24. Kacau

1.2K 133 3
                                        

Police station, Jakarta

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Police station, Jakarta.
Thursday, 17 November 2016.
11.57 AM
-------------------------------------------------

Ternyata dugaan Milo meleset, benar-benar meleset.

Dia hanya bisa bersandar pada dinding, pasrah dengan keadaan karena percuma saja memberontak, yang ada hukumannya akan bertambah.

Wajah mereka memang tak bersih, beberapa lebam mereka dapatkan karena adegan baku hantam yang terjadi dengan Batras tadi, tapi dugaannya mengenai kembali ke markas ternyata salah besar.

Mereka berakhir di kantor polisi, terpaksa di kurung semalaman disana karena terlibat tawuran.

Milo menatap Dika yang baru bergabung di sel yang sama dengannya, wajahnya lebih hancur daripada milik Milo karena ia memang kembali adu jotos dengan Axel di dalam sel tadi.

Sebelumnya mereka berada di dalam sel yang sama dengan Batras, tapi karena Dika dan Axel kembali bertengkar akhirnya mereka dipisah.

Tak ada bedanya menurut Milo, mereka tetap saja sedang dipenjara walaupun hanya satu malam.

"Batras sialan! Selalu aja bikin masalah," makian meluncur dari bibir Dika.

"Ck, gue nggak bisa bayangin gimana ekspresi emak gue kalau tau anak bontotnya dikurung disini..." ganti Nata, menggerutu sembari menatap langit-langit penjara.

"Tenang aja, Nat, ntar kita bales mereka lebih dari ini, kita bikin mereka dikurung disini bertahun-tahun, kalau bisa sampek tua!" sahut Dika menggebu-gebu.

Milo berdecak, tak yakin ingin menyela tapi ia harus. "Nggak perlu nyalahin mereka, kalau kita nggak kepancing emosi dan ngeladenin mereka, kita nggak bakalan ada disini," ujarnya.

Memang benar, jika tadi mereka tak menggubris kedatangan Batras, Nata tidak memancing keributan, dan Dika bisa menahan emosi dan tidak melayangkan bogem mentah ke pipi Brian, semua ini tidak akan terjadi.

Hening seketika. Mungkin ucapan Milo telah dibenarkan oleh yang lain. Beberapa menit setelahnya mereka saling melirik setelah mendengar instruksi dari Dexas melalui anting yang mereka pakai.

"Anggep aja simulasi."

Helaan nafas berat terdengar. Mau bagaimana lagi, semua ini salah mereka sendiri, tak mungkin mereka berharap yang lain akan datang dan menjamin mereka agar dibebaskan.

Konsekuensi yang telah lama ada dan telah disepakati semua anggota.

Dan satu lagi, mereka tidak akan membawa nama De Dickens disaat sedang dalam masalah seperti ini. Bahkan jika perlu, mereka akan dengan senang hati keluar dari geng itu ketika dalam keadaan terpojok, semisal terjerat kasus serius sampai mendapat vonis hukuman penjara bertahun-tahun ataupun masalah lain yang bisa memperburuk nama De Dickens.

BARAJA [NEW VERSION]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang