26. Bendera Perang

1.2K 143 3
                                        

Public cemetery, Jakarta

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Public cemetery, Jakarta.
Monday, 21 November 2016.
05.28 PM.
-----------------------------------------------

Juno Devanagari.

Begitulah ukiran nama yang ada di papan nisan gundukan tanah di depannya.

Bara tak ingat bagaimana sifat Juno, pun sepertinya tak pernah mengobrol dengannya sama sekali. Tapi satu yang ia tau pasti, Juno adalah bagian dari De Dickens, salah satu anggota keluarganya.

Dan siapapun yang bertanggung jawab atas kematian laki-laki itu, Bara pastikan orang itu akan mendapatkan balasan darinya. Setimpal ditambah dengan bonus khusus seperti biasa.

Suasana hening menyelimuti rasa duka mereka. Di sekililing gundukan tanah yang masih terlihat basah, Bara, Reynand, Dika, Nata, dan Adrian duduk berjongkok, kedua tangan mereka memegang tanah pemakaman Juno.

Masing-masing memiliki kata-kata terakhir yang mereka sematkan untuk almarhum dalam hati.

Berbeda dari Rey, Nata, Dika dan Adrian, yang memberikan doa-doa dan harapan ketenangan untuk Juno, Bara malah mengikrarkan sumpah bahwa dirinya sendiri yang akan menuntut keadilan untuk Juno.

Dirinya sendiri, menggunakan kedua tangannya yang kini menggenggam tanah makam laki-laki itu.

Benaknya mulai memutar ingatan saat Rey memberi kabar duka sore tadi.

Bara meninggalkan Rasya di Caffe itu sendirian, urusannya kali ini jelas berpuluh-puluh kali lipat lebih penting daripada khawatir bagaimana gadis itu akan pulang nanti.

Salah satu anggota keluarganya berpulang.

Jantung Bara berdebar cepat, seiring dengan larinya yang semakin cepat membelah kerumunan para pejalan kaki yang tengah menikmati waktu sore untuk bersantai.

Tidak ada waktu. Ia harus sampai di rumah sakit secepatnya.

Beruntung ia tiba tepat waktu, terlambat sedikit saja ia tidak akan bisa melihat wajah Juno untuk yang terakhir kalinya.

Bara sempat melihat anggota De Dickens yang lain telah siap menunggu jenazah Juno di pelataran rumah sakit. Saat menghampiri ruang rawat Juno ia dapati beberapa temannya disana.

Sekitar lima belas orang, empat diantaranya adalah inti De Dickens.

Ia tak sempat bertanya apapun, yang Bara lakukan adalah langsung masuk ke ruangan itu, terpaku menatap tubuh yang terbujur kaku di atas brankar.

BARAJA [NEW VERSION]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang