Bara merasa hidupnya terlalu special jika harus dihabiskan dengan masalah romansa dan segala tetek-bengeknya.
Selama ini dia merasa cukup hanya dengan teman-temannya, De Dickens.
Tapi hidup selalu punya twist-twist kecil disetiap denting waktu yang...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Rasya's House, Jakarta. Saturday, 12 November 2016 07.33 AM. -------------------------------------------------
"Bangun pagi... Gosok gigi... Cuci motor... Tidur lagi..." Senandung Arzan melintasi ruang keluarga sembari menenteng sabun untuk mencuci motor.
Langkahnya terhenti saat mendapati adik bungsunya, Rasya, tengah duduk di sofa. Televisi menyala di depannya tapi gadis itu menatap kosong, tak menikmati acara yang ditayangkan.
Arzan memincingkan mata, berjalan mendekat. Tak lupa ia meletakkan sabun yang sebelumnya ia bawa ke atas meja.
"Woi!" kejutnya, nyaris berteriak tak lupa menepuk bahu Rasya, jenis tepukan yang dilakukan sepenuh hati sampai membuat gadis itu terlonjak kaget.
Rasya melotot. Terkejut sampai nyaris serangan jantung akibat ulah manusia primitif yang sialnya satu kandungan dengannya.
Dia meraih bantal, melemparkannya tepat ke wajah Arzan. "Tarzan sialan!"
Tak merasa bersalah, laki-laki itu duduk di samping Rasya. Bahkan mungkin lupa bahwa ia berniat mencuci motornya.
"Kenapa lo? Sabtu pagi gini muka kusut amat, nggak ada yang ngajak malmingan?"
"Ck, mending lo dandanin motor kesayangan lo sana, jangan ganggu gue!"
Arzan mencibir, "Idih, sewot amat lo sama Queeny, cemburu kan lo gara-gara gue lebih perhatian sama dia daripada sama lo?!"
Rasya kembali menatap Arzan, kali ini dengan mulut menganga lebar dan mata melotot. "Apa? Gue? Cemburu sama motor butut lo?! Ngayal!"
Memang tak ada yang lebih nyeleneh dari Arzan, bisa-bisanya dia menuduh Rasya cemburu terhadap motor yang ia beri nama Queeny itu. Rasya menggerutu.
Arzan meraih remote televisi, mengganti channel kemudian meletakkan benda itu ke atas meja lagi, menoleh pada Rasya. "Ini mumpung gue lagi perhatian nih, gue tanya, ada masalah apaan lo?"
Rasya mendesah kesal, padahal perdebatan kecil tadi sedikit membuatnya lupa akan masalahnya, tapi abangnya itu malah mengingatkannya kembali.
"Dih sok perhatian. Gue nggak ada masalah apa-apa, gue beda ya sama lo yang banyak masalah hidup!"
"Dih, ngeles mulu kayak becak. Lagian udah keliatan jelas lo mah kalau ada masalah sama nggak ada, biasanya heboh banget kayak ayam bertelor sekarang diem mulu kayak kambing congek. Udeh buruan cerita sini sama abang."
"Jijay. Udeh sono ah, gue nggak ada masalah apa-apa, jangan ganggu!"
Arzan menggerutu dalam hati, yakin bahwa ada sesuatu yang mengganggu pikiran adiknya itu. Tapi sudah sangat hafal sifatnya, Rasya tidak akan bercerita apapun pada siapapun jika dia memang tidak ingin.
Ia menarik rambut Rasya, tak terlalu kasar tapi cukup untuk membuat gadis itu memekik sembari memakinya.
"Kalau ada masalah jangan dipendem sendiri. Gue sama Arkan siap dengerin, jangan nunggu sampek dibikin nangis orang baru lapor."