34. Cemburu? (2)

1.4K 140 8
                                        

Rasya's House, Jakarta

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Rasya's House, Jakarta.
Thursday, 01 December 2016.
06.22 AM.
-------------------------------------------------

Bersamaan dengan Rasya yang baru sampai di anak tangga terakhir rumahnya, suara ketukan pintu terdengar.

"Sebentar!!" teriaknya, menyempatkan diri untuk meminum susu yang sudah tersedia di meja makan sebelum berlari ke arah pintu sembari berpamitan, "Bund, Afa berangkat!"

Pintu terbuka, sosok jangkung itu berdiri di baliknya. Tanpa senyum maupun sapaan hangat selamat pagi dan langsung berbalik badan begitu Rasya menampakkan wajah.

Bara berjalan lebih dulu, Rasya mengekori dibelakangnya. Tak ada percakapan, seperti biasa.

Rasya harus membiasakan diri, harus, karena ia tidak tau kapan sandiwara ini akan berakhir dan kapan ia bisa bebas dari cengkraman Bara.

Menatap punggung tegap di depannya, Rasya diam-diam berharap, setidaknya jika semua ini hanya sandiwara, bisakah laki-laki itu kembali menjadi Darell saja jika bersamanya?

Tidak perlu romantis, seperti yang ia tunjukkan di depan semua orang, Rasya hanya ingin dianggap teman, diperlakukan dengan baik, apakah salah?

Ia tanpa sadar menggeleng cepat, mengingatkan diri sendiri agar tidak terlalu berharap.

"Afa!!"

Sontak ia mendongak dengan mata membelalak, sangat terkejut, bahkan ia sampai berhenti mengekori Bara.

Gadis itu... Nadira, ada di dalam mobil Bara. Duduk di samping kursi pengemudi, melongokan wajahnya keluar dan tersenyum lebar pada Rasya.

Dia sudah terlihat lebih baik daripada kemarin, jejak air mata pun sudah menghilang dari wajahnya.

Bara yang hendak masuk ke dalam mobil mengurungkan niat ketika mendapati Rasya hanya diam di tempatnya. Ia berdecak. "Lo mau bikin gue sama Nadira telat?" tak ada intonasi dalam suaranya, juga tak terkesan marah, hanya datar.

Rasya segera beranjak dari tempatnya, suasana hatinya seketika memburuk dan ia malas berdebat sekarang. Tanpa mengatakan sepatah katapun, ia masuk ke dalam mobil, duduk di belakang.

Nadira menoleh ke arahnya, tersenyum. "Gimana kabar lo?"

Suara mesin yang menyala terdengar, Bara mulai membawa mobil itu keluar dari blok rumah Rasya.

Menghembuskan nafas sejenak. Rasya mencoba tersenyum selebar mungkin. "Baik. Lo?"

Ia lihat, Nadira pun menghembuskan nafas berat. "Nggak terlalu baik, tapi hari ini lebih baik daripada kemarin," jawabnya kemudian.

Tak ada lagi percakapan. Tak seperti biasanya, Rasya yang selalu mengajak Nadira berbicara, memaksanya merespon semua yang Rasya katakan. Tapi sekarang, gadis itu hanya diam, mengalihkan pandang ke luar.

BARAJA [NEW VERSION]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang