01. Meet Rasya

6K 405 18
                                        

Jakarta, 10 September 201622

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jakarta, 10 September 2016
22.17 PM.
---------------------------------------------

Bugh!

"Berani-beraninya lo masuk ke markas De Dickens tanpa izin!" desisnya tajam seraya menghantam rahang lawannya menggunakan bogem mentah tanpa ampun.

Puas mengacak-acak wajah orang itu, ia beralih menendang perutnya menggunakan lutut, di susul pukulan di punggung menggunakan siku lalu berakhir dengan menendang tulang rusuk,  lawannya terpental jauh ke belakang.

Brak!

Tubuh tak berdaya itu mendarat tepat di tempat sampah yang berada  di tepian gang sempit itu.

Baraja Dickens. Begitulah orang-orang mengklaim identitasnya, seorang ketua geng motor bernama De Dickens.

Selain anggota geng itu, tak ada yang benar-benar mengenal identitas asli Baraja. Mungkin ada, namun mereka memilih pilihan yang tepat dengan tetap diam karena tak ingin berurusan dengan laki-laki yang sadistic itu.

Outfit serba hitam, motor dengan warna kombinasi gradasi ungu tua dan ungu muda serta masker hitam yang selalu menutupi wajahnya adalah ciri khas dari laki-laki itu.

Dia berjalan menghampiri tempat sampah di tepi gang, tersenyum dibalik masker hitam yang ia kenakan.

"Look. Itu tempat yang sesuai buat lo, sampah."

Dia tak berteriak, pun tak berbisik. Nadanya datar namun terdengar mengintimidasi, seolah tau cara paling tempat untuk membuat orang lain bertekuk lutut di depannya.

Melihat lawannya—Praja Dirgantara—masih bisa tertawa kecil seraya berdecih, ia mencengkram kerah jaket yang Praja gunakan, menariknya keluar dari tempat sampah dan membantingnya di tanah.

Meletakkan kakinya diatas perut Praja, ia bertanya, "Apa yang lo cari di markas De Dickens?"

"Apa? Cih, gue cuma cari tau, kira-kira berapa menit gue bisa nyusup ke markas lo tanpa ketauan siapapun." Tak ada nada takut sedikitpun dari cara laki-laki itu menjawab.

"Lo pikir gue bego?" Bara menekan perut Praja menggunakan kakinya, berkali-kali, sehingga laki-laki itu terbatuk darah. "Gue tanya sekali lagi. Apa yang lo cari di markas De Dickens?"

Nafas Praja terengah, namun laki-laki itu masih bisa tersenyum pongah walau kondisinya sudah diambang maut. "Sampek gue mati sekalipun, jawaban gue tetep sama."

Bara kembali menekan perut Praja, kali ini lebih kuat daripada yang sebelumnya, sebagai salam perpisahan sekaligus penutup. "Lo bebas kali ini, tapi kalau suatu saat gue tau alasan lo masuk ke markas De Dickens ngerugiin kami, lo bisa ngucapin selamat tinggal ke geng badut lo itu."

BARAJA [NEW VERSION]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang