Bara merasa hidupnya terlalu special jika harus dihabiskan dengan masalah romansa dan segala tetek-bengeknya.
Selama ini dia merasa cukup hanya dengan teman-temannya, De Dickens.
Tapi hidup selalu punya twist-twist kecil disetiap denting waktu yang...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
SMA Nusantara, Jakarta. Monday, 21 November 2016. 03.23 PM. ----------------------------------------------
Bara menghentikan langkah saat mendapati seseorang berdiri di samping sepedanya yang masih terparkir di tempat biasa.
Ia berniat segera beranjak dari sana tapi terlambat, orang itu melihatnya.
Terpaksa ia mengurungkan niatnya untuk pergi, karena jika ia tetap pergi pasti gadis itu menganggap dirinya sengaja menghindar atau bahkan takut berurusan dengannya.
"Gue udah nungguin lo dari tadi," ujar Rasya menyambut kedatangan Bara.
Bara hanya meliriknya sekilas tanpa ekspresi apapun. Ia mengambil sepedanya dan berniat pergi secepatnya dari sekolah itu.
Sekarang bukan hanya dirinya yang harus menghindar dari image mencolok seorang anggota De Dickens, anggota yang lain juga melakukan hal yang sama karena berita sialan yang membuat mereka menjadi buronan padahal mereka tak melakukan kesalahan apapun.
Siapapun yang membuat kekacauan ini, Bara pastikan dia akan mendapat balasan yang setimpal ditambah bonus dari tangannya sendiri nanti.
Warna rambutnya hari ini adalah kombinasi biru gelap dan biru terang, ia bahkan malu menatap wajahnya sendiri di cermin dengan rambut warna-warni seperti ini.
"Btw, mobil lo kemana?"
Dia hampir lupa jika ada orang lain didekatnya. Bara mendengus, gadis ini benar-benar menguras semua kesabarannya.
"Ada urusan apa lo nyari gue?" Ia pilih balik bertanya daripada menjawab pertanyaan Rasya.
"M... Ada yang perlu gue bahas sama lo, tapi..." Rasya mengedarkan pandang ke sekeliling, mengamati. "Kayaknya nggak bisa di bahas disini," lanjutnya.
Raut wajah Bara semakin keruh, apakah tidak cukup beban pikiran yang diberikan para pengusaha kotor itu padanya sampai-sampai Tuhan mengirim gadis ini untuk membuatnya semakin pusing?
"Nggak bisa, gue sibuk." Ia sudah duduk di atas sepeda, siap mengayuh kendaraan roda dua itu jika saja Rasya tak menahan tangannya.
Matanya membulat. Berani sekali gadis ini.
Menyadari tatapan Bara, Rasya segera melepaskan tangannya kemudian tertawa garing. "Please... Ini penting banget. Tolong dengerin gue sekali aja, gue yakin lo nggak bakalan nyesel karena udah buang-buang waktu buat dengerin gue."
Bara terdiam, mengamati raut wajah gadis didepannya dengan seksama dan mulai berpikir untuk mempertimbangkan permintaan gadis itu.
Mungkin, tidak ada salahnya ia mendengarkan, daripada ia merasa penasaran.
Ia mengedarkan pandang, merasa tak ada yang memperhatikan, ia mencondongkan wajahnya ke arah Rasya.
"Lo pasti punya tv kan dirumah, lo tau siapa gue dan pasti tau kalau sekarang gue buronan. Gue kriminal. Yakin lo masih punya sesuatu yang perlu lo bahas sama gue?" tenang, tanpa intonasi namun cukup untuk membuat Rasya bergeming.