41. Perfect ending

2K 186 510
                                        

Tuesday, 04 December 2016

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Tuesday, 04 December 2016.
11.02 AM.
----------------------------------------------

"It's the end of the game."

DORR!! DORR! BRAKK..

Huft...

Helaan nafas berat lolos dari bibir Rey, bersamaan dengan suara lengkingan senjata yang bersumber dari earpiece yang ia kenakan.

Bola matanya berpendar menatap deretan angka dan huruf yang tertera di monitor, raut wajahnya tetap datar, seolah ia tidak sedang mengambil saldo bank senilai sembilan miliar rupiah dari rekening orang lain tanpa izin.

Kasarnya, dia sedang merampok.

Ctak... Ctak.. ctak...

Jeritan keyboard terdengar memenuhi ruangan, Rey telah menyelesaikan bagiannya dalam penyelesaian game ini. Sekarang yang masih mengganggu pikirannya adalah, apakah game ini akan berakhir sesuai rencana?

Jumlah saldo di rekening atas nama Fikri Ramadhan kini bernilai 0, Rey berpindah ke komputernya yang lain, melihat kondisi arena tempur.

Sudah pasti De Dickens yang memenangkan perang ini karena Batras sebenarnya ada di pihak mereka, jadi Rixan kalah jumlah.

Dia kembali beralih menatap komputer yang lain, mengarahkan kursor kemudian menekan mouse di tempat yang ditujunya.

"Polisi?" gumamnya setelah mengaktifkan sambungan earpiecenya dengan earpiece anggota De Dickens yang bertugas mengawasi kedatangan polisi atau pihak lain yang berbahaya bagi mereka.

"15 kilo meter dari lokasi."

Rey langsung mematikan sambungan itu, kendali ini hanya ada di tangannya, ia bisa membuat semua earpiece terhubung pun bisa membuat semuanya terputus. Sedangkan sedari tadi, earpiecenya hanya terhubung dengan earpiece Bara, terkadang ia mengaktifkan dengan yang lain jika di perlukan.

"Polisi mulai bergerak," ujarnya.

"Mundur."

Suara Bara terdengar menyahut, memberikan perintah yang sedari tadi membebani pikiran Rey.

"Lo gila?"

Sejak awal dia tidak setuju dengan rencana ini, tapi rasanya percuma saja ia bersuara, Bara tidak akan mengubah keputusannya, meskipun laki-laki itu selalu bersikap seolah dia mau mendengarkan pendapat orang lain.

PRANG!!

Suara pecahan yang begitu nyaring pun sampai di telinga Rey, disusul dengan suara Bara, "Mundur! Jangan ngerusak rencana sempurna gue!"

Raut wajah Rey semakin datar, namun keningnya yang berkerut menunjukkan seberapa frustasinya dia sekarang. "Sempurna?"

"Ini perintah. Mundur sekarang."

BARAJA [NEW VERSION]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang