Bara merasa hidupnya terlalu special jika harus dihabiskan dengan masalah romansa dan segala tetek-bengeknya.
Selama ini dia merasa cukup hanya dengan teman-temannya, De Dickens.
Tapi hidup selalu punya twist-twist kecil disetiap denting waktu yang...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
SMA Nusantara, Jakarta. Thursday, 13 October 2016 09.20 AM. ---------------------------------------------
Rasya terus menepuk pundak Nadira yang masih bergetar, sahabatnya itu terus menangis sejak ia bertanya tentang kejadian semalam.
Fikri dan Bobby menyimak dalam diam di depan mereka sambil memakan gorengan.
Rasya sudah menahan rasa penasarannya sejak semalam, begitu mereka sampai di kantin ia langsung bertanya bagaimana Satya dan Darell bisa bertengkar separah itu.
"G-gue nggak tau... Ke-kemarin Darell tiba-tiba ke rumah, waktu gue bukain pintu Bang Satya keluar dari kamar... Me-mereka kayak kaget gitu, terus.. berantem."
Bobby yang tak tega mendengar Nadira terus sesenggukan segera menyodorkan air mineral. "Nyesek gue denger lo megap-megap gitu," ujarnya merusak suasana.
Rasya menatapnya nyalang, membuat laki-laki bertubuh berisi itu segera mengalihkan pandang ke segala arah untuk menghindar.
Dia mengambil selembar tisu, memberikannya pada Nadira. "Jangan nangis, lagian mereka nggak ada yang mati."
Sontak saja Rasya merasa punggungnya dipukul seseorang, Nadira pelakunya.
"Kok lo ngomongnya gitu?! Lo nggak liat apa Bang Satya luka gara-gara kemarin, kakinya bahkan kena pecahan kaca, mukanya ancur!"
Rasya mendengus, entah kenapa sejak awal ia memang tak menyukai Satya, memang benar ia tak terlalu tau bagaimana sifat asli laki-laki itu, tapi yang ia tau, laki-laki yang baik tidak akan sampai dipenjara dengan vonis 7 tahun masa kurungan.
Dan mengenai hubungan Darell dan Nadira, ia sudah mengetahui semuanya. Tentang persahabatan mereka di masa kecil, lalu berpisahnya mereka karena orang tua Nadira yang berpisah sehingga Nadira harus pindah.
"Lo berdua, semalem sibuk apaan?" Rasya mengalihkan pandangan pada Bobby dan Fikri.
Nadira bercerita jika ia tidak bisa menghubungi Fikri dan Bobbh semalam, akhirnya ia menghubungi Rasya, karena tak punya pilihan lain.
Fikri cengengesan, raut wajahnya nampak merasa bersalah. "Gue diajakin maen PS sama si gentong nih!" Ia menyenggol Bobby yang masih asyik menikmati gorengan.
Laki-laki tersedak. "Salahin aja teross!! Gue emang selalu salah!"
"Ck, udah lah, sekarang yang jadi pertanyaan, Abang lo ada masalah apa sama Darell." Rasya kembali menatap Nadira.
Nadira sudah terlihat kembali tenang. "Gue nggak tau, tapi apapun itu, gue takut, Fa, lo liat sendiri kan gimana kejadian semalem, kalau lain kali mereka ketemu lagi.. gimana?"
"Eh, tunggu dulu... Menurut gue, kalian jangan ikut campur urusan mereka, kita kan nggak tau seberapa besar masalah ini, kalau ternyata-"
"Yang lagi kita bahas ini Abang gue, Fik!" Nadira menginterupsi.