[10] Ninuninuninuuuu

174 59 10
                                        

Jiae sibuk banget nerima pesanan. Sambil kuliah, ngurus proker, nerima pesanan juga. Jam tidurnya juga jadi terganggu. Biasanya jam setengah 11 udah rebahan di kasur, sekarang mundur sampai jam 1. Untung kelas paling pagi di semester ini jam 9. Gak kebayang kalau ada kelas jam 7, telat terus kayaknya.

"Kak, ojolnya udah dateng," Joochan nongol di pintu dapur.

"Kasih nih, yang pita merah," titah Jiae.

Beres ngurusin pengiriman via ojol, ganti ngebalesin chat. PO udah ditutup dari 4 hari yang lalu, tapi full book. Sama aja kan sibuk-sibuk juga. Keuntungan bisnis makanan emang lumayan banget, tapi tenaga benar-benar terkuras.

"Chan, tolong dong ini."

Kalau bagian ngehias, Joochan bisa diandalkan. Tinggal Jiae kasih instruksi ditulis di kertas, nanti Joochan tinggal ngerjain. Teamwork sebagai saudara bakal keliatan banget kalau lagi begini. Gak ada berantemnya sama sekali.

"Ada sisa gak?" Kebiasaan Joochan kalau lagi banyak pesanan gini ngincer sisa.

"Ada," jawab Jiae. "Tapi mau gue jual."

"Yaaah... padahal buat gua aja—Kak, HPnya!"

Jiae buru-buru menyambar ponselnya yang tergeletak di meja dapur. "Halo?"

"Sisaan tadi gua ambil ya."

"Boleh. Hiasannya mau apa?"

"Apa ya... gua kesana aja deh."

"Sip, ditunggu."

Begitu Jiae menyudahi obrolannya di telepon, Joochan kepo. "Siapa, Kak?"

"Kihyun," jawab Jiae. "Mau kesini ngambil pesanan."

Lima belas menit berselang, Kihyun datang dengan dandanan super rapi. "Ji, makasih banget. Untung lo nawarin ke grup," katanya.

"Kenapa sih? Butuh buat apaan?" tanya Jiae.

Kihyun tersenyum malu sambil membetulkan kerah kemejanya. "Biasaaa, mau caper ke gebetan," jawabnya.

"Oohh yang anak padus itu?"

"Yoi. Gua lupa banget hari ini dia ulang tahun, dan kebetulan jam 7 nanti kita mau jalan."

"Kok jam segini udah cakep banget, Bang?" tanya Joochan. Soalnya ini masih jam setengah 5 sore.

"Ya kan gua mau nyiapin kado sama kue dulu."

Kemudian Kihyun melepas kemejanya dan menyisakan kaos hitam polos. Sengaja, takut bajunya kena kue. Nanti jadi gagal gantengnya.

"Kalau mau lebih spesial, ngehias sendiri," celetuk Jiae. "Nanti pas ngasih bisa pamer, 'Aku ngehias sendiri loh'."

"Bener tuh Bang, langsung tembak juga sabi. Pasti diterima," timpal Joochan.

"Sotooyyy banget," Kihyun menonjok pelan lengan kanan Joochan.

"Cewek lu sukanya apa? Frostingnya sisa cokelat, vanilla, green tea doang," kata Jiae.

"Coklat sama vanilla aja deh. Green tea kek rumput!"

"Emang udah pernah nyoba makan rumput, Bang?"

The Guy Next DoorTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang