04. SMA Nusantara

2.5K 246 0
                                        

SMA Nusantara, Jakarta

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

SMA Nusantara, Jakarta.
Monday, 19 September 2016
06.15 AM.
---------------------------------------------

Setelah berhasil mendapatkan parkir, Rasya berjalan meninggalkan area parkir seraya bermain ponsel. Mencari tahu apakah teman-temannya yang lain telah sampai.

Hari pertama menumpang di sekolah lain, Rasya berusaha berangkat lebih pagi agar tidak menimbulkan kesan buruk.

“Eh.” Rasya berhenti melangkah saat tanpa sengaja dia bertabrakan dengan seseorang. “Maaf, nggak sengaja.”

Gadis berseragam khas SMA Nusantara itu menatap Rasya dari atas sampai bawah. “Nggak apa-apa. Lo dari Pattimura?” Rasya mengangguk. “Kok muka lo familiar ya, tapi gue lupa pernah liat dimana. Btw, nama lo siapa?”

Rasya mengulurkan tangannya. “Afrasya. Lo?”

Cewek itu masih menatap wajah Rasya dengan seksama, saat tangannya menjabat tangan Rasya, dia teringat. “Afrasya Nazafarin?”

Rasya mengernyit. “Kok lo tau nama lengkap gue?”

“Aqila Griseldis, yang selalu lo bangunin pagi buta cuma gara-gara ayunan. ”

Mulut Rasya ternganga. “Lo... Qila?! Gila, udah lama banget. Lo tinggal dimana sekarang?”

Aqila tertawa. “Cuma pindah ke komplek deket sini,” jawabnya. “Terus sekarang lo mau kemana?”

Oh iya, Nadira berkata bahwa mereka— siswa Pattimura—akan berkumpul dilapangan volly terlebih dahulu untuk pembagian kelas dan sambutan dari kepala sekolah. “Lapangan Volly sebelah mana sih?”

“Lo mau kesana? Jalan lurus aja, di ujung koridor belok kanan. Lapangan Volly paling barat,” jelas Qila. “Gue ke kelas dulu ya, bye.”

Setelah Qila tak lagi terlihat, Rasya pergi sesuai petunjuk yang diberikan gadis itu. Lurus, belok kanan, paling barat.

Kebetulan, dari arah berlawanan ada seorang guru berbadan tambun. Rasya tersenyum, menyapa, “Pagi, Bu Tutik.”

Guru itu menoleh, langkahnya terhenti. “Wajah kamu kok mirip wajah keponakan saya, ya?”

Rasya tertawa. “Wah, ibu salah orang nih pasti.”

Memukul pelan lengan kanan Rasya, Bu Tutik berkata, “Dasar! Ya udah sana kumpul di lapangan, teman-teman kamu sudah banyak yang datang.”

"Ya udah, Bu. Saya permisi, mau ke lapangan."

Setelah mendapat persetujuan dari Bu Tut, gadis itu melangkahkan kakinya menuju ruangan yang sudah diberitahukan oleh wanita itu. Namun baru beberapa langkah, ia mendengar wanita itu berteriak keras tak jauh dibelakangnya.

"Darell! Kamu dari kemarin masih tidak kapok-kapok?!"

Karena penasaran ia pun menoleh, namun yang ia dapati hanya wanita bertubuh tambun itu yang sedang berkacak pinggang berdiri membelakanginya dan menatap sosok laki-laki yang tidak bisa Rasya lihat wajahnya.

BARAJA [NEW VERSION]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang