10|- pencurian

24 3 0
                                    

Sudah cukup lama Albern menunggu gadis yang kini di hadapannya agar segera membuka matanya, namun nihil! Sampai sekarang dia belum juga sadar.

Albern berdecak sebal. Bahkan di sana juga tidak ada petugas PMR satu pun, kemana perginya mereka semua? Seolah memberikan kesempatan agar Albern terus berada di sana.

Baru saja Albern hendak mencoba untuk tertidur, erangan dari Gracia menggagalkan niatnya.

"Aku di mana?" Gracia memegangi kepalanya yang terasa masih pusing dengan mencoba untuk bangun.

"Lo udah sadar? Gimana kondisi lo?" Albern bertanya, namun yang menjadi titik pokus gracia adalah seperti ada rasa khawatir di sana.

"A-aku ngga papa."gracia sedikit tidak mengerti! Seingatnya tadi dia ada di lapangan? Lalu mengapa sekarang dia ada di UKS dengan ... Albern pula? Kalo ada yang tau bagaimana?

"Kamu kenapa ada di sini?" tanya Gracia. Dia hanya ingin memastikan apakah yang ada di pikirannya sekarang benar?

"Gue yang bawa lo ke sini."

Tuhkan. Benar saja! Ternyata Albern yang menolongnya.

"Makasih. Tapi lebih baik sekarang kamu pergi, aku juga udah sadar."

"Lo ngusir gue, setelah gue tolongin?" Albern bertanya tidak santai.

Sebenarnya gracia juga merasa tidak enak pada Albern! Tapi mau bagaimana lagi?

"Gue kan udah bilang, mulai sekarang lo bakalan lebih banyak waktu dengan gue. Apa lo lupa?" Albern menaikan alisnya.

"Tapi kenapa? Aku tidak punya urusan apa-apa sama kamu?" Gracia melontarkan pertanyaan yang sempat membuat otaknya menerka-nerka.

"Justru karena lo punya urusan sama gue."

Otak Gracia terus berpikir. Perasaan Gracia tidak mempunyai urusan dengan cowok ini! Tapi mengapa dia bilang seperti itu?

"Urusan apa?"Gracia bertanya bingung.

"Ck! Kepo." Bukannya menjawab Albern malah berdecak sebal.

"Aneh."

Gracia turun dari brankar dengan hati-hati. Keadaannya sekarang sudah aga sedikit mendingan. Bibirnya pun sudah tak sepucat tadi.

"Eh lo mau kemana?" Albern mencegah gracia yang hendak pergi dari sana.

"Aku mau ke kelas."

"Akibat pingsan ternyata mempengaruhi otak lo ya Grac. Ini udah istirahat pertama mau apa lo ke kelas?" Albern menggelengkan kepalanya.

"Yang penting aku ngga deket sama kamu." Gracia terus berjalan tanpa menghiraukan Albern.

"Emang di kelas lo punya temen?" Albern bertanya dengan Sura yang sedikit keras supaya gracia yang sudah berada di depan pintu keluar dapat mendengar nya.

"Gracia tungguin Gue." Albern berlari dari tempatnya mengejar Gracia yang berjalan pelan.

"Jangan ikutin aku, Albern!" ucap gracia menghentikan langkahnya.

"Gue cuman mau temenin lo."

"Ngga usah Al." Gracia menolaknya dengan halus.

"Albern!"

Saat Albern hendak membalas ucapan Gracia. Dava temen sekelasnya memanggil.

"Apa?" Albern bertanya dengan kesal karena telah mengganggunya.

"Lo kenapa ngga masuk tadi? Lo lupa kalo kemarin lo yang pegang kunci ruangan music? Tadi Bu Ana nyariin lo Al."

Mendengar penjelasan Dava Albern merasa bersalah pada guru itu karena telah membuatnya pusing. Sungguh Albern lupa kalo kemarin dia yang pulang telat karena ketiduran di ruangan music sehabis latihan, alhasil Albern yang membawa kuncinya karena saat itu di sana sudah tidak ada siapa-siapa, selain Dava dan teman-temanya yang sedang latihan putsal.

Game Of Destiny [END✓]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang