Special EP; After All This Time?

512 18 8
                                        

"Hey... Sorry ya, ada sedikit masalah tadi. Kamu udah lama disini?"

Rasya menatap laki-laki yang baru tiba itu dengan kening berkerut. Okay.. dia memang sudah lama tidak bertemu Arjun, mari menghitung mundur... Mungkin sekitar delapan belas bulan?

Tapi dia sama sekali tidak menyangka perubahan yang terjadi pada laki-laki itu akan sebesar ini.

Rambutnya panjang, mungkin sekitar enam senti di bawah telinga jika digerai, tapi kini rambutnya dicepol, dan demi apapun, Rasya sekarang tau kenapa seluruh pasang mata pengunjung wanita di cafe itu terarah pada mereka—atau pada Arjun saja—sekarang.

"It's okay, aku juga baru sampek kok," balas Rasya tak lupa mengulas senyum juga menahan diri agak tidak menanyakan bagaimana laki-laki itu bisa memiliki lebam-lebam biru di beberapa bagian wajahnya.

"Sudah pesan?"

Rasya menggeleng yang kemudian ditanggapi Arjun dengan memanggil pelayan untuk memesan.

"Gimana Australia, betah?" Arjun membuka percakapan setelah pelayan pergi menyiapkan pesanan mereka.

"Ya.. tetap nggak akan bisa mengalahkan negara sendiri sih, tapi sejauh ini nggak ada masalah."

Arjun tertawa, satu-satunya hal yang dapat dikenali Rasya dari laki-laki itu setelah segala perubahan yang ada pada dirinya. "Berarti cuma aku yang bermasalah sama kepergian kamu."

"Udah... Jangan bikin musuhku nambah banyak," sela Rasya sambil berdecih. "Kamu ketawa aja mereka langsung pengen makan aku hidup-hidup," lanjutnya dengan mata mengitari seluruh ruangan.

Percakapan terjeda dengan datangnya pelayan yang mengantar pesanan mereka.

"Tetep Black ice coffee ya?" Arjun menggeser cangkir itu ke hadapan Rasya. "Ku pikir setelah tinggal di Australia lidahmu jadi ikut orang sana."

"Nggak usah ngeledek! Aku bisa kesana juga karena kamu nolak tawaran itu."

Arjun menyesap cappucino-nya sebelum kembali memusatkan perhatian pada perempuan di depannya. Perlukah dia menceritakan kembali bagaimana hubungan ini dimulai?

Sepertinya tidak, itu tidak penting lagi sekarang.

"Kan rencananya aku nggak ambil itu biar bisa tetep ambil proyekan sama kamu, eh.. malah kamu yang pergi."

Rasya membuang pandangan dari Arjun. Dari sekian banyak percakapan yang ia bangun dengan Arjun, yang ini adalah yang paling dibenci Rasya.

"Udahlah, Kak, kita sama-sama tau ini nggak akan berhasil," ujarnya.

Seulas senyum terukir di wajah Arjun. Rasya mengelak dengan mengalihkan pandangan, kemanapun asal bukan pada kedua netra yang menyorot sendu itu.

Sial. Rasa bersalah kembali menghantam hatinya.

"Bahkan setelah selama ini?" tanya laki-laki itu pelan. Lalu tertawa kecil. "Padahal aku udah percaya diri tadi, sebelum buru-buru ninggalin kelas buat datang kesini ketemu kamu. Ku pikir, mungkin sekarang waktunya."

Rasya menunduk. Bahkan untuk sekedar membalas tatapan laki-laki itu saja ia tidak sanggup. Perlahan dia menyesali keputusannya untuk mengajak laki-laki itu bertemu siang ini.

Dia tidak menyangka bahwa setelah selama ini laki-laki itu tidak juga menyerah padanya. Bisakah dia egois dengan mengatakan bahwa semua ini bukan salahnya?

Karena dia sudah menolak hubungan apapun yang ditawarkan laki-laki itu sejak awal, ya, kecuali hubungan antar mahasiswa fakultas film dan televisi, kating-deting, dan kerja sama dalam beberapa projek film.

BARAJA [NEW VERSION]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang