidak main-main.

"Lo yang bunuh Rowoon, 'kan?!" Wonwoo terus berteriak, memaki Ten tanpa henti. Pria itu benar-benar sudah tidak bisa menahan amarahnya.

Ten menyeka darah di bibirnya, kemudian langsung berdiri. "Bukan gue."

"Heh! Kalian lagi ngapain?!"

Mereka semua kompak menoleh ke arah suara tersebut berasal. Ternyata itu adalah petugas kemanan apartemen.

"Ngga ngapa-ngapain, pak! Ini si Ten jatoh!" balas Daniel sedikit berteriak.

"Kenapa?!"

"Kesandung!"

Petugas kemanan tersebut terlihat mengangguk percaya lalu segera berjalan menjauh dari mereka.

"Lo bukan pelakunya? Lo pikir gue percaya?" tanya Wonwoo yang masih berusaha memberontak dari Daniel dan Kun.

Ten terkekeh. "Kalian pikir, gue ngga tau kalo pelakunya ada diantara kalian?"

Daniel memutar bola matanya malas. "Jangan memutar balikkan fakta."

"Oh ya?"

"Cepetan kasih tau gue, siapa orangnya?" tanya Kun.

"Sini gue kasih tau."

Jennie segera berlari menghampiri Ten. Ia mencengkram lengan Ten, lalu membisikkan sesuatu, "Jangan, Ten. Pikirin nyawa lo juga. Lo ngerti maksud gue, 'kan?"

"Jennie, lo diem." ucap Wonwoo menatap tajam ke arah Jennie.













"Pelakunya tinggal satu orang, karena pelaku satunya udah mati. Dan pelaku yang sebenernya... ada dua orang."





























•••••

Halo!

Berhubung book ini mau tamat,
aku ada rencana buat publish book baru
Genrenya tetep sama kok misteri/thriller
Boleh dipilih yaaa

(1). Peek-A-Boo
Ciluk ba!❞

(2). Death Note
❝Mereka semua mati gara-gara death note? I think, that's impossible.❞

(3). Holiday
❝Semuanya gagal.❞

(4). Secret Agent
❝Mata-mata itu ada diantara kita?❞

(5). Hell In Heaven
❝Kayaknya... kita salah pilih apartemen deh.❞

[✓] Who Did It - They Did ItCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang