Juni 2015
Sebulan setelah kejadian di restoran itu hubunganku dengan Rio bisa dibilang on-off kadang kami akur dan kadang kami bertengkar untuk hal-hal yang sepele, mungkin karena aku yang terlalu sensitif.
Hari ini aku harus menghadiri sidang lanjutan perceraian kami. Entah mengapa aku merasa badanku sangat lemas, bukan cuma karena aku malas melanjutkan proses perceraianku tetapi haidku yang keluar sangat banyak hari ini. Aku sudah menelpon tante Aisyah dan dia bilang memang wajar seperti itu.
Ramadan kali ini akan menjadi Ramadan pertama aku berpuasa tanpa Rio setelah menikah.
"Kamu engga apa-apa kan Vio?," tanya Rio begitu melihatku
"Engga apa-apa."
"Kamu pucet banget, Vio."
"Aku engga apa-apa Rio, jangan bawel deh."
"Iya maaf, tapi apa engga sebaiknya kamu jangan terlalu maksain pengobatan kamu, Vio. Kalo kamu engga kuat ya udah stop dulu."
"Oh jadi menurut kamu mentang-mentang aku udah engga sama kamu jadi aku harus stop usaha buat punya anak gitu? Kamu denger ya, aku bakalan terus usaha biar suami aku nanti engga harus ngalamin kekecewaan kaya kamu"
"Bukan gitu maksud aku Vio."
"Terus maksud kamu apa? Lagian ya dulu aja kamu nyuruh aku buat engga setengah-setengah kalo berobat sekarang aja nyuruh stop"
"Ya justru karena itu, Vio. Aku sadar dulu kamu pernah sampai pingsan karena obat sinse aku cuma takut kamu kaya gitu lagi"
"Udah deh gak usah ngurusin aku, dulu aja kamu engga peduli sekarang sok peduli"
Biasanya aku lemah menghadapi Rio tetapi entah mengapa aku sangat emosi menjawab semua pertanyaannya.
Karena terlalu lemas aku langsung pulang walau sidang belum dimulai. Kata Rio sidang ditunda dua minggu lagi. Aku tidak bermaksud mengulur proses perceraian ini tetapi aku benar-benar tidak kuat.
Setelah sampai rumah yang aku lakukan hanya tiduran di kasur dan kadang menangis. Efek suntik ini benar-benar mangacaukan emosiku. Aku memikirkan Rio, aku merasa bersalah karena terlalu sinis tadi jadi aku putuskan untuk menelponnya.
"Rio maaf tadi aku galak, ini efek suntik," kataku cepat
"Gak apa-apa, semoga kamu cepat sembuh Vio."
"Iya makasih, kamu puasa?."
"Puasa kok".
"Oh, Alhamdulillah."
Percakapan terhenti selama beberapa detik.
"Hmm Vio..."
"Ya?."
"Kamu kapan mau kontrol lagi?."
"Nanti dua minggu lagi mungkin."
"Oh gitu, ehm kalo kamu mau aku bisa nemenin kamu."
"Ah engga usah."
"Ya udah kalo engga mau juga engga apa-apa."
"Kenapa baru sekarang sih kamu peduli?."
"Maaf Vio."
aku menghela napas kasar "maaf" lagi-lagi kata itu yang keluar dari mulut Rio.
Setelah selesai menelpon Rio, aku rebahkan tubuhku di kasur mataku menatap langit-langit kamarku. Aku mengingat Ramadan pertamaku dengan Rio, saat Rio yang hampir membatalkan puasanya karena tidak tahan melihat aku memasak sop bakso kesukaannya. Aku sangat merindukan Rio.
KAMU SEDANG MEMBACA
STAY
General FictionApa yang kamu lakukan jika pasanganmu tidak bisa menerima kekuranganmu, lepaskan atau bertahan ? ...... "Maaf Vio, kayanya aku engga bisa lagi ngelanjutin semua sama kamu" "Maksud kamu?" "Aku engga bisa lagi jadi suami kamu Vio, aku udah engga taha...
