Bara merasa hidupnya terlalu special jika harus dihabiskan dengan masalah romansa dan segala tetek-bengeknya.
Selama ini dia merasa cukup hanya dengan teman-temannya, De Dickens.
Tapi hidup selalu punya twist-twist kecil disetiap denting waktu yang...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Rasya's House, Jakarta. Monday, 28 November 2016. 07.38 PM. -----------------------------------------------
Rasya menatap pantulan dirinya sendiri di cermin dengan tatapan tak percaya, terutama pada benda yang tergantung di lehernya.
Apa-apaan ini? Kenapa ia malah tak bisa menahan senyum?!
Okay, sepertinya gadis itu sudah benar-benar gila.
Ia berbalik, menghempaskan dirinya dengan keras ke atas tempat tidur. Menenggelamkan wajahnya dalam bantal saat mengingat kejadian sore tadi.
"Jadi yang lo maksud kemarin Rasya, Bar?" Setelah hanya berkerumundisekitar Rasya dalam diam, akhirnya Nata bersuara.
"Kita tunggu yang lain dulu," sahut Bara, tak langsung menjawab pertanyaan Nata.
Tepat sekali, setelah Bara mengatakan hal itu, beberapa orang lagi masuk. Diantaranya yang Rasya kenal adalah Dika dan Adrian, sementara yang lain masih asing di matanya.
Tetapi laki-lakibermanikkehijauan itu tentu sudah ia hafal wajah datarnya, hanya saja ia belum mengetahui namanya.
Diperhatikansedemikianrupa, Rasya hanya bisa duduk kaku, menatap tangannya yang saling bertaut. Benar-benar mati gaya.
Ruangan itu mulai penuh, entah ada berapa banyak orang yang datang, Rasya tak berani mengangkat wajahnya untuk sekedarmenghitungjumlah mereka.
Tapi Bara yang melakukannya, laki-laki itu mengangkat wajah Rasya menggunakan jaritelunjuknya seraya berkata, "Ini cewek gue, namanya Rasya, tiap alarm itu muncul kalian harus bisa nemuin dia, pastiin dia aman. Inget-inget wajahnya."
Rasya dapat merasakanpanasmenjalar di setiapsudut wajahnya, malu sekaligus canggung. Entah apa tanggapan semua orang ini kepadanya.
Merasa Bara terlalu lama mengangkat wajahnya dan sepertinya tak berniat melepaskannya dengan cepat, Rasya menepis tangannya. Membuang wajah dari orang-orang yang berdiri disekitarnya dan beralih menatap laki-laki itu.
"Gila!! Dia harus masuk RSJ!!" pekik Rasya, tenggelam dalam bantal.
Apa sebenarnya masalah Bara dengannya? Kenapa dia melakukan semua ini, dan untuk apa penjagaan super ketat seperti ini?