Saat semua sibuk mengurus acara lamaran kak Julio minggu depan, aku menyendiri di kamar. Mungkin ibu menyesal sudah melahirkan aku, sudah penyakitan dicerai pula oleh suaminya.
Ya Tuhan mengapa harus menuggu sembilan tahun baru engkau pisahkan kami? mengapa tidak sejak awal hubungan ini?
Kak Julio berusaha menghiburku dengan mengatakan akan mencarikan seseorang yang lebih baik untukku. Maksud kak Julio aku harus memulai semua dari awal? Dan mereka akan meninggalkan aku lagi ketika tahu keadaanku. Ayah juga sempat bilang kalau masih banyak ikan dilaut, walaupun banyak ikan dilaut, tetapi bagaimana nelayan bisa menangkap ikan jika perahunya sudah rusak?
Aku cuma mau Rio. Rioku yang dulu, yang selalu membuatku terawa disaat apapun.
Kata ibu ada pengobatan tradisional untuk mengobati penyakitku ini. Ah ibu aku sudah trauma dengan pengobatan seperti itu, dan aku lelah dengan semua ini. Aku ingin mati saja, bu.
**********
Hari ini adalah hari acara lamaran kak Julio, aku datang sendiri tanpa Rio. Acara berlangsung dengan lancar. Tanggal pernikahan pun sudah ditentukan. Kak Julio akan menikah enam bulan lagi, aku doakan semoga pernikahanmu langgeng tidak sepertiku kak.
Gila saja kak Julio ini, aku baru saja di talak suamiku seminggu yang lalu masa aku sudah dikenalkan dengan lelaki lain. Bahkan akta cerai pun aku belum punya.
Orang yang dikenalkan denganku tadi namanya Devon. Orangnya tampan, tinggi, dan senyumannya sangat manis. Dia duda mempunyai satu anak perempuan berusia empat tahun bernama Arabella atau biasa dipanggil Bella. Istrinya meninggalkan dia dan anaknya karena merasa masih muda dan ingin bersenang-senang.
Andai aku yang diberikan anak itu, aku tidak akan pernah meninggalkan dia.
Setelah acara selesai, kak Julio mengajak beberapa kerabat dekat untuk datang kerumah untuk ngobrol santai masalah persiapan pernikahannya nanti. Kak Julio dan teman-temannya ngobrol di teras rumah dan aku mengajak Bella ke halaman belakang, di sana ada beberapa tanaman hias milik ibu dan akuarium besar milik ayah
Aku tidak hentinya tertawa bersama Arabella, aku sangat suka sikap percaya dirinya. Arabella tidak malu untuk bergaul dengan orang baru. dia dengan sikap centilnya meminta ku untuk mengambil fotonya berkali-kali.
"Tante, tolong fotoin aku sama akuarium dong. Bella mau foto sama ikan yang warna merah," katanya sambil menunjuk ikam emas koki di akuarium. Bella mulai bergaya, mulai dari tersenyum dengan tangan kanan kanan di pinggang sampai pose mencium akuarium. Bukan hanya itu saja, dia juga berkali-kali memintaku untuk melakukan selfie.
Setelah makan malam Bella langsung tertidur di pangkuanku, mungkin karena dia lelah dengan kegiatan seharian ini. Devon berusaha membangunkan Arabella tetapi dia malah mengeratkan pegangannya pada tanganku, akhirnya aku menggendongnya sampai ke mobil.
"Makasih ya Vio, maaf jadi ngerepotin," Devon tersenyum
"Hmm engga apa-apa kok mas," kataku sedikit tersipu, demi apapun senyum Devon benar-benar sangat manis
"Panggil Devon aja, Vio. Jangan mas, aku kaya aneh kalo dipanggil mas," kali ini dia tertawa dan wajah Devon makin terlihat tampan ketika tertawa. Aku mengangguk
"Hmm.. Vio, aku boleh minta nomer telpon kamu?"
"....."
Aku hanya terdiam, memikirkan apa salah jika aku memberikan nomor telponku untuk laki-laki lain. Apa Rio akan marah jika aku memberikan nomor telponku ke Devon, ah Rio masih saja aku memikirkan dia.
"Engga apa-apa kalau engga boleh, aku ngerti kok kita kan bar-"
"Boleh kok, boleh," kataku memotong ucapannya
Akhirnya kami bertukar nomor telpon sebelum Devon akhirnya pulang.
