Ezra POV
"Abang maafin mami tapi ini telurnya sisa satu apa boleh untuk Enzi?" gue cuma bisa mengangguk lemah padahal gue pengen banget makan nasi goreng pakai telur setengah matang
"Bang bisa tolong jemput Enzi?" Gue yang baru pulang ngampus niatnya mau santai langsung aja ambil kunci motor begitu dengar ucapan papi
"Bang donat kejunya boleh buat Enzi gak?" kata Enzi dengan wajah polosnya
Itu beberapa kalimat yang sering banget gue denger dikeluarga ini. Enzi Enzi dan Enzi. Pokoknya Enzi itu prioritas utama deh.
Apa gue iri dengan itu?
Jawabannya engga. Karena Enzi pun prioritas utama buat gue.
Gue selalu ingat wajah bahagia mami dan papi waktu peluk gue sambil bilang gue akan punya adik. Gue senang banget langsung ngebayangin main bareng adik nanti.
Tapi nyatanya punya adik itu tidak terlalu menyenangkan untuk gue. Gue engga benci adik gue tapi gue benci setiap ngeliat mami kesakitan, gue benci setiap ngeliat wajah panik papi dan gue benci saat mami harus bolak balik ke rumah sakit.
Kami hampir kehilangan adik. Mungkin totalnya dua atau tiga kali mami pendarahan sampai akhirnya adik harus dilahirkan padahal waktu itu usia kandungannya baru tujuh bulan.
Waktu pertama kali gue lihat Enzi gue cuma bisa diam engga tau harus ngapain. Di depan gue ada bayi yang super kecil, berat badannya engga sampai dua kilo. Untuk nyentuh tangannya aja gue takut, takut nyakitin Enzi.
"Engga apa-apa pegang aja adiknya," ucap papi. Akhirnya gue memberanikan diri untuk sentuh telapak tangannya dan lucunya Enzi genggam telunjuk gue cukup erat. Disitu gue langsung bertekad untuk selalu jaga Enzi dan jadi abang yang baik untuknya.
Tapi perjuangan kami tidak sampai situ aja, mungkin karena Enzi dilahirkan prematur dia jadi sering sakit. Dari situ awal mula kami lebih protektif ke adik.
Eh tapi sebelum kalian sebel sama mami dan papi gue cuma mau kasih tau kalau kasih sayang dari mereka ke gue gak pernah berkurang.
Kalau gue harus kasih telur mata sapi ke adik mami langsung ganti dengan sosis goreng atau nuget dengan porsi banyak.
Kalau gue harus gantiin papi jeput Enzi begitu sampai rumah pasti udah ada makanan atau minuman favorit gue dari papi atau yang paling sederhana papi akan mengelus kepala gue sambil bilang "terima kasih ya abang."
Dan walaupun kadang gue kesel karena donat keju punya gue dimakan Enzi semua itu akan terbayar waktu lihat mulutnya penuh dan mata membesar yang menandakan ia suka rasanya.
Kami pernah bertengkar tapi langsung baikan beberapa jam kemudian. Kadang gue harus minta maaf dan kadang tidak ada kata maaf dari mulut kami berdua semua berjalan biasa saja kami ngobrol seperti tidak habis bertengkar beberapa waktu lalu.
Enzi mulai dewasa PR kami bertambah satu yaitu jaga adik gue dari laki-laki yang akan mendekatinya. Gue pernah membicarakan ini bersama mami dan papi, menurut mami Arya sepupu gue itu mencurigakan, kalau papi menaruh perhatian khusus ke kakak kelas Enzi yang tiba-tiba dibawa makan malam bersama kami dan gue pribadi ngejaga Enzi dari si Bagas, sahabat gue sendiri.
Pesona adik gue ini memang tidak main-main tiga orang sekaligus kalau abangnya sih setia pada Sera seorang hehe.
Mungkin terlihat berlebihan apa yang kami lakukan untuk Enzi tapi untuk kami yang sering melihat wajah lemas atau tangis Enzi waktu sakit menjaga senyuman Enzi itu hal utama dan kami akan melakukan semua hal untuk jaga itu.
"Abang dengerin aku ngomong gak sih?" sungutnya karena dari tadi gue hanya melihat hand phone lalu Enzi keluar kamar sambil menghentakan kakinya, gemas. Dari tadi gue dengar semua cerita dia tapi agak malas meladeni karena Enzi terus cerita soal Azriel si kakak kelas yang menurut gue sok ganteng.
Gue ikutin dari belakang dan benar saja pasti arahnya ke kamar mami dan papi. Dia buka pintu kamarnya tanpa ketuk dan permisi mengagetkan mami dan papi yang sepertinya sedang bercanda di kasur. Mami langsung berhenti tertawa dan merentangkan tangannya "Kenapa mukanya cemberut gitu, sayang," katanya lembut sedangkan papi memandang kami dengan wajah bete.
Gue sendiri ikutin Enzi aja naik ke atas kasur jadi posisi kami sekarang gue dan Enzi ditengah mami dan papi.
"Ini apa sih kenapa kamu ikutan naik juga jadi sempit nih," ucap papi
"Kalo mau lega ke kamar Ezra aja tuh pi tidur sendiri enak luas," jawab gue dengan muka super menyebalkan. Papi langsung membekap gue dengan tangannya, mami dan Enzi cuma ketawa ngeliat tingkah kami
Akhirnya kami tidur dalam kondisi sempit begini sampai pagi.
End.
Hallo apa kabar?
Aku agak kaget masih nerima notif vote atau komen dicerita ini. Aku jadi kangen sama keluarga ini hehe.
Terima kasih yang udah ikutin cerita ini dari awal sampai akhir semoga bonus chapter ini mengobati kangen kalian sama keluarga ini ❤️❤️
KAMU SEDANG MEMBACA
STAY
Ficção GeralApa yang kamu lakukan jika pasanganmu tidak bisa menerima kekuranganmu, lepaskan atau bertahan ? ...... "Maaf Vio, kayanya aku engga bisa lagi ngelanjutin semua sama kamu" "Maksud kamu?" "Aku engga bisa lagi jadi suami kamu Vio, aku udah engga taha...
