Bara merasa hidupnya terlalu special jika harus dihabiskan dengan masalah romansa dan segala tetek-bengeknya.
Selama ini dia merasa cukup hanya dengan teman-temannya, De Dickens.
Tapi hidup selalu punya twist-twist kecil disetiap denting waktu yang...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Rasya's House, Jakarta Monday, 03 December 2016. 07.00 PM ---------------------------------------------
Melihat apa yang baru saja tayang di televisi, Rasya tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Dia membeku, tak bergerak sama sekali seolah nyawanya baru saja direnggut.
Kejutan apalagi sekarang?
Ia bahkan belum bisa mencerna dengan baik maksud Bara datang ke rumahnya sore tadi, dan sekarang.. semua ini.
Tentu saja semua itu tak luput dari perhatian bundanya, Ana menatap bingung anak bungsunya.
"Kenapa, Dek?"
Rasya mengerjap, menatap bundanya dengan tatapan linglung. Kenapa? Ada apa dengannya?
Dia mencemaskan laki-laki itu, tentu saja, setelah ia melihat dengan jelas tempat yang ia kunjungi beberapa hari yang lalu di kepung oleh polisi, dan motor ungu yang ia kenali dibawa pergi. Apakah dia akan tetap berpikiran positif?
"Lo bahkan nggak tau apa aja yang gue lakuin selama dua puluh empat jam per harinya, bisa aja selama itu gue ngerampok orang, jual ganja, judi atau bahkan bunuh orang. Atas dasar apa lo nggak percaya sama berita-berita itu?"
Ucapan Bara waktu itu terputar secara otomatis di kepala Rasya, membuatnya takut dan khawatir secara bersamaan.
Apakah geng motor itu kriminal?
Dia menggeleng. Menjawab pertanyaanya sendiri dengan yakin, bagaimana mungkin mereka yang memperlakukan Rasya dengan baik adalah seorang kriminal.
Ia tidak tahu kalau laki-laki bermanik hijau itu, tapi yang ia tau, Nata dan Dika bukanlah orang jahat.
Dan, Bara, meskipun Rasya pernah melihatnya hampir membunuh orang di kamar mandi sekolah, ia tetap yakin jika laki-laki itu bukan penjahat.
"Dek..??"
Suara Ana kembali terdengar, membuat lamunan Rasya buyar begitu saja. "Iya, Bun, kenapa?"
"Kamu kenapa?"
"Eum... Nggak pa-pa kok bun," jawabnya, jelas berbohong. Ia pun tak mungkin memberitahu bahwa Bara -laki-laki yang selalu menjemput dan mengantarnya pulang beberapa hari terakhir ini- adalah ketua geng motor yang baru saja diberitakan di televisi.
Bisa-bisa bundanya shock, karena tau anaknya bergaul dengan anggota geng motor... Meskipun Arkan dan Arzan pun punya geng motor.
Berita itu sudah berganti dengan iklan, namun bayang-bayang motor Bara dinaikan ke atas mobil polisi masih mengganggu Rasya.
Dia ingin tau bagaimana keadaan laki-laki itu sekarang, apakah dia sedang berada di kantor polisi?
Rasya berdiri, Ana langsung menoleh padanya dan bertanya, "Mau kemana, Dek?"