Ketika aku masuk ke dalam rumah, aku melihat kak Julio sedang memandangku dengan wajah seolah-olah mengatakan "cieee". langsung saja aku melewatinya dan masuk ke kamar
April 2015
Aku masih bermalas-malasan di tempat tidurku sambil melihat beberapa foto saat acara lamaran kak Julio. Ada fotoku dengan Arabella. Dia cantik sekali datang memakai gaun seperti princess dengan rambut dikuncir dua. Aku membayangkan kalau dia anakku dan Rio, pasti aku suka mendandaninya dan Rio pasti akan memanjakannya. Aku membayangkan Rio akan bersikap over protective dan menjauhkan semua laki-laki yang mencoba mendekati anak kami.
"Ngapain kamu senyum-senyum sendiri, Ibu udah panggil dari tadi engga nyaut juga," kata ibu yang tiba-tiba sudah di kamarku
"Ibu manggil aku mau ngapain emangnya?."
"Itu ada tamu nyari kamu."
"Siapa bu?."
"Rio."
DHEG!
"Ngapain dia datang pagi-pagi begini bu?."
"Ibu engga tau, udah kamu kesana dulu samperin dia."
"Iya."
Aku malas mandi karena buat apa tampil cantik hanya untuk bertemu dengan si berengsek itu. tetapi bagaimana kalau ternyata dia datang untuk meminta rujuk dan menjemputku untuk pulang. Akhirnya aku putuskan untuk mandi dan berdandan sebelum menemui Rio.
....
"Ada apa?" tanyaku saat menghampirinya.
Aku perhatikan Rio yang duduk di depanku, dia sedikit berantakan. Rambutnya sudah mulai agak panjang, kantong hitam di bawah mata dan bulu halus disekitar wajahnya. Dulu aku selalu meminta Rio untuk bercukur, mungkin hampir setiap hari karena aku tidak suka dicium kalau Rio belum bercukur rasanya gatal dan geli. tetapi bukan hanya itu dengan bercukur Rio terlihat lebih muda. Lagi-lagi aku tidak bisa mengontrol pikiranku untuk tidak memikirkan kenangan kami dulu.
"Aku cuma perlu sebentar sama kamu," katanya pelan
"Mau apa?."
"Aku mau minta tanda tangan kamu di surat ini."
"Ini surat apa?."
"Gugatan cerai, katanya engga bisa di proses kalo engga ada tanda tangan kamu."
"Kamu serius?," aku tidak bisa mengontrol mulutku untuk menanyakan hal bodoh ini
Dia hanya mengangguk pelan.
"Oh.."
Aku langsung menandatangi surat itu. Kata Rio nanti akan ada orang dari pengadilan yang datang untuk memberi tahu kapan sidangnya.
Setelah Rio pergi aku langsung lari mencari ibuku dan menangis di pelukannya.
Ibu tidak mengucapkan satu katapun, hanya memelukku dengan erat dan ayah mengusap punggungku.
Berbagai cara dilakukan oleh ayah dan ibu untuk menghiburku. Mulai dari ibu yang memasaki bubur ayam favoritku sampai rencana ayah mengajakku liburan keluar kota.
Saat kami sedang memakan bubur, ayah mulai membicarakan tentang penyakitku. Kata ayah dia punya kenalan dokter yang mungkin bisa menyembuhkan penyakitku. Dan besok aku akan diantar ayah untuk menemuinya.
"Kita berdoa saja semoga berhasil disembuhkan, semalam ayah telepon dia katanya kemungkinan hamilnya masih besar kok."
"Beneran itu yah?."
"Iya bener, udah kamu jangan terlalu sedih mikirin ini. Ayah akan melakukan apapun sampai kamu sembuh,"
"Makasih ayah," kataku sambil memeluk ayah
Setidaknya aku masih memiliki keluargaku yang mau berjuang bersama untuk menyembuhkan penyakit ini.
BERSAMBUNG!
KAMU SEDANG MEMBACA
STAY
General FictionApa yang kamu lakukan jika pasanganmu tidak bisa menerima kekuranganmu, lepaskan atau bertahan ? ...... "Maaf Vio, kayanya aku engga bisa lagi ngelanjutin semua sama kamu" "Maksud kamu?" "Aku engga bisa lagi jadi suami kamu Vio, aku udah engga taha...
